
Oleh : Rang Chaniago*)
SEJAK menang lotere, tiga purnama lalu, Malanca mulai berubah kurenahnya. Biasanya minum kopi pahit setengah gelas, sekarang sudah minum kopi susu atau teh talua segelas penuh.
Kalau rokok biasanya dibeli per batang itupun seharga Rp 1.000. Kini kemasan rokoknya bergambar kuda berharga hampir Rp 50.000.
Ya, Malanca benar-benar merasa di atas angin, malah kadang – kadang angin itu sendiri yang ditungganginya, meski tokoh yang satu ini masih akrab dengan parfum yang menjadi ciri khasnya yaitu minyak angin.
Malanca sekarang tak lagi sama dengan Malanca sebelumnya. Baju kaos partai yang identik dengannya, raib entah kemana.
Begitupun dengan sandal upiah yang tinggal menunggu nasib terputus dari bodynya juga tak diketahui kemana rimbanya.
Seiring dengan perubahan itu, kurenah Malanca pun menjadi – jadi. Berjalan tak lagi di tepi, tapi maenggak-enggak bak layangan penggak.
Upiak Leha yang biasanya suka membully Malanca, kini kehabisan kata-kata untuk menjatuhkan mental bujang lapuk ini.
”Oi Leha, telah kacau sekali penampilan mu, sekali – sekali pergilah ke salon untuk mematut diri. Ini keluar bau asap, malulah dengan bayang-bayang,” ujar Malanca sambil memperhatikan Upiak Leha dari ujung kaki ke ujung rambut.
Upiak Leha hanya bisa melongo dan terdiam seribu basa, menurut pemikirannya, Malanca telah mulai menjadi orang dan peduli dengan sesama.
Setiap bertemu orang, lain saja yang diperintah Malanca. Mulai dari cat rumah yang sudah pudar, kandang anjing yang tak terkunci hingga buah kelapa yang harus dipetik.
Ada saja yang ditunjuk dan diperintah Malanca. Makin hari, makin banyak saja orang yang membicarakannya.
Begitupun saat menyeruput teh talua tapai di kedai Tek Sina, Malanca benar-benar menunjukkan kuasanya.
”Tek, ambilkan air putih ngilu-ngilu kuku segelas,” ucap Malanca yang biasanya langsung ke dapur.
Tek Sina sebenarnya biasa saja dan menganggap itu sebuah kewajaran. Bahkan saat Malanca minta tambah air, pun dianggap hal biasa
Namun kesabaran janda beranak tiga ini sampai juga ke ubun-ubunnya saat Malanca minta diambilkan goreng pisang yang hanya berjarak tak sampai satu meter dari tempat duduknya.
”Berlain benar waang sekarang Malanca, baru menang lotere sekali rasa sudah tak tau guna orang,” kata Tek Sina kesal.
”Pembeli itu raja, Tek. Tak usah banyak omong, tinggal diambilkan habis perkara,” balas Malanca tak mau kalah.
”Oi Buyuang, sekarang pandai waang main perintah dan main tunjuk. Waang lupa, lontong pical dan rokok setengah bungkus pekan lalu, sampai sekarang belum waang bayar,” umpat Tek Sina yang mulai tabik suga.
”E, e e Kenapa sampai berbusa busa Etek bicara. Hutang pasti dibayar, saya permisi dulu,” Malanca menjawab sambil pamit.
Sambil menyusul Malanca dengan sendok penggorengan di tangan, Tek Sina berbicara dengan suara keras.
”Enak benar waang pergi, waang kira ndak bermodal galas saya,” seringai Tek Sina dengan bahasa yang campur aduk.
”Bukan tidak dibayar, tapi bon dulu. Itu Badrun mintak kopi dari tadi,” Malanca kembali berkilah sambil menunjuk Kedai Tek Sina.
Ajaib, Tek Sina yang terpengaruh dengan tunjuk kida Malanca, pun menolehkan kepalanya ke dalam.
Saat bersamaan, Malanca yang telah jadi tukang tunjuk kabur sambil mendayung sepeda unto peninggalan kakek dari Ibunya dulu. []
Penulis telah malang melintang di dunia jurnalistik tanah air, pernah mengabdi di Tempo, Jawa Post dan Monitor Depok, menulis biografi sejumlah tokoh dan penulis serial Sutan Batawi*)
