Lima Hari di Sulsel, Bertemu Ribuan Orang, Tak Terhitung Kebaikan

Dr. Aqua Dwipayana ketika memberikan sharing komunikasi dan motivasi di Bank Sulselbar Cabang Gowa. (Foto istimewa)

Catatan Perjalanan Dr. Aqua Dwipayana *)

Senin pagi, 3 Agustus 2026, saya menginjakkan kaki di Sulawesi Selatan.

Jumat malam, 7 Agustus 2026, saya meninggalkan daerah yang dikenal sebagai Bumi Anging Mamiri itu.

Hanya lima hari.

Namun, bagi saya, lima hari tersebut bukan waktu yang singkat.

Begitu banyak pertemuan. Begitu banyak wajah baru. Begitu banyak cerita. Begitu banyak pelajaran.

Dan yang paling penting, begitu banyak kesempatan untuk menebar kebaikan melalui silaturahim dan berbagi ilmu serta pengalaman.

Selama lima hari itu, perjalanan saya tidak hanya berpusat di Makassar. Saya bergerak dari satu daerah ke daerah lainnya.

Sedikitnya ada 10 kabupaten/kota yang saya datangi: Bantaeng, Jeneponto, Takalar, Gowa, Maros, Pangkep, Barru, Parepare, Pinrang, dan Sidrap.

Jarak yang ditempuh cukup panjang.
Agenda juga padat.

Tetapi saya menjalaninya dengan senang hati.

Mengapa?

Karena saya meyakini satu hal: ketika kita melakukan sesuatu dengan niat ibadah dan ikhlas, insya Allah rasa lelah akan kalah oleh rasa syukur.

Semua Orang Adalah Guru

Selama di Sulsel, saya bertemu ribuan orang.

Sebagian besar merupakan orang-orang yang baru pertama kali saya jumpai. Menariknya, hampir tidak ada jarak di antara kami.

Pertemuan yang seharusnya terasa formal bisa berubah menjadi akrab dan hangat.

Saya selalu berusaha datang kepada setiap orang dengan pikiran positif.

Saya tidak melihat latar belakangnya. Tidak melihat jabatan. Tidak melihat status sosial.

Bagi saya, semua manusia harus dihormati dan dihargai.

Bahkan sebelum bertemu, saya selalu menanamkan niat dalam hati: Orang yang akan saya temui adalah guru saya.

Karena itu saya berusaha menyimak.
Bukan hanya mendengar apa yang mereka katakan.

Saya juga belajar dari ekspresi wajah, bahasa tubuh, cara mereka menyambut, cara mereka berbicara, dan cara mereka memperlakukan orang lain.

BACA JUGA :  Doni Harsiva Yandra Sosialisasikan Perda Penanggulangan Bencana di Bayang Utara, Ajak Warga Tingkatkan Kesiapsiagaan

Banyak sekali ilmu kehidupan yang bisa kita dapatkan jika kita mau merendahkan hati untuk belajar.

Kadang-kadang guru terbaik justru orang yang tidak pernah menyebut dirinya guru.

Undangan Adalah Lahan Ibadah

Selama berada di Sulsel, saya mendapat amanah melaksanakan delapan sesi Sharing Komunikasi dan Motivasi.

Dimulai Selasa pagi di Jeneponto dan berakhir Jumat pagi di Pinrang.

Lokasinya meliputi Jeneponto, Takalar, Gowa, Makassar, Maros, Pangkep, Barru, dan Pinrang.

Ada hari ketika saya harus memberikan tiga sesi di tiga daerah berbeda.

Selasa, misalnya, saya berada di Jeneponto, Takalar, dan Makassar.

Kamis kembali marathon. Saya berbagi di Maros, Pangkep, dan Barru.

Dari pagi sampai malam.

Berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Secara manusiawi tentu melelahkan. Namun, saya menikmatinya.

Setiap kali ada yang mengundang saya untuk berbagi, saya justru mengucapkan terima kasih kepada mereka.

Mungkin cara berpikir ini agak berbeda. Biasanya orang yang diundang yang berterima kasih kepada pihak yang mengundang.

Saya justru berpikir sebaliknya.

Mereka telah memberikan lahan ibadah kepada saya.

Mereka telah memberi kesempatan kepada saya untuk menyampaikan sesuatu yang mudah-mudahan bermanfaat bagi orang lain.

Karena itu, amanah tersebut harus saya jalankan sebaik mungkin.

Begitu berada di depan peserta, saya tidak ingin menyia-nyiakan waktu.

Saya langsung tancap gas.

Saya berusaha memberikan energi terbaik.

Berbagi pengalaman terbaik.

Menyampaikan ilmu yang saya miliki. Dan memberikan motivasi sebanyak-banyaknya.

Saya selalu memegang prinsip: Kalau sudah diberi kesempatan untuk berbagi, jangan setengah-setengah. Berikan yang terbaik.

Silaturahim Menghadirkan Rezeki yang Tak Terduga

Ada hal menarik yang kembali saya rasakan selama perjalanan di Sulsel. Selain delapan sesi Sharing Komunikasi dan Motivasi yang telah dilaksanakan, saya juga mendapat komitmen untuk melaksanakan kegiatan serupa di sejumlah tempat.

BACA JUGA :  Olahraga Sambil Bayar Pajak, Warga Padang Dapat Bendera Merah Putih di Samsat CFD

Instansinya berbeda.

Jumlah kegiatannya bahkan lebih banyak. Karena agenda saya sudah padat, pelaksanaannya harus ditunda.

Insya Allah, paling cepat bulan depan akan direalisasikan.

Saya melihatnya sebagai rezeki. Rezeki yang datang melalui pintu silaturahim. Dan rezeki itu datang tanpa saya rencanakan sebelumnya.

Pengalaman seperti ini bukan sekali dua kali saya alami.

Sudah puluhan tahun saya berusaha konsisten bersilaturahim tanpa pamrih. Saya telah membuktikannya ribuan kali.

Silaturahim yang dilakukan dengan ikhlas memberikan manfaat yang luar biasa.

Kadang-kadang manfaatnya berupa kesempatan.

Kadang berupa persahabatan.

Kadang berupa ilmu.

Kadang berupa kepercayaan.

Kadang pula membuka pintu rezeki yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan. Nilainya jauh melampaui materi.

Itulah sebabnya saya mengatakan bahwa saya ketagihan bersilaturahim.

Bukan ketagihan mendapatkan sesuatu. Tetapi ketagihan mendapatkan kesempatan untuk berbuat baik dan memberikan manfaat.

Jangan Sia-siakan Waktu dan Kesempatan

Saya sering merasa prihatin melihat orang yang memiliki banyak waktu, tenaga, kesempatan, bahkan materi, tetapi enggan bersilaturahim.

Padahal, kesempatan itu tidak selalu datang dua kali.

Bahkan, bisa jadi kesempatan yang hari ini kita abaikan merupakan pintu menuju kebaikan yang sangat besar.

Silaturahim tidak harus selalu mahal. Tidak harus selalu dalam acara besar. Tidak harus selalu bertemu dengan orang-orang penting.

Menyapa.

Mengunjungi.

Menanyakan kabar.

Mendengarkan.

Memberikan perhatian.

Membantu ketika mampu.

Semua itu bagian dari silaturahim. Yang penting adalah niatnya.

Jangan hitung apa yang akan kita dapatkan dari silaturahim. Hitunglah kebaikan apa yang bisa kita berikan.

Insya Allah, ketika kita tidak menghitung-hitung balasan, Allah yang akan menghitungnya untuk kita.

Pulang Membawa Saudara

Lima hari di Sulawesi Selatan akhirnya selesai.

Saya meninggalkan Sulsel dengan membawa kesan yang sangat mendalam.

BACA JUGA :  Sambut HUT RI ke-81, ASN Kankemenag Pasbar Gelar Gebermas

Saya datang dengan membawa agenda.

Saya pulang membawa saudara.

Saya datang untuk berbagi.

Saya pulang dengan membawa lebih banyak pelajaran.

Saya datang menemui orang-orang yang sebelumnya tidak saya kenal.

Saya pulang dengan membawa begitu banyak nama dan wajah yang insya Allah akan terus berada dalam ingatan.

Itulah indahnya silaturahim.

Kita tidak pernah benar-benar tahu kapan sebuah pertemuan akan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup kita.

Karena itu, jangan pernah meremehkan pertemuan.

Jangan pernah meremehkan orang yang baru kita kenal.

Jangan pernah merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Bisa jadi orang yang baru kita temui justru membawa pelajaran yang sangat kita butuhkan.

Saya Akan Kembali

Saya ingin kembali ke Sulawesi Selatan.

Bukan hanya karena keindahan daerahnya.

Bukan hanya karena keramahan masyarakatnya.

Tetapi karena di sana saya menemukan begitu banyak manusia baik yang memberikan pengalaman dan pelajaran berharga.

Saya ingin melanjutkan silaturahim.

Memeliharanya.

Menguatkannya.

Semoga pertemuan-pertemuan berikutnya semakin banyak memberikan manfaat.

Saya ingin terus menjalani perjalanan ini dengan satu keyakinan sederhana:

Silaturahim bukan sekadar bertemu.

Silaturahim adalah cara kita merawat persaudaraan, memperluas manfaat, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Karena itu, saya ingin terus melakukannya.

Terus berjalan.

Terus bersilaturahim.

Terus berbagi.

Terus belajar.

Dan terus menebar kebaikan. Semata-mata karena Allah SWT, bukan karena yang lain.

Aamiin ya Robbal ‘alamin. []

Penulis adalah Pakar Komunkasi dan Motivator Nasional *)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *