Oleh: Basrizal Dt. Panghulu Basa*)
Pendidikan tinggi sejatinya menjadi jalan untuk melahirkan manusia yang berilmu, berkarakter, inovatif, dan mampu menjawab tantangan zaman. Namun, realitas hari ini memperlihatkan ironi yang semakin nyata. Ribuan lulusan perguruan tinggi setiap tahun justru menghadapi kenyataan pahit: ijazah ada, tetapi pekerjaan yang sesuai tidak tersedia.
Di sisi lain, dunia usaha dan industri mengeluhkan sulitnya memperoleh tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan. Inilah yang dikenal sebagai fenomena mismatch, ketidaksesuaian antara hasil pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja dan pembangunan.
Persoalan ini bukan semata-mata kesalahan lulusan. Ia merupakan cermin dari arah kebijakan pendidikan tinggi yang belum sepenuhnya mampu membaca perubahan ekonomi, perkembangan teknologi, dan kebutuhan masyarakat. Banyak program studi masih mempertahankan kurikulum yang kurang adaptif, lebih menekankan aspek teoritis daripada penguasaan keterampilan, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah.
Lebih ironis lagi, keberhasilan pendidikan tinggi sering diukur dari jumlah wisudawan, bukan dari kualitas, daya saing, maupun kontribusi nyata para lulusannya terhadap masyarakat. Akibatnya, perguruan tinggi berpotensi menjadi “pabrik ijazah”, sementara dunia kerja membutuhkan manusia yang mampu bekerja, berinovasi, dan berkolaborasi.
Fenomena mismatch juga menunjukkan bahwa hubungan antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat belum terbangun secara kuat. Pendidikan masih berjalan sendiri, sedangkan kebutuhan lapangan kerja berkembang dengan sangat cepat akibat digitalisasi, kecerdasan buatan, ekonomi hijau, dan transformasi industri.
Lebih jauh lagi, pendidikan tinggi jangan hanya dipandang sebagai mesin pencetak tenaga kerja. Fungsi utamanya adalah membentuk manusia yang berpikir kritis, berintegritas, berjiwa kepemimpinan, serta mampu menciptakan peluang, bukan sekadar mencari pekerjaan. Bangsa yang besar membutuhkan pencipta lapangan kerja, ilmuwan, inovator, pemimpin, dan wirausahawan, bukan hanya pencari kerja.
Karena itu, diperlukan keberanian untuk melakukan transformasi pendidikan tinggi secara menyeluruh. Kurikulum harus disusun berdasarkan kebutuhan masa depan, bukan hanya kebutuhan hari ini. Kolaborasi dengan dunia usaha, dunia industri, pemerintah, dan masyarakat harus menjadi bagian integral dari proses pendidikan. Penguatan riset terapan, kewirausahaan, literasi digital, kecakapan teknologi, kemampuan komunikasi, dan penguasaan bahasa asing harus menjadi prioritas.
Di samping itu, pemerintah perlu membangun sistem pemetaan kebutuhan tenaga kerja nasional secara akurat sehingga pembukaan program studi dan daya tampung mahasiswa benar-benar selaras dengan arah pembangunan ekonomi nasional dan potensi daerah.
Bagi masyarakat Minangkabau, persoalan ini sesungguhnya telah lama diingatkan melalui falsafah adat: “Alam takambang jadi guru.”
Artinya, pendidikan harus mampu membaca perubahan zaman, belajar dari realitas kehidupan, dan menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat. Ilmu yang tidak menjawab kebutuhan kehidupan hanya akan menjadi kebanggaan di atas kertas.
Pepatah lain mengingatkan:
“Bak mancari aia ka ilia, padahal di hulu mato aia.”
Jangan sampai kita sibuk mencari solusi di tempat yang salah, sementara akar persoalan terletak pada sistem pendidikan yang belum sepenuhnya adaptif terhadap perubahan.
Pendidikan tinggi harus kembali pada hakikatnya: membangun peradaban, memerdekakan cara berpikir, dan melahirkan generasi yang mampu menciptakan masa depan.
Jika tidak, mismatch akan terus menjadi ironi yang melahirkan pengangguran terdidik di tengah kebutuhan besar akan sumber daya manusia yang unggul.
Sudah saatnya kebijakan pendidikan tinggi tidak lagi berorientasi pada kuantitas lulusan, melainkan pada kualitas, relevansi, dan kebermanfaatan. Sebab, ukuran keberhasilan sebuah universitas bukanlah berapa banyak ijazah yang dibagikan, tetapi berapa banyak solusi yang dihadirkan bagi bangsa dan berapa besar kontribusi alumninya dalam membangun masyarakat.
Pendidikan yang hebat bukan sekadar meluluskan sarjana, tetapi melahirkan manusia yang mampu menjawab tantangan zamannya. []
Ketua Dewan Pengawas Komite MTsN Padang Panjang *)
