Menolak Suap, Merawat Harga Diri

Oleh : Shintalya Azis*)

Perjalanan tim tiga kali ini adalah untuk melakukan verifikasi langsung ke lokasi para calon vendor.

Serangkaian presentasi, sesi tanya jawab, dan inspeksi area kerja telah mereka selesaikan di beberapa perusahaan. Hingga akhirnya, di salah satu kandidat yang semula dianggap kuat, mereka menemukan sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Di dalam kotak snack yang dibagikan kepada masing-masing anggota tim, terselip sebuah amplop putih yang tampak tebal. Ketika membuka kotak dan melihat amplop itu, tidak seorang pun dari mereka menyentuh isinya. Deni, Sarah, dan Afa justru memotret amplop tersebut sebagai dokumentasi.

Foto-foto itu segera dikirimkan ke grup koordinasi WhatsApp yang memang dibentuk khusus untuk misi verifikasi tersebut. Dalam hitungan menit, mereka sepakat untuk menegur pihak vendor secara terbuka dan mengembalikan amplop itu saat itu juga.

Deni, sebagai pimpinan rombongan, mengangkat amplop itu sambil berkata dengan tenang,

Baca juga:  “Dek Ulah Tasasak Mangkonyo Baserak”

“Maaf, apakah amplop ini memang termasuk bagian dari snack, atau tidak sengaja masuk ke dalam kotak ini?”

Serentak Sarah dan Afa ikut mengangkat amplop dari kotak mereka masing-masing.

Suasana ruangan seketika berubah. Pimpinan calon vendor tampak gugup. Ia tidak menyangka ketiga tamunya akan menanyakan hal itu secara langsung.

Deni melanjutkan dengan tegas,

“Kami tidak memerlukan amplop ataupun pemberian dalam bentuk apa pun. Kedatangan kami murni untuk melakukan verifikasi terhadap perusahaan yang mengikuti proses tender. Silakan ambil kembali amplop ini.”

Tanpa ragu, ketiganya meletakkan amplop tersebut di atas meja di hadapan pihak vendor. Rapat pun berakhir dalam suasana yang canggung.

Bagi tiga sekawan, integritas bukanlah sesuatu yang bisa dinegosiasikan. Jauh lebih berharga daripada amplop tebal.
Perusahaan itu akhirnya dicoret dari daftar kandidat.

Menolak suap bukan sekadar menjalankan aturan. Ia adalah ikhtiar merawat marwah profesi, memperkuat budaya compliance, dan meneguhkan praktik good governance.

Baca juga:  Erizal Ajak Kader Golkar Padang Bersatu Sukseskan Muscam Secara Demokratis

Menolak sebuah amplop mungkin tampak sebagai tindakan kecil. Namun, dari keputusan-keputusan kecil seperti itulah budaya organisasi dibangun.

Ketika setiap individu memilih menjaga integritas, organisasi akan tumbuh menjadi institusi yang dipercaya.

Kepercayaan itulah sebagai fondasi utama good governance yang melahirkan transparansi, akuntabilitas, independensi, kewajaran, dan tanggung jawab dalam setiap proses pengambilan keputusan.(*)

#33daysintegritychallenge #aksikita #lawankorupsi # biasakanyangbenar #day24 IG: @aclc.kpk

Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *