Oleh : Shintalya Azis*)
Ada satu istilah yang sering terdengar dari kalangan pekerja, “Kami ini cuma kaum kroco mumet.” Sebuah ungkapan yang lahir bukan karena rendah diri, melainkan karena lelah menghadapi kerasnya kehidupan.
Setiap pagi mereka bangun sebelum matahari terbit. Dan berangkat dengan satu tujuan sederhana, yakni memastikan dapur tetap mengepul agar dapat bertahan hingga akhir bulan.
Mereka tidak sempat memikirkan berbagai jenis strategi besar, komisi, kolusi, apalagi koalisi. Yang memenuhi benak mereka hanyalah satu pertanyaan, “Bagaimana hari ini bisa membawa pulang rezeki yang halal?”
Mungkin ini hidup yang sederhana. Bahkan sebutan kroco mumet menjadi bahan guyonan. Namun justru di sanalah tersimpan kemewahan hidup yang tak dimiliki oleh sembarang orang, yaitu kejujuran.
Hal yang tidak selalu dimiliki oleh mereka yang hidup bergelimang harta, jujur terhadap diri sendiri, terhadap sekitar dan takdir yang dijalani.
Tubuh boleh dipenuhi oleh peluh bercampur debu. Tetapi hati tetap bersih. Lugu dalam bekerja, namun jujur dalam berpikir. Rezeki yang berkah lebih bernilai daripada kekayaan yang diperoleh dengan cara yang curang.
Ironisnya, di sisi lain terdapat sebagian kalangan elite yang begitu fasih mengucapkan kata kolaborasi. Kata yang terdengar indah dalam pidato di berbagai rapat, tetapi tidak jarang berubah menjadi kedok untuk berkolusi.
Kolusi dibungkus dengan nama kerjasama. Kerja yang sama-sama untuk menguntungkan diri sendiri atau kelompoknya sendiri.
Berbagi akses, permainan proyek, dan kekuasaan dipelihara. Bukan untuk kemaslahatan bersama, melainkan demi keuntungan yang lebih besar bagi diri dan lingkarannya. Sementara batas siluman dibuat demi menyamarkan halal haram yang dihantam.
Mereka memburu harta, jabatan, dan pengaruh. Seolah semua itu akan mendatangkan penghormatan.
Padahal kehormatan yang dibangun di atas ketidakjujuran hanyalah kemewahan yang rapuh. Mungkin tampak mengagumkan di hadapan manusia, tetapi tidak ada nilainya di hadapan Tuhan.
Faktanya, bangsa ini berdiri dan bertahan bukan semata karena kecerdasan para elite. Negeri ini justru disangga oleh jutaan “kaum kroco mumet” yang setiap hari bekerja dengan jujur.
Merekalah yang membayar pajak, menggerakkan roda produksi, menciptakan nilai ekonomi, dan menghadirkan iklim yang membuat investasi dapat tumbuh. Mereka bekerja bukan untuk menjadi terkenal, tetapi untuk membawa pulang nafkah yang halal bagi keluarganya.
Merekalah fondasi yang diam-diam menyangga negeri ini. Meskipun mereka mungkin tidak duduk di ruang rapat yang megah, tidak mengenakan jas mahal, dan tidak berbicara tentang strategi bisnis yang fantastis.
Namun mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga yaitu integritas.
Sejarah menunjukkan bahwa sebuah bangsa jarang runtuh karena rakyat kecil yang jujur. Sebaliknya, banyak peradaban hancur ketika para pemegang amanah berubah menjadi tikus berdasi yang menggerogoti kepercayaan dari dalam.
Ukuran kemuliaan bukanlah seberapa tinggi jabatan seseorang atau seberapa banyak hartanya. Namun kemuliaan diukur dari sebersih apa cara ia memperoleh semuanya.
Kehormatan sejati tidak akan lahir dari kolusi yang disamarkan dengan berbagai istilah yang indah. Kehormatan sejati lahir dari kejujuran yang tetap dipertahankan, bahkan ketika hidup berada dalam segala keterbatasan.(*)
-Selesai-
#33daysintegritychallenge #aksikita #lawankorupsi # biasakanyangbenar #day33 IG: @aclc.kpk
Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)

