Mengapa Hujan Ekstrem Tetap Terjadi di Sumatera Barat Saat El Niño Masih Kuat?

Oleh : Dr. Nofi Yendri Sudiar, M.Si.*)

Analisis Awal RCCC Universitas Negeri Padang

Hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat yang mengguyur Kota Padang dan sebagian besar wilayah Sumatera Barat pada Senin (3/8/2026) menyebabkan banjir dan genangan di sejumlah lokasi serta disertai angin kencang dan aktivitas petir yang tinggi.

Kejadian ini menjadi perhatian karena terjadi ketika El Niño masih berada pada kategori kuat, Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada fase positif, dan aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) relatif lemah. Secara klimatologis, kombinasi ketiga fenomena tersebut umumnya berkaitan dengan berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Data observasi BMKG menunjukkan bahwa kejadian ini memang memiliki intensitas yang sangat tinggi. AWS Maritim Bungus mencatat akumulasi curah hujan harian sebesar 285,6 mmStasiun Meteorologi Minangkabau mencatat 134,4 mm, sedangkan Stasiun Klimatologi Sumatera Barat mencatat 56,1 mm.

Berdasarkan klasifikasi intensitas hujan BMKG, nilai yang tercatat di Bungus telah masuk dalam kategori hujan ekstrem, sedangkan pengamatan di Minangkabau menunjukkan kategori hujan sangat lebat. Perbedaan curah hujan yang cukup besar antarstasiun juga menunjukkan bahwa sistem hujan yang berkembang bersifat konvektif dengan distribusi spasial yang tidak merata, di mana inti hujan terkonsentrasi di wilayah pesisir barat Sumatera Barat.

Berdasarkan sintesis informasi operasional BMKG dan kajian awal Research Center for Climate Change (RCCC) Universitas Negeri Padang, hujan ekstrem kali ini lebih dipengaruhi oleh dinamika atmosfer skala regional dibandingkan oleh kondisi iklim global.

Konvergensi Menjadi Pemicu Utama

Faktor utama yang memicu hujan adalah terbentuknya daerah konvergensi di atas wilayah Sumatera Barat. Konvergensi merupakan kondisi ketika aliran angin dari berbagai arah bertemu pada suatu wilayah sehingga udara dipaksa bergerak naik ke atmosfer.

BACA JUGA :  Wali Kota Solok Apresiasi Hadirnya Solok Arena, Fasilitas Baru untuk Geliat Olahraga Daerah

Udara yang naik akan mengalami pendinginan secara adiabatik hingga mencapai titik jenuh, membentuk awan Cumulonimbus (Cb) yang menghasilkan hujan lebat, petir, dan angin kencang. Dalam meteorologi tropis, konvergensi merupakan salah satu mekanisme paling efektif dalam memicu cuaca ekstrem.

Gelombang Kelvin Memperkuat Konveksi

Selain konvergensi, analisis BMKG menunjukkan bahwa Gelombang Kelvin sedang melintasi wilayah Sumatera Barat. Gelombang Kelvin merupakan gangguan atmosfer yang bergerak dari barat ke timur di sekitar ekuator dan berfungsi meningkatkan gerakan udara naik (updraft).

Ketika melintasi suatu wilayah yang telah memiliki kondisi atmosfer labil, Gelombang Kelvin mampu mempercepat pertumbuhan awan konvektif sehingga peluang terbentuknya hujan lebat menjadi semakin besar. Dengan demikian, Gelombang Kelvin tidak secara langsung menyebabkan hujan, tetapi memperkuat proses konveksi yang telah dipicu oleh konvergensi.

Samudra Hindia Menyediakan Pasokan Uap Air

Analisis juga menunjukkan adanya anomali positif suhu permukaan laut di Samudra Hindia bagian barat Sumatera. Suhu laut yang lebih hangat meningkatkan laju penguapan sehingga kandungan uap air di atmosfer menjadi lebih besar.

Uap air merupakan sumber energi utama bagi pembentukan awan hujan. Semakin besar kandungan uap air di atmosfer, semakin besar pula energi laten yang dilepaskan ketika terjadi kondensasi, sehingga awan Cumulonimbus dapat berkembang lebih cepat dan menghasilkan hujan dengan intensitas tinggi.

Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun IOD berada pada fase positif, kondisi laut di sekitar pantai barat Sumatera masih mampu menjadi sumber uap air yang sangat baik bagi pembentukan awan hujan.

BACA JUGA :  Selama Napas Masih Ada

Besarnya curah hujan yang tercatat di AWS Maritim Bungus dibandingkan stasiun lainnya menunjukkan bahwa wilayah pesisir barat Sumatera Barat menjadi lokasi utama perkembangan sistem konvektif. Kedekatan kawasan Bungus dengan Samudra Hindia memungkinkan pasokan uap air berlangsung secara terus-menerus, kemudian diperkuat oleh pengangkatan udara akibat topografi Bukit Barisan.

Kombinasi kedua faktor tersebut sangat mungkin menghasilkan pertumbuhan awan Cumulonimbus yang lebih intens dibandingkan wilayah di bagian timur.

Atmosfer Sangat Lembap

Data kelembapan udara pada pukul 00 UTC menunjukkan kondisi atmosfer yang hampir jenuh pada sebagian besar lapisan troposfer bawah.

  • Lapisan 850 mb memiliki kelembapan relatif (Relative Humidity/RH100%.
  • Lapisan 700 mb memiliki RH 90%.
  • Lapisan 500 mb memiliki RH 90%.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hampir seluruh kolom atmosfer telah dipenuhi uap air. Lingkungan atmosfer seperti ini sangat mendukung pertumbuhan awan Cumulonimbus hingga mencapai ketinggian yang besar dan mempertahankan aktivitas hujan dalam durasi yang lebih lama.

Mengapa El Niño Tidak Mampu Menghambat Hujan?

Kejadian ini menunjukkan bahwa El Niño tidak mengendalikan cuaca harian secara langsung. El Niño bekerja pada skala waktu bulanan hingga musiman dengan memengaruhi kecenderungan curah hujan secara rata-rata.

Sebaliknya, hujan yang terjadi pada suatu hari lebih banyak ditentukan oleh dinamika atmosfer regional seperti konvergensi, gelombang atmosfer, kandungan uap air, dan tingkat kelembapan udara.

Dengan kata lain, El Niño memang dapat menurunkan peluang hujan secara umum, tetapi tidak menutup kemungkinan terjadinya hujan ekstrem apabila kondisi atmosfer harian sangat mendukung terbentuknya konveksi yang kuat.

BACA JUGA :  Tentukan Masa Depan Daerah, Pemkab Pesisir Selatan Gelar Konsultasi Publik

Kesimpulan Sementara

Berdasarkan kajian awal RCCC, hujan ekstrem yang terjadi di Sumatera Barat pada 3 Agustus 2026 merupakan hasil interaksi beberapa faktor atmosfer yang bekerja secara bersamaan, yaitu:

  1. Terbentuknya daerah konvergensi yang memicu gerakan udara naik.
  2. Melintasnya Gelombang Kelvin yang memperkuat aktivitas konveksi.
  3. Anomali positif suhu permukaan laut di Samudra Hindia barat Sumatera yang meningkatkan pasokan uap air.
  4. Kondisi atmosfer yang sangat lembap hingga lapisan 500 mb sehingga mendukung pertumbuhan awan Cumulonimbus secara optimal.

Kajian ini menegaskan bahwa cuaca ekstrem di Indonesia tidak dapat dijelaskan hanya dengan melihat kondisi El Niño atau IOD. Analisis cuaca harian memerlukan pemahaman terhadap dinamika atmosfer regional yang berkembang pada saat kejadian. Oleh karena itu, pemantauan terhadap konvergensi, gelombang atmosfer, kondisi kelembapan udara, dan suhu permukaan laut menjadi sangat penting dalam meningkatkan akurasi analisis maupun peringatan dini cuaca ekstrem di Sumatera Barat.

RCCC Universitas Negeri Padang akan terus melakukan pemantauan terhadap dinamika atmosfer dan menyusun analisis lanjutan berdasarkan perkembangan data observasi dan hasil analisis meteorologi operasional.[]

Kepala Research Center for Climate Change UNP*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *