Masih Ada Hari Ini

Oleh : Nurul Jannah*)

Catatan Syukurku Hari Ini

Ada kalanya hidup membuat kita begitu sibuk mengejar hari esok hingga lupa mensyukuri hari ini. Kita sibuk menghitung target yang belum tercapai. Menyesali kesalahan yang pernah terjadi. Membandingkan perjalanan hidup dengan perjalanan orang lain.

Lalu, tanpa disadari, kita menjadi orang yang paling keras terhadap diri sendiri. Merasa belum cukup baik. Belum cukup berhasil. Belum cukup membanggakan.


Pagi ini aku berdiri lama di depan cermin. Aku hanya ingin menatap wajah yang setiap hari menemaniku menjalani kehidupan.

Wajah yang menyimpan begitu banyak cerita. Ada garis-garis lelah yang mulai terlihat di sana. Ada mata yang pernah berkali-kali basah oleh air mata. Ada senyum yang pernah dipaksakan agar orang-orang tercinta tidak ikut khawatir.

Aku memandang wajah itu sekali lagi. Lalu, sebuah pertanyaan pun muncul dari dalam hati.

Sudahkah aku berdamai dengan diriku sendiri?”

Aku terdiam. Ruangan terasa sunyi. Yang terdengar hanya detak jantungku sendiri. Ternyata pertanyaan itu jauh lebih sulit dijawab daripada berbagai persoalan yang pernah aku hadapi.

Betapa sering aku memaafkan orang lain. Namun begitu keras menghakimi diri sendiri. Betapa mudah aku memahami kelemahan orang lain. Namun begitu sulit menerima kekurangan diri sendiri.

Aku hampir selalu menuntut diri ini untuk kuat, padahal Allah sendiri tidak pernah meminta hamba-Nya menjadi sempurna.

Allah tidak menciptakan perjalanan hidup agar kita menjadi sempurna, tanpa cela.Allah mengizinkan perjalanan itu dilewati, agar kita dapat terus bertumbuh. Agar setiap luka bisa melahirkan kebijaksanaan. Agar setiap kegagalan bisa menumbuhkan kerendahan hati. Agar setiap penantian, mengajarkan kesabaran. Dan setiap kehilangan mengingatkan bahwa tidak ada yang benar-benar kita miliki di dunia ini, selain Allah.

Aku teringat begitu banyak peristiwa yang dahulu ingin segera aku hapus dari ingatan.

Hari-hari ketika doa terasa belum dijawab. Saat usaha yang telah diperjuangkan berakhir dengan kegagalan. Saat kepercayaan dibalas dengan kekecewaan. Saat hati dipaksa menerima kenyataan yang sama sekali tidak pernah diharapkan.

BACA JUGA :  Menteri Nusron Apresiasi Tzu Chi Bangun 108 Huntap Korban Bencana Aceh Tamiang

Masih kuingat, di salah satu malam, aku menengadahkan tangan ke langit,
“Ya Allah… mengapa ini terjadi kepadaku?”

Tidak ada jawaban yang langsung kudengar. Yang ada hanyalah air mata yang terus mengalir membasahi sajadah.

Hari ini, pertanyaan itu telah berubah.

“Ya Allah… pelajaran apa yang sedang Engkau titipkan di balik semua ini?”

Ternyata, satu pertanyaan mampu mengubah cara memandang seluruh kehidupan. Yang dahulu tampak sebagai hukuman, perlahan berubah menjadi bimbingan. Yang dahulu terasa sebagai akhir perjalanan, ternyata hanyalah tikungan menuju jalan yang lebih indah. Yang dahulu membuat aku menangis berhari-hari, kini justru menjadi alasan mengapa aku mampu menguatkan hati orang lain.

Barangkali memang seperti itulah cara Allah mendidik hamba-hamba yang dicintai-Nya. Bukan dengan selalu menghadirkan jalan yang mudah. Melainkan dengan menghadirkan perjalanan yang membuat hati semakin mengenal-Nya.


Hari ini aku bersyukur. Karena ternyata Allah belum selesai menuliskan kisah hidupku. Aku bersyukur karena Allah masih memberiku kesempatan.

Masih ada pagi yang bisa aku sambut. Masih ada napas yang bisa aku hirup. Masih ada sujud yang bisa aku lakukan. Masih ada Al-Qur’an yang bisa aku baca.

Masih ada kesempatan meminta maaf. Masih ada waktu memperbaiki kesalahan. Masih ada peluang menebarkan manfaat. Masih ada harapan. Dan selama masih ada harapan. Tidak ada alasan untuk berhenti melangkah.

Pagi ini aku kembali menengadahkan kedua tangan.

“Ya Allah… terima kasih karena Engkau masih memberiku hari ini. Terima kasih karena Engkau tidak pernah meninggalkanku, meski berkali-kali aku lalai. Terima kasih karena setiap kali aku jatuh, Engkau masih memberi aku kesempatan untuk bangkit. Jangan biarkan aku menyia-nyiakan hari yang Engkau titipkan. Jadikan hari ini lebih baik daripada kemarin. Jadikan hati ini lebih lembut, lisan ini lebih santun, langkah ini lebih bermanfaat, dan iman ini semakin dekat kepada-Mu.”

Lalu aku mulai membayangkan, bagaimana jika hari ini adalah lembar terakhir yang harus aku tulis dalam buku kehidupanku?

BACA JUGA :  Muhamad Irdian Pimpin BPN Sumbar, Tantangan Baru Perkuat Pelayanan Pertanahan

Bagaimana jika matahari sore nanti menjadi senja terakhir yang masih sempat aku lihat?

Apakah aku akan lebih banyak menyesali yang belum sempat aku lakukan? Ataukah aku akan bersyukur karena telah berusaha menjalani hidup sebaik yang aku bisa?

Pertanyaan-pertanyaan diri itu terus hadir dan membuat dada ini bergetar hebat. Karena ternyata yang paling berharga bukanlah berapa lama kita hidup. Melainkan bagaimana kita mengisi kehidupan itu sendiri.

Bukan tentang seberapa tinggi kita pernah berdiri. Melainkan seberapa banyak hati yang pernah kita kuatkan. Bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki. Melainkan seberapa tulus kita berbagi.

Mungkin kita tidak mampu mengubah seluruh dunia. Namun kita selalu mampu menghadirkan kebaikan di sekitar kita.

Satu senyuman. Satu doa. Satu pelukan. Satu kalimat yang menguatkan. Satu tangan yang menggenggam ketika ada yang hampir menyerah.

Siapa tahu, kebaikan kecil yang menurut kita biasa saja, justru menjadi alasan seseorang kembali memiliki harapan untuk melanjutkan hidupnya.

Kebaikan-kebaikan kecil itulah yang sering kali menjadi jawaban Allah atas doa orang lain. Dan tanpa kita sadari, Allah sedang memberi kesempatan kepada kita untuk menjadi jalan datangnya rahmat bagi sesama.

Maka hari ini, sebelum matahari kembali tenggelam, aku ingin sejenak berhenti. Menikmati jeda sembari melangitkan selaksa terima kasih kepada Allah. Sekaligus memaafkan diri sendiri serta memohon ampun atas segala khilaf.

Lalu melangkah lagi. Dengan hati yang lebih tenang. Dengan iman yang lebih kuat. Dengan harapan yang lebih besar. Karena selama Allah masih memberiku hari ini. Tentu masih ada kesempatan untuk berubah. Masih ada kesempatan untuk berbuat baik. Masih ada kesempatan untuk mencintai. Masih ada kesempatan untuk meminta maaf.

Masih ada kesempatan untuk kembali. Dan selama pintu rahmat-Nya masih terbuka, tidak ada kehidupan yang terlalu hancur untuk dipulihkan. Tidak ada hati yang terlalu jauh untuk kembali kepada-Nya.

BACA JUGA :  Menteri Nusron Apresiasi Tzu Chi Bangun 108 Huntap Korban Bencana Aceh Tamiang

Sebab sebesar apa pun kesalahan yang pernah kita lakukan, Rahmat Allah selalu lebih luas.

Setinggi apa pun harapan yang kita gantungkan kepada-Nya, kasih sayang-Nya selalu melampaui apapun, yang mampu kita bayangkan.


Sebelum meninggalkan cermin pagi ini, aku tersenyum kepada diri sendiri.

“Tidak apa-apa… kita belajar lagi hari ini ya.”

Entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat hatiku terasa jauh lebih ringan. Maka jangan pernah meremehkan satu hari yang masih Allah titipkan.

Barangkali hari ini bukan saat seluruh doa kita dikabulkan. Namun boleh jadi, hari inilah awal dari perjalanan yang kelak membuat kita menangis dalam sujud, karena tak henti mengucapkan syukur atas cara Allah menjawab setiap doa.

Karena sering kali, keajaiban tidak datang dalam satu malam. Ia tumbuh perlahan di dalam hati yang tidak pernah berhenti berharap kepada Allah.

Selama masih ada hari ini, masih ada harapan. Selama napas masih Allah titipkan, masih ada kesempatan untuk berubah. Selama hati masih mampu mengucap salam, “Ya Allah…”, maka belum ada pintu yang benar-benar tertutup.

Sebab setiap kali seorang hamba melangkah menuju Allah, meski tertatih dan dengan hati yang penuh penyesalan, Allah telah lebih dahulu membuka jalan untuk menyambut kepulangannya.

Maka jangan pernah putus asa. Selama Allah masih menghadiahkan hari ini, Allah masih memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri, menanam kebaikan, memohon ampun, dan pulang kepada-Nya dengan hati yang lebih bersih. Itulah harapan yang tidak pernah padam. Itulah kasih sayang Allah yang tidak pernah bertepi.

Sebab sejak awal, Allah tidak pernah berhenti menggenggam tangan hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya.😍

Jakarta, 27 Juli 2026

Dosen IPB University, penulis dan penggiat literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *