Babakan Gunung Gede, Bagunde 17, BOGOR

Oleh : Nurul Jannah*)

Rumah itu mungkin tak pernah masuk daftar bangunan bersejarah. Tak ada plakat yang menandainya. Tak ada wisatawan yang datang untuk berfoto. Namun bagi kami, di sanalah sejarah paling indah dalam hidup pernah dimulai.

Bogor, 1987.

Hujan baru saja berhenti. Udara masih menyisakan aroma tanah yang basah. Di sebuah rumah sederhana di kawasan Bagunde, Babakan Gunung Gede Bogor, satu per satu gadis belasan tahun datang dengan langkah yang masih canggung.

Ada yang turun dari mobil sambil memeluk koper. Ada yang berkali-kali menoleh ke arah orang tua yang mengantar. Ada pula yang diam-diam mengusap air mata sebelum memasuki rumah itu.

Kami baru saja lulus SMA. Belum genap mengenal dunia. Belum pernah hidup jauh dari keluarga. Belum pernah tidur tanpa suara ibu yang membangunkan salat Subuh.

Hari itu adalah perjalanan merantau pertama dalam hidup kami. Masih teringat wajah Ibu ketika membereskan pakaianku.

“Nak… kalau rindu rumah, jangan langsung pulang. Berdoalah dulu. Allah selalu lebih dekat daripada rumah.”

Aku hanya bisa mengangguk. Saat itu aku belum memahami betapa beratnya menjadi anak rantau.

Rumah kos itu bernama Bagunde 17.

Bangunannya sederhana. Cat temboknya biasa saja. Lantainya tak mengilap. Namun di rumah itulah Allah mempertemukan dua belas gadis dari berbagai penjuru Indonesia.

Monik, Nanda, dan Taink dari Medan. Ning dari Pandeglang, Banten. Aku dan Budiwati dari Solo. Elza dari Padang. Yanti dari Demak. Trissy dari Malang. Ririn, Yuni dan Ana dari Pamekasan, Madura.

Dua belas gadis. Dua belas logat. Dua belas kebiasaan. Dua belas keluarga yang berbeda. Namun hanya satu atap. Satu meja makan. Satu mimpi.

Kami ingin belajar. Kami ingin menjadi orang yang membanggakan keluarga.

Pemilik rumah kos kami, Mbak Riris, usianya hanya terpaut beberapa tahun dari kami. Beliau bukan sekadar pemilik kos. Beliau menjadi kakak. Kadang menjadi penengah ketika kami berbeda pendapat. Kadang menjadi tempat mengadu ketika rasa rindu rumah datang tanpa permisi.

BACA JUGA :  Delapan Bulan Bertaruh Nyawa, Jembatan Anduriang Kembali Bisa Dilintasi Warga

Di sekitar Bagunde 17, semuanya terasa dekat. Kampus. Tempat fotokopi. Warung makan. Dan yang paling melegenda. Warung Burjo Medi.

Warung kecil itu hampir menjadi ruang keluarga kedua. Suatu malam kami datang beramai-ramai. Medi langsung tertawa.

“Wah… pasukan Bagunde datang lagi.”

“Burjonya dua belas ya, harga mahasiswa.”

Kami makan sambil saling bercerita. Tentang kuliah. Tentang dosen favorit. Tentang dosen killer. Tentang uang kiriman yang mulai menipis. Tentang rindu rumah.

Serunya, tidak pernah ada yang merasa miskin. Karena kami selalu kaya oleh kebersamaan.

Karena penghuni cukup banyak, kami sepakat mempekerjakan seorang bibik. Beliau memasak. Membersihkan rumah. Menyapu halaman. Dan diam-diam ikut menjadi ibu bagi dua belas anak rantau.

Namun ada satu peristiwa yang selalu membuat rumah itu mendadak ramai. Kiriman dari rumah.

Begitu terdengar suara,

“Paket… paket…”

Seluruh pintu kamar langsung terbuka.

“Dari siapa?”
“Padang?”
“Demak?”
“Medan?”
“Malang?”
“Madura?”
“Solo?”

Belum sempat pemilik paket membuka kardusnya, yang lain sudah berkumpul. Aroma rendang khas Padang memenuhi ruang. Lalu sambal khas Medan. Jenang dari Jawa. Kerupuk dari Madura. Kue-kue buatan ibu. Tak ada yang berkata,

“Ini punyaku.”

Yang terdengar selalu sama.

“Ayo… kita makan bareng.”

Saat itu kami belum menyadari, bahwa yang sedang kami bagi bukan hanya makanan. Melainkan rasa rindu rumah.

Hari-hari berlalu begitu cepat. Pagi kuliah. Siang praktikum. Malam belajar bersama.

Kadang listrik padam. Kami belajar diterangi lilin. Kadang ada yang menangis karena nilai ujian. Yang lain langsung duduk di sampingnya.

“Sudah, nanti belajar bareng lagi yang lebih serius ya.”

Kalau ada yang demam, semua ikut sibuk. Ada yang membuat bubur. Ada yang membeli obat. Ada yang mengompres. Ada yang menemani sampai tertidur. Tak pernah ada jadwal. Tak pernah ada perintah. Semua mengalir karena kasih sayang.

Setelah melewati Tingkat Persiapan Bersama, tibalah saat kami harus memilih jalan masing-masing. Memilih jurusan dan fakultas sesuai minat masing-masing. Masih di IPB hanya berbeda jurusan dan fakultas.

BACA JUGA :  Hidup Bagai Pertandingan Sepakbola

Aku memilih Sosial Ekonomi Pertanian. Elza melanjutkan ke Agrometeorologi. Nanda, Monik, Ririn, Yuni, Ana, Budiwati, Trissy, Yanti, Ning dan Taink menuju Gizi Masyarakat, Kehutanan, Agronomi, Peternakan serta Kedokteran Hewan.

Hari itu koper kembali ditutup. Namun kali ini rasanya jauh lebih berat.

Kami berdiri di depan rumah. Tak banyak kata.

Nanda berbisik, “Kalau nanti sudah berpisah, jangan lupa sesekali main ke Bagunde ya.”

Tak ada yang mampu menjawab. Kami hanya saling memeluk. Pelukan yang terasa terlalu singkat untuk sebuah perpisahan.

Lalu hidup membawa kami ke arah masing-masing.

Ada yang menjadi dosen. Ada yang menjadi peneliti. Ada yang menjadi ASN. Ada yang berkarya di berbagai bidang. Ada yang menjadi ibu rumah tangga yang luar biasa.

Anak-anak kami tumbuh. Menikah. Menghadiahkan cucu. Grup WhatsApp kami berubah isi. Dulu tentang tugas kuliah. Kini tentang menantu. Tentang cucu. Tentang kesehatan. Tentang doa.

Kadang kabar bahagia datang. Kadang kabar duka mengetuk pintu.

Ada sahabat yang harus mengikhlaskan pasangan hidupnya berpulang. Kami memang tak mampu menghapus kehilangan itu. Namun kami ingin memastikan bahwa ia tidak pernah menghadapi malam-malam panjang sendirian.

“Kami ada…”

Hanya dua kata. Namun sering kali dua kata itu lebih kuat daripada seribu nasihat. Allah masih sangat baik kepada kami.

Beberapa kali kami dipertemukan kembali. Di rumahku. Di rumah Ririn. Di rumah Taink.

Dan setiap kali bertemu, tak pernah terasa canggung. Kami kembali menjadi gadis-gadis Bagunde. Masih saling menggoda. Masih tertawa sampai lupa waktu. Masih berebut makanan. Masih mengulang cerita yang sama.

Seolah usia hanya angka.

Kini aku sadar, Bagunde 17 tidak pernah mengajarkan kami cara menjadi orang hebat. Bagunde 17 mengajarkan kami cara menjadi manusia. Cara berbagi. Cara mendengar. Cara menunggu. Cara memaafkan. Cara menguatkan. Cara mencintai tanpa syarat.

BACA JUGA :  Siswa SMA Al-Istiqomah Simpang Empat Ikuti Sosialisasi Narkoba

Hari ini, jika ada yang bertanya apa warisan paling berharga dari masa kuliah di IPB, jawabannya bukan ijazah. Bukan juga gelar. Apalagi pekerjaan.

Warisan terindah itu bernama persahabatan. Persahabatan yang tetap saling mencari ketika kabar menghilang. Persahabatan yang tetap saling mendoakan ketika jarak memisahkan.

Persahabatan yang ikut menangis ketika satu hati terluka. Dan ikut bersyukur ketika satu doa dikabulkan.

Ya Allah, Terima kasih telah mempertemukan kami di Bagunde 17. Rumah kecil yang mengajarkan arti keluarga. Rumah sederhana yang melahirkan persaudaraan.

Rumah yang hingga hari ini masih kami pulangi, meski hanya melalui kenangan.

Dan bila kelak Engkau memanggil kami satu per satu, semoga tidak ada perpisahan yang benar-benar menjadi akhir.

Semoga setelah reuni-reuni kecil di dunia, Engkau kembali mempertemukan kami dalam perjumpaan yang paling indah, di taman-taman surga-Mu. Di sana tidak ada lagi koper yang harus dikemas, tidak ada air mata perpisahan, tidak ada kata “selamat tinggal”. Yang ada hanyalah senyum, pelukan, dan syukur yang tak pernah berakhir.

Mungkin itulah sebabnya Allah mempertemukan kami pada tahun 1987 di rumah kos Bagunde 17, Babakan Gunung Gede, Bogor. Pertemuan itu bukan hanya untuk mengantarkan kami meraih gelar sarjana.

Lebih dari itu, Allah sedang mengajarkan sebuah pelajaran yang jauh lebih berharga: bahwa ilmu akan membuka jalan menuju masa depan, sedangkan persahabatan yang dibangun di atas ketulusan akan menjaga hati, saling menguatkan sepanjang perjalanan hidup, dan insya Allah menjadi jalan untuk kembali dipertemukan di surga-Nya❤️.

Bogor, 17 Juli 2026

Dosen IPB University, penulis dan penggiat literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *