Ibu Tak Pernah Pensiun

Oleh: Nurul Jannah*)

Semua pekerjaan mengenal jam kerja. Hampir semua profesi memiliki masa pensiun. Semua jabatan selalu berakhir ketika kontrak usai.

Namun ada satu panggilan hidup yang tak pernah mengenal akhir, bahkan ketika rambut sudah memutih, tubuh melemah, atau napas tinggal menghitung waktu.

Yaitu Menjadi seorang ibu.

Setiap kali pulang ke rumah, pertanyaan itu selalu datang lebih dulu daripada pelukan.

“Nak… sudah makan?”
Kalimatnya sederhana.
Pendek. Bahkan terdengar biasa. Namun justru di sanalah cinta seorang ibu bersembunyi.

Semakin bertambah usia, aku semakin memahami bahwa empat kata itu bukan basa-basi. Itulah cara seorang ibu memastikan dunia anaknya masih baik-baik saja.

Dulu, pertanyaan itu ditujukan kepada kami, delapan bersaudara.

Sejak fajar belum benar-benar merekah, Ibu sudah sibuk di dapur. Menanak nasi. Menyiapkan lauk.
Membungkus bekal sekolah. Beliau memastikan tak ada satu pun anaknya yang memulai hari dengan perut kosong.

Di tengah kesibukan itu, beliau masih sempat mengingatkan, “Jangan lupa belajar yang rajin.”

“Hati-hati di jalan.”

“Kalau pulang jangan terlalu sore.”

Saat itu kami menganggap semuanya biasa. Nasihat yang setiap hari terdengar, hingga kami lupa bahwa kelak suara itulah yang benar-benar paling dirindukan.

Baru setelah dewasa kami mengerti. Tak ada satu pun kalimat yang keluar dari bibir seorang ibu tanpa cinta.

Waktu terus berjalan. Anak-anak pun tumbuh dewasa.

Satu demi satu meninggalkan rumah.
Menikah. Membangun keluarga. Memiliki anak-anak yang dahulu hanya hidup dalam doa-doanya.

Namun, di mata seorang ibu, usia anak tidak pernah benar-benar bertambah.

Meski rambut kami mulai dihiasi uban. Meski jabatan datang silih berganti. Meski sebagian dari kami telah menggendong cucu.

Kami tetap anak kecil yang dahulu berlari tanpa alas kaki di halaman rumah.

BACA JUGA :  "Sepatu Menunggu"

Maka, ketika kami pulang, beliau tetap bertanya, “Sudah makan?”

Bukan, “Bagaimana jabatanmu?”

Bukan pula, “Berapa penghasilanmu?”

Karena ukuran kebahagiaan seorang ibu tidak pernah ditentukan oleh gelar, pangkat, ataupun harta.

Yang beliau khawatirkan tetap sama. Perut anaknya. Kesehatan anaknya. Hati anaknya.
Kebahagiaan anaknya.

Begitulah cinta seorang ibu.Tidak bertambah ketika anak berhasil.
Tidak berkurang ketika anak gagal. Ia tetap utuh. Tetap hangat. Tetap memeluk, bahkan ketika dunia memilih menjauh.

Lalu datanglah babak kehidupan berikutnya.

Anak-anak telah memiliki keluarga barunya. Rumah kembali dipenuhi tawa.

Namun kali ini, bukan lagi suara kami. Melainkan suara cucu-cucu yang berlari memenuhi ruang keluarga. Dan aku melihat pemandangan yang selalu membuat dadaku sesak oleh haru.

Perempuan yang dahulu menggendong kami, kini, dengan tangan yang mulai bergetar dan langkah yang tak lagi secepat dulu, kembali menggendong cucunya.

Beliau tertawa ketika cucu belajar berjalan.
Beliau sabar menyuapi.
Beliau menyanyikan lagu yang dahulu juga kami dengarkan menjelang tidur.

Seakan-akan waktu hanya berputar saja. Yang berubah hanyalah generasinya.

Aku pernah bertanya dengan hati-hati, “Bu, apa Ibu tidak lelah?”

Jawabannya tidak pernah keluar lewat kata-kata.

Jawabannya tampak pada kedua tangan yang tetap sigap menggendong. Pada mata yang berbinar melihat cucu tertawa. Pada wajah yang selalu berbunga ketika mendengar langkah-langkah kecil berlari menuju pelukannya.

Saat itulah aku memahami. Seorang ibu memang tidak pernah pensiun.

Ketika anak-anak telah dewasa. Cintanya tidak berkurang. Ia hanya berpindah pelukan.

Dari anak, kepada cucu,
kelak kepada cicit. Dan bahkan setelah ia tiada, cinta itu masih terus hidup di hati mereka yang pernah dipeluknya.

Begitulah kasih seorang ibu. Tak pernah meminta balasan. Tak pernah menghitung pengorbanan. Tak pernah mencatat berapa malam ia terjaga. Tak pernah mengingat berapa kali ia menangis diam-diam.
Ia hanya mengulang satu doa yang sama sepanjang hidupnya.

BACA JUGA :  "Sepatu Menunggu"

“Ya Allah… jagalah anak-anakku.”

Hari ini, ketika usia kami terus bertambah, aku justru semakin sering merindukan satu pertanyaan sederhana itu.

“Nak… sudah makan?”

Sebab ada hari ketika suara itu mendadak berhenti. Tak ada lagi yang bertanya. Tak ada lagi yang menunggu di depan pintu. Tak ada lagi yang diam-diam menyisihkan lauk kesukaan kami.

Dapur yang dahulu hangat, perlahan menjadi sunyi. Piring-piring masih tersusun rapi. Resep-resep masakan masih kami hafal. Namun tangan yang dahulu menghidangkannya, telah kembali kepada Sang Pemilik kehidupan.

Barulah kami mengerti.
Yang paling kami rindukan ternyata bukan masakannya.
Bukan rumahnya.
Bukan halaman tempat kami bermain. Yang paling kami rindukan adalah kehadiran seorang ibu, yang selalu memastikan kami baik-baik saja.

Aku termasuk anak yang sangat beruntung.

Allah menitipkan seorang ibu yang dengan penuh kesabaran membesarkan delapan putra-putrinya, mendidik kami dengan kasih sayang, menguatkan kami dengan doa, dan mengajarkan bahwa hidup harus dijalani dengan kejujuran, kerja keras, kesederhanaan, serta keikhlasan.

Hari ini, apa pun yang telah kami capai. Sesungguhnya selalu ada jejak langkah beliau di belakangnya.

Ada doa yang tak pernah putus. Ada air mata yang tak pernah beliau ceritakan. Ada sujud panjang yang tak pernah beliau sampaikan.

Dan mungkin, justru sujud-sujud itulah yang mengantarkan kami sampai di titik hari ini.

Maka hari ini, izinkan kami menengadahkan tangan.

Al-Fatihah…

Untuk ibu kami tercinta.
Untuk seluruh ibu yang telah lebih dahulu kembali kepada Allah.
Insya Allah, setiap lelah menjadi pahala yang terus mengalir. Insya Allah, setiap air mata berubah menjadi cahaya di alam kubur.

BACA JUGA :  "Sepatu Menunggu"

Insya Allah, setiap doa yang dahulu dipanjatkan untuk anak-anaknya menjadi penolong di hari perjumpaan dengan-Nya.

Dan semoga Allah mempertemukan kembali kami dengan ibu dalam keadaan yang paling indah. Di tempat yang tak lagi mengenal sakit, tak lagi mengenal tangis, dan tak lagi mengenal perpisahan.

Sebab pada akhirnya,
Seorang ibu memang tidak pernah pensiun.

Ia tetap menjadi ibu ketika anaknya berusia lima tahun. Tetap menjadi ibu ketika anaknya berusia lima puluh tahun. Tetap menjadi ibu ketika rambut anaknya telah memutih semua.

Bahkan ketika ia telah berada di alam yang berbeda, cintanya pun masih tinggal di dalam doa-doa yang pernah ia panjatkan dan dalam nilai-nilai yang ia wariskan kepada anak-anaknya.

Maka, bila hari ini Ibu masih ada, pulanglah. Jangan menunggu waktu senggang. Peluklah beliau sedikit lebih lama. Genggamlah tangannya sedikit lebih erat.

Jawablah pertanyaan sederhana itu dengan senyum, “Sudah, Bu… aku sudah makan.”

Namun bila Ibu telah lebih dahulu dipanggil Allah, jangan biarkan satu hari pun berlalu tanpa menghadiahkan Al-Fatihah dan doa terbaik.

Barangkali, itulah hadiah yang kini paling beliau nantikan dari anak-anak yang dahulu ia bangunkan setiap pagi, ia suapi setiap hari, dan ia cintai sepanjang hidupnya.

Al-Fatihah untuk seluruh ibu di manapun berada.

Semoga Allah melimpahkan rahmat, mengampuni segala khilafnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di surga terbaik bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. 💞💝

Bogor, 19 Juli 2026

Dosen IPB University, penulis dan penggiat literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *