Bahasa Cinta Semesta

Oleh : Nurul Jannah

Catatan Syukurku Hari Ini

Alam bukan hanya tempat kita tinggal. Alam adalah ayat-ayat Allah yang terbentang di hadapan mata. Setiap embusan angin, setiap tetes hujan, setiap daun yang berguguran, dan setiap mentari yang terbit mengajak kita berhenti sejenak untuk bersyukur.

Semoga hati kita tidak hanya pandai menikmati keindahan alam, tetapi juga terdorong untuk menjaganya sebagai amanah dari Sang Pencipta. Dan, mencintai bumi adalah salah satu cara mensyukuri nikmat Allah.

Pagi ini aku sengaja memperlambat langkah.

Sudah terlalu lama aku berjalan terburu-buru. Berangkat sebelum matahari sepenuhnya terbit, pulang ketika langit mulai gelap. Hari-hari dipenuhi pekerjaan, rapat, perjalanan, dan berbagai tanggung jawab.

Tanpa aku sadari, ada begitu banyak keindahan yang aku lewati begitu saja.

Padahal, setiap hari Allah sedang berbicara. Bukan melalui kata-kata. Melainkan melalui semesta.

Embusan angin yang menyapa wajah tanpa pernah meminta balasan.

Mentari yang setia terbit setiap pagi, meski manusia sering memulai hari dengan keluhan.

Awan yang berjalan perlahan, mengantarkan hujan ke tempat-tempat yang telah Allah tetapkan.

Pepohonan yang berdiri dalam diam, menghasilkan oksigen bagi siapa pun, bahkan bagi tangan yang pernah melukainya.

Tak ada satu pun yang menuntut penghargaan.

Mereka hanya menjalankan amanah yang Allah titipkan.

BACA JUGA :  Sekjen ATR/BPN: Pejabat Administrator Harus Jadi Motor Penggerak Perubahan

Lalu aku bertanya kepada diri sendiri.

Mengapa pohon begitu setia memberi, sementara manusia sering merasa berat berbagi?

Mengapa sungai terus mengalir membawa kehidupan, sementara hati manusia kadang mengering oleh keserakahan?

Mengapa burung-burung tetap bernyanyi setiap pagi, sementara kita lebih sering memulai hari dengan kegelisahan daripada pujian kepada Allah?

Barangkali, selama ini kita terlalu sibuk menikmati alam, tetapi belum sungguh-sungguh mendengarkan pesannya.

Padahal setiap helai daun adalah pelajaran tentang keikhlasan.

Ia menghijau tanpa memilih siapa yang akan berteduh.

Lalu gugur ketika waktunya tiba, tanpa pernah memprotes keputusan Tuhannya.

Setiap tetes hujan adalah pelajaran tentang kasih sayang.

Ia turun tanpa membedakan rumah orang kaya ataupun rumah orang miskin.

Setiap matahari yang terbit adalah pelajaran tentang harapan.

Tak peduli seberapa gelap malam sebelumnya, fajar selalu menemukan jalannya.

Aku semakin memahami bahwa alam tidak pernah berhenti mengajarkan cinta.

Cinta yang tidak banyak berbicara.

Cinta yang hadir dalam bentuk manfaat.

Cinta yang terus memberi kehidupan.

Dan, ironisnya justru manusialah yang sering lupa membalasnya.

Kita menikmati udara segar, tetapi menebang pohon tanpa memikirkan penggantinya.

Kita menikmati air yang jernih, tetapi sungai dipenuhi sampah.

Kita mengagumi pegunungan yang hijau, tetapi rela melihat hutan kehilangan wajahnya.

Kita mencintai hasil bumi, tetapi sering melukai bumi yang menghasilkannya.

Barangkali, kerusakan lingkungan bukan semata-mata krisis ekologi.

Ia adalah krisis hati.

Hati yang semakin pandai mengambil, tetapi lupa merawat.

Hati yang fasih menuntut hak, tetapi pelit menjalankan amanah.

Hari ini aku kembali belajar bahwa mencintai bumi bukan hanya tugas seorang aktivis lingkungan, peneliti, atau pemerintah.

Ia adalah ibadah.

Ia adalah wujud cinta kepada Allah.

Sebab mustahil kita mengaku mencintai Sang Pencipta, tetapi membiarkan ciptaan-Nya rusak di hadapan mata.

BACA JUGA :  Cinta Dalam Sehat

Pagi ini aku menengadahkan tangan.

Ya Allah, jangan biarkan mata ini terbiasa melihat keindahan alam saja, lalu lupa memuji-Mu. Jangan biarkan tangan ini hanya menikmati bumi, lalu enggan menjaganya.

Jadikan setiap langkah ini sebagai jejak kebaikan bagi alam, karena aku ingin ketika kembali kepada-Mu, bumi menjadi saksi bahwa aku pernah merawat amanah-Mu.


Lalu aku membayangkan…

Bagaimana jika suatu pagi burung-burung tak lagi bernyanyi?

Bagaimana jika anak cucu kita hanya mengenal hutan dari gambar di buku, sungai yang jernih dari cerita orang tua, dan langit biru dari foto-foto lama?

Bagaimana jika udara segar berubah menjadi kemewahan yang harus dibeli, sementara air bersih menjadi barang yang diperebutkan?

BACA JUGA :  Delapan Komoditi Pertanian Diajukan untuk Diuji Lab

Bagaimana jika kelak mereka bertanya kepada kita,

“Mengapa kalian mewariskan bumi yang begitu lelah?”

Apa yang akan kita jawab?

Mungkin pada hari itu manusia akan menangis. Namun penyesalan selalu datang ketika yang dicintai telah banyak hilang.

Hari ini bumi masih setia memeluk kita.

Ia tidak pernah menagih balasan atas udara yang kita hirup, air yang kita minum, atau tanah tempat kita berpijak.

Justru kitalah yang berkali-kali melukainya.

Maka sebelum bumi berhenti bercerita melalui gemerisik daun, suara hujan, dan desir angin, mari belajar mencintainya dengan lebih sungguh-sungguh.

Karena boleh jadi, cara paling indah mencintai Allah bukan hanya dengan memperbanyak doa, tetapi juga dengan menjaga setiap ciptaan yang dititipkan-Nya kepada kita.

Sebab kelak, yang Allah tanyakan bukan hanya berapa banyak nikmat yang pernah kita terima, tetapi juga apa yang telah kita lakukan terhadap amanah yang selama ini kita pijak setiap hari: bumi yang dengan setia menjadi rumah bagi seluruh kehidupan❤️.

Jakarta, 24 Juli 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *