Tak Pernah Kebetulan

Oleh : Nurul Jannah*)

Catatan Syukurku Hari Ini

Ada masa ketika aku mengira hidup ini hanyalah rangkaian peristiwa.

Bertemu. Berpisah. Bekerja. Berpindah kota. Berkenalan.

Lalu melupakan.

Hari-hari datang dan pergi seperti lembaran kalender yang terus berguguran. Tidak ada yang terasa istimewa. Semuanya berjalan sebagaimana mestinya.

Hingga waktu mengajarkan bagaimana melihat kehidupan dari sudut berbeda.

Seperti kereta yang berhenti di sebuah stasiun. Ada penumpang yang naik, ada yang turun, lalu perjalanan kembali berlanjut.

Dulu aku mengira semua itu hanyalah kebetulan. Namun akhirnya aku mengerti, Allah tidak pernah bekerja secara kebetulan.

Semakin panjang perjalanan hidup ini, semakin aku memahami bahwa Allah tidak pernah menulis kisah kita dengan sia-sia.

Tidak ada pertemuan yang kebetulan.

Tidak ada perpisahan yang tanpa makna.

Tidak ada nama yang hadir dalam hidup kita tanpa alasan.

Allah selalu memiliki cara yang indah untuk mempertemukan dua hati pada waktu yang paling tepat.

Kadang melalui bangku sekolah.

Kadang melalui ruang kuliah.

Kadang melalui tempat kerja.

Kadang melalui sebuah perjalanan.

Kadang melalui sebuah musibah.

Kadang melalui sebuah kehilangan.

Kadang bahkan hanya melalui satu pesan singkat yang tak pernah kita sangka akan mengubah banyak hal.

Aku mulai mengingat wajah demi wajah.

Guru-guru yang pernah menggenggam tanganku ketika aku belum percaya pada kemampuan diri sendiri.

Sahabat yang tetap bertahan mendengar keluh kesahku, meski mereka juga sedang memikul beban hidupnya.

Rekan kerja yang diam-diam mengambil alih sebagian pekerjaanku, ketika melihat aku mulai kelelahan.

Tetangga yang mengetuk pintu rumah hanya untuk bertanya,

“Apa kabar? Ada yang bisa saya bantu?”

Murid-murid yang, tanpa mereka sadari, justru mengajarkan aku arti kesabaran, keikhlasan, dan harapan.

Mereka datang dengan peran yang berbeda-beda. Namun semuanya meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar hilang.

Aku menyadari…

Selama ini Allah begitu sering menjawab doa-doaku.

Hanya saja, aku terlalu sering menunggu keajaiban turun dari langit.

BACA JUGA :  Dua Minggu Tidak Menulis, Saya Sedang Belajar kepada Kehidupan

Padahal…

Sering kali jawaban itu datang dalam wujud kehadiran orang lain.

Orang yang menguatkan ketika aku hampir menyerah.

Orang yang mengingatkan ketika aku mulai lalai.

Orang yang memeluk ketika kata-kata tidak lagi mampu menenangkan.

Orang yang mendoakan tanpa pernah memberitahukannya.

Orang yang hadir tepat ketika aku merasa dunia sedang berjalan menjauh.

Bukankah itu juga rahmat Allah?

Betapa banyak jalan hidup yang berubah hanya karena bertemu satu orang.

Satu guru yang percaya kepada muridnya.

Satu sahabat yang tidak meninggalkan kita saat semua menjauh.

Satu rekan yang memberi kesempatan.

Satu pasangan yang menguatkan.

Satu tetangga yang peduli.

Satu kalimat yang datang pada waktu yang tepat.

Satu pelukan yang menghapus putus asa.

Satu doa yang diam-diam membuka pintu langit.

Sering kali Allah mengubah hidup kita melalui orang lain yang bahkan tidak pernah menyadari betapa besar pengaruhnya.

Aku pun tahu..

Tidak semua orang yang hadir membawa pelukan.

Ada yang datang membawa air mata.

Ada yang hadir meninggalkan luka.

Ada yang singgah untuk mengecewakan.

Ada yang mengkhianati kepercayaan.

Dulu aku bertanya,

“Ya Allah, mengapa Engkau mempertemukan aku dengan mereka?”

Hari ini aku mulai menemukan jawabannya.

Karena tidak semua guru datang membawa buku.

Ada guru yang datang membawa ujian.

Ada guru yang datang membawa kehilangan.

Ada guru yang datang membawa kecewa.

Ada guru yang mengajarkan kita bahwa tidak semua harapan akan berakhir sesuai keinginan.

Dan sering kali, pelajaran yang paling mengubah hidup justru lahir dari luka yang paling dalam.

Aku tidak lagi ingin menyimpan dendam kepada mereka yang pernah menyakiti.

Sebab boleh jadi, tanpa mereka aku tidak akan pernah belajar memaafkan.

Tanpa mereka aku tidak akan belajar bangkit.

Tanpa mereka, aku tidak akan mengenal kekuatan yang selama ini Allah simpan di dalam diri ini.

Kini aku memahami, bahkan luka pun dapat menjadi jalan kasih sayang Allah, jika ia membuat kita semakin dekat kepada-Nya.

BACA JUGA :  Peluk Sahabat

Hari ini aku ingin bersyukur. Lagi dan lagi.

Bersyukur kepada mereka yang mencintai aku.

Bersyukur kepada mereka yang pernah menyakiti aku.

Bersyukur kepada mereka yang pernah meninggalkan aku.

Bersyukur kepada mereka yang pernah membuat aku menangis.

Karena semuanya, dengan cara yang berbeda, telah mengantarkan aku menjadi pribadi yang lebih matang.

Pagi ini aku menengadahkan kedua tangan.

“Ya Allah… terima kasih karena Engkau tidak membiarkan aku berjalan sendirian. Terima kasih atas setiap guru, sahabat, keluarga, murid, tetangga, rekan kerja, bahkan mereka-mereka yang pernah melukai hatiku. Melalui mereka, Engkau membentukku, menguatkanku, dan mengajarkanku mengenal-Mu dengan cara yang tidak pernah aku duga.”

Lalu sebuah pertanyaan mengemuka di benakku.

Selama ini aku begitu pandai mengenang orang-orang baik yang pernah Allah kirimkan kepadaku.

Tetapi…

Sudahkah aku menjadi salah satu dari orang-orang baik itu?

Pernahkah aku menjadi orang baik dalam kisah hidup seseorang?

Pernahkah kehadiranku membuat seseorang merasa lebih nyaman?

Pernahkah pesanku menghapus kegelisahan seseorang?

Pernahkah doaku diam-diam menjadi penguat bagi hati yang sedang rapuh?

Pernahkah aku menjadi alasan seseorang kembali percaya bahwa dunia masih dipenuhi kebaikan?

Atau jangan-jangan…

Aku lebih sering sibuk menunggu perhatian daripada memberi perhatian.

Lebih sering berharap dipahami, daripada belajar memahami.

Lebih sering ingin didengar daripada melatih diri menjadi pendengar.

Bukankah setiap orang yang kita temui juga sedang memikul beban yang tidak selalu mampu mereka ceritakan?

Aku pun semakin mengerti bahwa hidup bukan tentang berapa banyak orang yang kita kenal. Melainkan apa saja kebaikan yang bisa kita tinggalkan di hati orang lain.

Maka, jika hari ini Allah masih mempertemukan kita dengan keluarga yang mencintai, sahabat yang setia, guru yang membimbing, murid yang mendoakan, rekan kerja yang saling menguatkan, dan tetangga yang peduli.

Jangan pernah menganggapnya biasa.

BACA JUGA :  Yota Balad dan Mulyadi Kompak Ikuti "MINTA BERLIAN"

Sapa mereka selagi masih bisa.

Peluk mereka selagi masih ada.

Minta maaf sebelum penyesalan datang.

Ucapkan terima kasih sebelum kesempatan itu hilang.

Dan, doakan mereka, bahkan ketika mereka tidak pernah mengetahuinya.

Sebab akan tiba waktunya, telepon tidak lagi berdering, pesan-pesan berhenti masuk dan kursi yang dulu sering ditempati menjadi kosong.

Dan nama yang dahulu begitu akrab dipanggil, perlahan tinggal kenangan.

Yang tersisa hanyalah doa… dan rindu yang tak lagi dapat disampaikan.

Pada saat itulah kita akan menyadari bahwa yang paling kita rindukan bukan hanya rumah yang pernah kita tinggali. Melainkan juga tawa yang pernah mengisi hari-hari kita, pelukan yang pernah menguatkan, dan orang-orang yang pernah Allah titipkan dalam perjalanan hidup kita.

Karena pada akhirnya, hidup bukan diukur dari berapa lama kita hidup, melainkan dari berapa banyak hati yang menjadi lebih bahagia karena kehadiran kita.

Dan ketika kelak Allah memanggil kita pulang, semoga masih ada orang yang menengadahkan tangan, seraya berdoa, “Ya Allah, terima kasih karena Engkau pernah menghadirkan dia dalam hidup kami.”

Barangkali, itulah jejak kehidupan yang paling indah: menjadi jawaban atas doa orang lain, sebagaimana dahulu Allah menghadirkan orang-orang baik sebagai jawaban atas doa-doa kita.

Sebab sesungguhnya, tidak ada pertemuan yang kebetulan.

Allah sedang menulis takdir melalui manusia. Ada yang datang membawa cinta, ada yang datang membawa pelajaran, ada yang datang membawa kekuatan.

Dan semua itu merupakan cara Allah menyempurnakan perjalanan kita hingga kembali pulang kepada-Nya.❤️💕🫶

Jakarta, 25 Juli 2026

Dosen IPB University, penulis dan penggiat literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *