Buitenzorg, Bogor

Oleh: Nurul Jannah*)

Tidak semua cinta lahir pada pandangan pertama. Ada cinta yang tumbuh perlahan, di antara hujan yang tak pernah bosan menyapa, pepohonan yang setia berdiri, jalan-jalan yang saban hari dilalui, dan waktu yang diam-diam mengubah sebuah kota menjadi rumah.

Dan, ketika cinta itu akhirnya bersemi, kita tak lagi bertanya mengapa. Kita hanya tahu, sebagian hati telah tertinggal di sana.

Aku tidak dilahirkan di Bogor. Aku juga tidak menghabiskan masa kecil di kota ini.

Namun justru di sinilah aku bertumbuh. Di sinilah Allah perlahan membentuk diriku menjadi perempuan yang hari ini berdiri menatap kehidupan dengan cara yang berbeda.

Selepas lulus SMA, aku meninggalkan Solo dengan sebuah koper sederhana, doa-doa Ayah dan Ibu, serta mimpi-mimpi yang masih mencari arah.

Sebelum keberangkatan, kakak tertuaku berkata sambil tersenyum,

“Subhanallah, kamu akan tinggal di kota yang sangat elok. Bogor, kota Hujan. Kota yang paling romantis.”

Aku hanya tersenyum kecil. Saat itu aku belum memahami bagaimana mungkin hujan dapat membuat sebuah kota begitu dicintai.

Namun begitu kendaraan mulai memasuki Bogor, jawabannya hadir tanpa perlu dijelaskan.

Udara sejuk lebih dahulu memelukku. Kabut tipis menggantung di kejauhan. Pepohonan tua berjajar anggun di kanan dan kiri jalan, seolah menyambut setiap pendatang dengan keramahan yang tak memerlukan kata-kata.

Lalu hujan turun. Perlahan. Lembut. Teduh. Bukan hujan yang membuat orang ingin berlari mencari tempat berteduh.

Melainkan hujan yang mengajak siapa pun memperlambat langkah, menarik napas lebih dalam, lalu menikmati hidup dengan cara yang lebih sederhana.

Baca juga:  Delapan Bulan Bertaruh Nyawa, Jembatan Anduriang Kembali Bisa Dilintasi Warga

Sejak hari itu, tanpa kusadari, aku mulai jatuh cinta kepada Bogor.

Bogor bukan kota yang gemar memamerkan kemegahan. Ia memikat dengan kesederhanaannya.

Dengan jalan-jalan yang dinaungi pepohonan rindang.

Dengan aroma tanah yang menguar setiap kali hujan usai.

Dengan embun yang masih bertahan di ujung dedaunan ketika matahari mulai menyapa.

Dengan langit kelabu yang justru menghadirkan rasa damai.

Di jantung kota berdiri Kebun Raya Bogor. Sebuah hamparan hijau yang telah menjadi paru-paru dan napas kota selama lebih dari dua abad. Pepohonan raksasa menjulang ke langit, jalan setapak membelah rindangnya pepohonan, dan setiap sudutnya mengajak kita berhenti sejenak untuk mendengarkan bisikan alam.

Tak heran bila sejak dahulu kawasan ini memikat banyak hati.

Pada masa Hindia Belanda, Bogor diberi nama Buitenzorg.

Artinya, “bebas dari beban” atau “tempat beristirahat dari hiruk-pikuk kehidupan.”

Konon, para gubernur jenderal memilih Bogor sebagai tempat beristirahat karena udaranya yang sejuk dan lanskapnya yang indah memesona.

Ketika pertama kali mengetahui arti nama itu, aku tersenyum. Karena, justru di kota inilah aku memikul begitu banyak beban kehidupan.

Di Bogor aku belajar hidup mandiri. Belajar berjuang. Belajar gagal. Belajar bangkit. Belajar menerima kenyataan yang tidak selalu sesuai harapan.

Dan belajar bahwa keberhasilan hampir selalu lahir dari perjalanan yang panjang, penuh air mata, dan tak jarang diiringi doa yang dipanjatkan dalam diam.

Di kota inilah aku menempuh pendidikan di Institut Pertanian Bogor (IPB), yang saat ini dikenal sebagai IPB University. Kampus yang mempertemukan ribuan anak muda dari berbagai penjuru Nusantara.

Baca juga:  Sampah Bernilai Emas, Warga Koto Rantang Antusias Sambut Rencana Pembentukan Bank Sampah dan Tabungan Emas

Kami datang dengan logat yang berbeda. Budaya yang berbeda. Kebiasaan yang berbeda.

Namun dipersatukan oleh mimpi yang sama. Di ruang-ruang kuliah, persahabatan tumbuh. Di perpustakaan, cita-cita dipupuk. Di laboratorium, rasa ingin tahu berkembang. Di kantin sederhana, tawa dibagikan.

Di kota inilah aku belajar bahwa pendidikan bukan hanya mengasah kecerdasan, melainkan juga membentuk keteguhan hati untuk menghadapi kehidupan.

Puluhan tahun telah berlalu.

Aku telah berkelana ke berbagai kota. Bahkan pernah tinggal di negeri yang jauh.

Namun setiap kali kendaraan memasuki Bogor, selalu ada rasa yang sulit kujelaskan. Udara sejuk itu seperti mengungkapkan rasa hati,

“Selamat datang kembali, terima kasih karena masih menyempatkan diri untuk pulang.”

Aku sering berjalan selepas hujan. Menghirup aroma tanah yang basah. Memandangi pepohonan yang bergoyang perlahan.

Lalu diam-diam berbisik penuh syukur,

“Terima kasih, Bogor.”

Terima kasih telah menjadi rumah ketika aku jauh dari kampung halaman.

Terima kasih telah mempertemukanku dengan guru-guru terbaik.

Terima kasih telah menghadiahkanku sahabat-sahabat yang bertahan puluhan tahun.

Terima kasih telah menjadi saksi doa-doa yang kupanjatkan, air mata yang kusembunyikan, dan mimpi-mimpi yang perlahan Allah wujudkan.

Kini aku memahami, Buitenzorg bukan berarti hidup tanpa beban.

Bagiku, Buitenzorg adalah tempat yang mengajarkan bagaimana memikul beban tanpa kehilangan ketenangan.

Di kota ini aku belajar bahwa hujan tidak selalu menghadirkan mendung. Sering kali justru membawa kesuburan.

Seperti ujian yang diam-diam menumbuhkan kekuatan.

Baca juga:  ATR/BPN Luruskan Isu Tanah Ulayat: Bukan untuk Dijadikan Tanah Negara

Dan jika suatu hari nanti langkahku benar-benar harus meninggalkan Bogor untuk selamanya, aku yakin akan selalu ada bagian dari hatiku yang menetap di kota ini.

Di bawah rindangnya pepohonan Kebun Raya.

Di jalan-jalan yang basah oleh hujan.

Di lorong-lorong kampus yang menyimpan begitu banyak mimpi.

Di udara sejuk yang selalu mengajarkan keteduhan.

Sebab pada akhirnya, rumah bukanlah tempat kita dilahirkan. Rumah adalah tempat yang membentuk jiwa, menguatkan langkah ketika kita rapuh, memeluk luka tanpa banyak bicara, dan mengajarkan arti syukur dalam setiap musim kehidupan.

Dan jika kelak, pada penghujung usia, aku diminta menyebut satu kota yang paling setia menyimpan jejak langkahku, aku akan menjawab tanpa ragu: _Buitenzorg, Bogor.

Karena di kota inilah aku bukan hanya belajar mengejar cita-cita. _Di kota inilah aku belajar menerima kehidupan apa adanya.

Belajar bertahan ketika badai datang. Belajar bersyukur ketika hujan turun. Dan belajar bahwa cinta yang paling dalam sering kali tumbuh perlahan, hingga tanpa sadar, sebuah kota telah menjadi bagian dari doa yang selalu ingin kita pulang. 💓💕💙

Bogor, 15 Juli 2026

Dosen IPB University, penulis dan penggiat literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *