Dua Minggu Tidak Menulis, Saya Sedang Belajar kepada Kehidupan

Catatan: Dr. Aqua Dwipayana

SUDAH dua minggu saya tidak mengirim tulisan. Tidak ada cerita baru yang saya bagikan. Tidak ada pula foto-foto aktivitas yang biasanya rutin saya kirim melalui WhatsApp.

Ternyata, ketidakhadiran itu justru mengundang perhatian.

Hampir setiap hari telepon dan WhatsApp masuk tanpa henti.

Jumlahnya ratusan. Isinya hampir sama.

“Apa kabar? Sehat-sehat saja? Kenapa sudah lama tidak ada tulisan? Sedang sakit, ya?”

Saya membaca satu per satu pesan itu dengan hati yang hangat. Ada rasa haru yang sulit diungkapkan.

Di tengah kesibukan masing-masing, ternyata masih banyak saudara, sahabat, dan teman-teman yang meluangkan waktu hanya untuk memastikan keadaan saya baik-baik saja.

Bahkan, dari pesan-pesan itu saya baru menyadari bahwa selama ini tulisan-tulisan yang saya kirim benar-benar mereka baca.

Ada yang selalu memberi komentar, ada yang mengirim apresiasi, dan banyak pula yang diam-diam mengikuti setiap kiriman saya.

Bagi seorang penulis, perhatian seperti itu adalah anugerah.

Karena itu, kepada semuanya saya mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya.

Saya juga meminta maaf karena selama dua minggu terakhir hampir tidak menyapa mereka melalui telepon ataupun WhatsApp.

Bukan karena lupa, apalagi mengabaikan. Saya hanya sedang memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk menikmati sesuatu yang sudah lama menjadi bagian dari hidup saya.

Yaitu, bersilaturahmi dan belajar.

Selama dua minggu itu saya sengaja berhenti menulis untuk konsumsi publik.

Saya ingin lebih banyak mendengar daripada berbicara. Lebih banyak membaca daripada berpendapat. Lebih banyak menyerap daripada membagikan.

Tulisan untuk diri sendiri tetap ada. Tetapi untuk publik, saya memilih berhenti sejenak.

Saya percaya, seorang penulis tidak hanya membutuhkan pena, tetapi juga pengalaman.

Tidak cukup hanya pandai merangkai kalimat, tetapi juga harus terus mengisi diri dengan pengetahuan dan pelajaran hidup.

Maka, selama dua minggu terakhir, saya berkeliling.

Saya bersilaturahmi dengan ratusan orang di Jawa Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Banten, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, dan Jawa Timur.

Saya menikmati perjalanan darat menuju Banten, Lampung, hingga Sumatera Selatan. Perjalanan yang panjang ternyata menghadiahkan banyak cerita. Di sepanjang jalan, saya melihat kehidupan dari sudut yang berbeda.

Pekan berikutnya saya berada di Bali selama empat hari. Selain bertemu banyak sahabat, saya mendapat kesempatan berbagi melalui dua sesi Sharing Komunikasi dan Motivasi.

Perjalanan berlanjut ke Jawa Timur. Dari Surabaya saya menuju Situbondo, Banyuwangi, Bondowoso, hingga Probolinggo.

Dalam dua hari saya mengisi lima sesi Sharing Komunikasi dan Motivasi di lingkungan perbankan.

Namun sesungguhnya, bukan hanya mereka yang belajar dari saya.

Sayalah yang justru lebih banyak belajar dari mereka.

Saya bertemu ratusan orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ada pegawai, pimpinan perusahaan, tokoh masyarakat, aparat militer, hingga masyarakat biasa.

Setiap orang membawa cerita.

Setiap orang memiliki pengalaman.

Setiap orang menyimpan pelajaran.

Saya mendengarkan semuanya.

Saya menikmati setiap percakapan.

Kadang kami sependapat. Kadang pula berbeda pandangan. Namun justru dari perbedaan itulah wawasan menjadi semakin luas.

Semakin bertambah usia, saya semakin yakin bahwa ilmu tidak hanya ada di ruang kelas atau di dalam buku.

Ilmu juga lahir dari obrolan sederhana, dari perjalanan panjang, dari secangkir kopi bersama sahabat, bahkan dari pertemuan singkat dengan orang yang baru dikenal.

Karena itu, setiap bertemu siapa pun, saya selalu berusaha datang sebagai murid, bukan sebagai orang yang merasa paling tahu.

Saya percaya, setiap manusia adalah guru.

Seluruh perjalanan itu saya niatkan sebagai ibadah. Semata-mata karena Allah SWT. Saya ingin setiap langkah, setiap pertemuan, dan setiap percakapan memiliki nilai kebaikan.

Alhamdulillah, saya pulang dengan hati yang penuh.

Bukan membawa materi.

Tetapi membawa sesuatu yang jauh lebih berharga.

Persahabatan yang semakin erat.

Silaturahmi yang semakin luas.

Pengetahuan yang semakin bertambah.

Dan rasa syukur yang semakin dalam.
Kini, setelah dua minggu berhenti menulis, saya kembali ke kebiasaan yang juga sangat saya cintai.

Menulis.

Insyaallah, saya akan kembali menyapa saudara dan sahabat melalui tulisan-tulisan sederhana.

Mudah-mudahan setiap tulisan bukan sekadar rangkaian kata, tetapi mampu menghadirkan manfaat, menguatkan silaturahmi, menambah semangat, dan menjadi amal jariah yang terus mengalir.

Sebab saya percaya, hidup bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita ajarkan kepada orang lain.

Tetapi juga tentang seberapa rendah hati kita untuk terus belajar dari kehidupan.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *