“Melawan Diri Sendiri”

Cerpen : Nurul Jannah*)

“Dan yang paling sunyi… adalah perang melawan diri sendiri.”

Zara baru saja lulus dari salah satu kampus ternama di Jakarta.

Hari wisuda itu penuh senyum. Foto. Pelukan. Ucapan selamat.

Semua tampak utuh.
Semua tampak berhasil.
Seolah hidupnya baik-baik saja.

Namun tidak semua kemenangan berdiri di atas panggung. Sebagian lahir dari pergulatan panjang yang tak pernah dilihat orang lain.

Di balik toga yang rapi, ada beban yang terus ia bawa, diam, berat dan tak pernah ia ceritakan.

Tinggi Zara 165 cm. Berat badannya 80 kilogram.

Ia tahu angka itu jauh dari proporsional. Namun yang paling melelahkan bukan angka itu. Melainkan napas yang terasa sesak saat menaiki tangga, langkah yang cepat lelah, dan rasa tidak nyaman yang perlahan menggerus kepercayaan dirinya.

Zara tidak pernah berhenti mencoba.

Ia tetap pintar.
Tetap berprestasi.
Tetap tersenyum.

Namun setiap kali ia duduk di ruang interview, ia merasa diuji dua kali, oleh pertanyaan…dan oleh tatapan yang diam-diam menilai.

“Terima kasih, nanti kami kabari hasilnya ya…”

Kalimat itu datang berulang.

Dan setiap kali kalimat itu diucapkan, ada bagian dalam dirinya yang ikut runtuh, pelan, tanpa suara.

       *

Malam itu, ia duduk di kamar.

BACA JUGA :  Puisi Esai "Kampungku di Aceh Hilang" Sukses Mengaduk Emosi Penonton

Lampu redup. Laptop terbuka.

Satu lagi email penolakan masuk

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Air matanya jatuh. Dan untuk pertama kalinya, ia mengakui, ia lelah… terus bertahan di dalam dirinya sendiri.

*

Ia mengambil buku kecil. Tangannya gemetar saat menulis: Aku tidak sempurna. Tapi aku tidak boleh berhenti.

Malam itu, keputusan dibuat.

Zara tidak ingin berubah demi penilaian orang lain.Ia ingin sehat, untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Minggu pertama dimulai.

Ia mengatur pola makan. Mengurangi yang berlebihan. Memilih yang lebih baik.

Ia juga mulai menjalani puasa sunnah.

Bukan hanya menahan lapar. Tetapi melatih hati agar tetap taat, dan melatih diri agar tidak mudah runtuh.

Tentu saja tidak mudah.

Perutnya lapar. Tubuhnya lelah. Pikirannya berisik.

“Mulainya besok saja …”

“Tidak apa-apa kalau gagal. Namanya juga usaha…”

“Tunggu waktu yang lebih tepat …”

“Kamu tidak akan kuat. Kamu tidak akan sanggup menjalankannya…”

Zara hampir menyerah.

Malam hari, di dapur. Makanan ada di depannya. Tangannya terangkat.

Namun, dengan penuh kesadaran mampu dihentikan kembali.

Dan di detik itu, ia sadar, yang sedang ia lawan bukan makanan. Melainkan dirinya sendiri.

       *

Hari-hari berlalu.

Tidak sempurna.
Tidak selalu berhasil.

Ia pernah jatuh.
Ia pernah makan berlebihan.

BACA JUGA :  Sambut HJK ke-357, Pemko Padang Gandeng BWS Sumatera V Kebut Pengerukan Sedimen dan Bongkar Bangkai Kapal di Batang Arau

Namun ada satu hal yang berubah: ia tetap melangkah mesti sempat goyah.

Mamanyalah yang selalu menguatkan.

“Yang penting kamu sehat Nak. Kamu bahagia menjalankannya. Mengatur kembali pola makan sehat…”

Sahabat-sahabatnya pun tidak pergi.

“Kita jalan bareng Za. Saling support. Saling mendukung…”

Zara mulai memahami. Bahwa menjaga tubuh adalah bentuk cinta kita pada diri sendiri.

Bulan pertama.
Tubuhnya mulai beradaptasi.

Bulan kedua.
Napasnya terasa lebih ringan.

Bulan ketiga.
Langkahnya tidak lagi berat.

Bulan keempat.

Zara berdiri di depan timbangan. Ia menatap angka itu lama.
60 kilogram

Dari 80 kilogram turun menjadi 60 kilogram.

Zara bersorak dalam hati. Ada keharuan kuat yang dirasakannya. Karena ia tahu betapa kerasnya ia berusaha.

Ia berdiri di depan cermin.

Wajah yang sama.
Mata yang sama.

Namun ada satu hal yang berubah: ia tidak lagi melihat dirinya dengan kecewa.

       *

Kini ia berjalan lebih ringan.
Lebih tenang.
Lebih percaya diri.

Ia kembali melamar pekerjaan.

Masuk ke ruang interview. Duduk dengan lebih tegak Lebih percaya diri.

“Kenapa kami harus memilih Anda?”

Zara tersenyum.

“Karena saya tahu rasanya jatuh. Dan saya tahu bagaimana bangkit. Saya tidak mudah menyerah.”

Beberapa hari kemudian, email itu datang.

BACA JUGA :  SMAN 3 Painan Juara I Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar, Wakili Sumbar ke Tingkat Nasional

“Selamat, Anda diterima.”

Zara memeluk mamanya. Menangis bahagia.

Bukan hanya karena pekerjaan itu, tetapi karena ia tahu…ia telah menang atas dirinya sendiri.

Kini Zara menjaga hidupnya.

Ia menjaga makan.
Ia menjaga ritme.
Ia menjaga keseimbangan.

Ia tetap menjalani puasa sunnah, bukan sebagai beban, melainkan sebagai kekuatan.

Karena ia tahu: sehat bukan hasil instan, tetapi buah dari kesungguhan yang dijaga setiap hari.

      *

Zara tidak berubah menjadi orang lain. Ia kembali menjadi dirinya, versi yang lebih kuat, lebih sadar, dan lebih utuh.

Dan jika hari ini kamu merasa lelah, merasa berat, atau ingin berhenti, ingat satu hal, tidak ada perubahan tanpa kesungguhan. Tidak ada kemenangan tanpa keberanian melawan diri sendiri.

Dan mungkin, yang selama ini kamu tunggu, bukan lagi waktu yang tepat, melainkan keberanian untuk memulai.

Bogor, 26 April 2026

Dosen IPB University, penulis dan penggiat literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *