Sepuluh Bekal Keselamatan Menuju Kedekatan dengan Allah

Oleh Prof. Asasriwarni

DALAM kehidupan modern, ukuran kesuksesan sering kali diidentikkan dengan kekayaan, jabatan, popularitas, atau pencapaian materi.

Padahal, dalam pandangan Islam, kemuliaan seseorang bukanlah ditentukan oleh apa yang dimilikinya, melainkan oleh kualitas iman, akhlak, dan ketakwaannya kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa yang menjadi ukuran di sisi Allah bukanlah penampilan atau kekayaan, melainkan kebersihan hati dan amal saleh.

Dalam kitab Nashaaihul ‘Ibad, dinukil sebuah nasihat yang dinisbahkan kepada Khalifah pertama, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Beliau menyatakan bahwa seorang hamba yang dianugerahi Allah sepuluh perkara akan selamat dari berbagai keburukan, termasuk golongan muqarrabin (orang-orang yang dekat kepada Allah) dan memperoleh derajat muttaqin (orang-orang yang bertakwa).

Kesepuluh perkara tersebut bukan sekadar sifat-sifat terpuji, tetapi merupakan bekal hidup bagi setiap muslim yang mendambakan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Pertama, kejujuran yang disertai sifat qana’ah atau merasa cukup atas rezeki yang Allah berikan. Kejujuran akan semakin bernilai ketika seseorang tidak diperbudak oleh kerakusan terhadap dunia.

Kedua, kesabaran yang selalu diiringi rasa syukur. Hidup adalah silih bergantinya nikmat dan ujian. Dengan bersabar saat diuji dan bersyukur ketika diberi nikmat, seorang mukmin akan senantiasa berada dalam kebaikan.

Baca juga:  Menjemput Bahagia

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Seluruh urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kesenangan ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim).

Selanjutnya adalah sikap fakir yang dihiasi zuhud, berpikir dengan jiwa yang sederhana, rasa takut kepada Allah, tawadhu’ dalam setiap amal, kelembutan yang dipenuhi kasih sayang, cinta kepada Allah yang dibingkai rasa malu (haya’), ilmu yang terus diamalkan, serta iman yang kokoh yang dibimbing oleh akal yang sehat.

Kesepuluh sifat tersebut saling melengkapi. Ilmu tanpa amal tidak akan membawa manfaat. Amal tanpa keikhlasan akan kehilangan nilainya. Iman tanpa akhlak akan terasa hampa, sementara akhlak tanpa iman kehilangan arah.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Hadis ini mengingatkan bahwa ilmu yang dicari dengan ikhlas harus melahirkan amal dan akhlak yang semakin mendekatkan seorang hamba kepada Allah.

Baca juga:  Keresahan Orang Tua di Tengah SPMB 2026: Antara Transparansi Sistem, Validasi Data, dan Harapan Anak Bersekolah

Nasihat Abu Bakar Ash-Shiddiq ini sejatinya merupakan peta perjalanan seorang mukmin. Jika kejujuran, qana’ah, sabar, syukur, zuhud, tawadhu’, kasih sayang, rasa malu, ilmu yang bermanfaat, serta iman yang kokoh mampu kita pelihara, insya Allah kita akan menjadi pribadi yang dicintai Allah dan bermanfaat bagi sesama.

Di tengah kehidupan yang penuh godaan, nasihat ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati bukanlah banyaknya harta, melainkan hati yang tenang karena dekat dengan Allah SWT.

Semoga Allah SWT menghiasi hati kita dengan akhlak yang mulia, menguatkan iman kita, memudahkan kita mengamalkan ilmu, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan dekat dengan-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin’. []

Penulis adalah Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Sumbar, Anggota Wantim MUI Pusat, A’wan PB NU Pusat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *