UIN Bukittinggi-USIM Sepakat Perkuat Living Da’wah di Ruang Siber

Utusan resmi Program Dakwah dan Pengurusan Islam Fakulti Kepemimpinan dan Pengurusan (FKP) USIM, Dr. Muhammad bin Hisham (tiga dari kanan) dan Dekan FUAD UIN Bukittinggi, Prof. Dr. Syafwan Rozi (tiga dari kiri) usai menandatangani nota kerjasama, Senin (10/8/2026). (foto; ist)

BUKITTINGGI, FOKUSSUMBAR.COM – Maraknya konten dakwah digital yang sekadar mengejar views dan popularitas algoritmik memicu perhatian akademisi muda lintas negara. Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi bersama Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) sepakat merumuskan pendekatan baru berbasis living da’wah guna menjawab tantangan ruang siber.

Kesepakatan tersebut mengemuka dalam pertemuan ilmiah antara 15 mahasiswa program Global Islamic Student Outreach (GISO) FKP USIM dan mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN Bukittinggi di Kampus UIN Bukittinggi, Senin (10/8/2026). Forum ini digelar untuk menggeser arah syiar Islam dari sekadar retorika panggung menuju pemikiran ilmiah yang solutif.

“Dakwah modern tidak lagi bisa mengandalkan retorika tunggal,” kata Kepala Pusat Hubungan Internasional UIN Bukittinggi, Dr. Irwandi, dalam keterangannya.

BACA JUGA :  Ketua PD PPM Sumbar Evi Yandri Rajo Budiman Silaturahmi dan Koordinasi dengan DPD LVRI Sumbar

Irwandi menjelaskan, kolaborasi ini menembus batasan konvensional melalui living da’wah—manifestasi nilai agama yang mewujud dalam aksi nyata di sektor sosial, ekonomi, hingga teknologi.

Integrasi antara tradisi analisis teks mahasiswa UIN Bukittinggi dan metodologi pengorganisasian masyarakat (outreach) ala USIM dirancang untuk menjawab persoalan kontemporer, seperti etika kecerdasan buatan (AI), kesehatan mental, dan krisis lingkungan.

Langkah strategis ini didukung penuh oleh pimpinan kampus. Rektor UIN Bukittinggi Prof. Silfia Hanani dan Dekan FUAD Prof. Dr. Syafwan Rozi menegaskan bahwa internasionalisasi perguruan tinggi tidak boleh berhenti di atas kertas atau penandatanganan nota kesepahaman (MoU), melainkan wajib mewujud dalam aksi nyata di lapangan.

BACA JUGA :  Sambut HUT RI ke-81, ASN Kankemenag Pasbar Gelar Gebermas

Selain diskursus akademis, forum ini juga membekali mahasiswa dengan kompetensi praktis untuk membendung komersialisasi konten digital. Para mahasiswa didorong memproduksi konten siber yang beretika, merancang program pemberdayaan masyarakat terukur, serta membumikan filosofi lokal Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) ke panggung internasional.

Melalui sinergi ini, para akademisi dari UIN Bukittinggi menegaskan kesadaran baru: masa depan dakwah tidak lagi diukur dari seberapa nyaring suara di atas mimbar, melainkan sejauh mana kedalaman pemikiran dan nilai Islam mampu memberi solusi bagi peradaban. (rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *