Oleh : Ahmad Saputra, S.Pd*)
New York/New Jersey Stadium. Sejarah kembali ditulis oleh Spanyol. Minggu malam waktu setempat, La Roja memastikan diri sebagai juara dunia untuk kedua kalinya setelah menundukkan Argentina 1-0 lewat gol semata wayang Ferran Torres di babak perpanjangan waktu.
Kemenangan ini melengkapi dominasi total Spanyol di kancah sepak bola internasional: gelar Euro 2024 kini disusul trofi Piala Dunia 2026, sebuah “double” yang terakhir kali dilakukan tim Eropa dengan cara yang begitu meyakinkan.
Final yang Berat Sebelah, Tapi Berjalan Panjang
Selama 90 menit waktu normal, pertahanan Argentina tampil solid. Kiper Emiliano Martinez memberikan perlawanan heroik dengan serangkaian penyelamatan gemilang, menahan gempuran demi gempuran serangan Spanyol yang mendominasi penguasaan bola dan peluang sepanjang laga.
Namun keberuntungan mulai berpihak kepada Spanyol menjelang akhir waktu tambahan babak kedua, ketika gelandang Argentina, Enzo Fernandez, menerima kartu kuning kedua dan diusir keluar lapangan.
Unggul jumlah pemain, Spanyol sempat merayakan gol lewat Nico Williams, namun wasit menganulirnya setelah terjadi pelanggaran dalam proses terjadinya gol. Skuad besutan Luis de la Fuente pantang menyerah, hanya berselang sekitar 39 detik memasuki babak kedua perpanjangan waktu, Ferran Torres akhirnya berhasil menaklukkan gawang Martinez lewat tembakan jarak dekat, memupuskan mimpi Lionel Messi untuk mengakhiri kariernya di Piala Dunia dengan trofi.
Torres mencetak gol tersebut dari umpan matang yang bermula dari kelincahan Lamine Yamal di sisi sayap. Secara statistik, dominasi Spanyol tergambar jelas: mereka mencatatkan expected goals (xG) sebesar 1,94 dari 20 percobaan tembakan, jauh mengungguli Argentina yang hanya mencatatkan xG 0,20.
Perjalanan Nyaris Sempurna, Hanya Kebobolan Satu Gol
Yang membuat gelar ini begitu istimewa adalah bagaimana cara Spanyol meraihnya. Tim asuhan Luis de la Fuente tampil sebagai tim paling kokoh secara defensif dalam sejarah turnamen, belum pernah ada juara Piala Dunia sebelumnya yang hanya kebobolan satu gol sepanjang perjalanan mereka menuju gelar.
Perjalanan Spanyol dimulai dengan hasil yang mengejutkan banyak pihak: hanya bermain imbang 0-0 melawan debutan Tanjung Verde di fase grup. Namun dari situ, mesin Spanyol terus menggeliat, menghantam Arab Saudi 4-0, kemudian menundukkan Uruguay 1-0 untuk memastikan status juara grup.
Memasuki fase gugur, Spanyol memulai perjalanan dengan kemenangan telak 3-0 atas Austria di babak 32 besar. Sejak itu, lawan-lawan yang dihadapi bukan tim sembarangan, seluruhnya berperingkat 10 besar dunia. Mereka menyingkirkan Portugal 1-0, lalu Belgia 2-1 di perempat final, disusul kemenangan meyakinkan 2-0 atas Prancis di semifinal yang lini serangnya sebelumnya tampak tak terbendung.
Total delapan pertandingan dilakoni Spanyol pada edisi kali ini, rekor tersendiri akibat format turnamen yang diperluas, dan dari delapan laga itu, gawang mereka cuma bobol satu kali.Kemenangan ini juga menjadi laga tak terkalahkan Spanyol yang ke-38 secara beruntun, rangkaian yang mencakup gelar Euro 2024 mereka.
Mengulang Romantisme 2008-2010-2012?
Publik sepak bola dunia kini menoleh ke belakang, mengenang era keemasan Spanyol pada 2008-2012, ketika mereka mengoleksi Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012 secara beruntun, sebuah pencapaian yang belum pernah disamai negara manapun. Dengan Euro 2024 dan Piala Dunia 2026 kini sudah di genggaman, satu pertanyaan besar tersisa: mampukah generasi Yamal, Cubarsi, dan kawan-kawan menuntaskan trilogi itu dengan merebut Euro 2028?
Yang jelas, generasi ini punya modal berbeda dari generasi emas terdahulu: usia pemain-pemain kunci Spanyol jauh lebih muda, dan pelatih Luis de la Fuente mencatatkan rekor luar biasa sebagai pelatih tertua yang pernah memenangkan Piala Dunia, sekaligus tak terkalahkan dalam 14 dari 15 laga kompetitif bersama timnas senior.
Sementara itu, laga ini kemungkinan besar menjadi penampilan terakhir Lionel Messi di ajang Piala Dunia. Sang legenda Argentina, yang akan berusia 43 tahun saat Piala Dunia 2030 digelar, tampak berat melangkah meninggalkan lapangan tanpa gelar yang paling ia idamkan.
Bagi Spanyol, catatan sejarah sudah tertulis jelas: dua gelar Piala Dunia (2010 dan 2026), dan kini mereka duduk di puncak ranking dunia, menggeser posisi Argentina. Cerita indah La Roja tampaknya belum usai, dan seluruh dunia sepak bola menanti apakah roda sejarah akan berputar mengulang kejayaan satu dekade lalu.[]
Penulis adalah Sarjana Pendidikan Agama Islam, UIN Imam Bonjol Padang. Aktif pengurus Masjid dan pengurus Forum Pemberdayaan Masyarakat.*)
