Gratifikasi Atau Rezeki?

Oleh: Shintalya Azis*)

Seorang sekretaris yang telah bekerja selama puluhan tahun dikenal sebagai pribadi yang rajin, teliti, dan setia menjalankan tugasnya. Di mata atasannya, ia merupakan pegawai yang dapat diandalkan.

Namun, ada satu kebiasaan yang perlahan dianggap lumrah. Setiap kali ada karyawan yang akan melakukan perjalanan dinas, ia selalu berpesan, “Jangan lupa oleh-olehnya, ya.”

Kalimat itu terdengar ringan, bahkan disampaikan sambil tersenyum. Akan tetapi, ketika seseorang pulang tanpa membawa buah tangan untuknya, sindiran mulai bermunculan.

Ada yang disampaikan secara langsung, ada pula yang menjadi bahan pembicaraan di belakang. Akibatnya, hampir semua pegawai yang berangkat dinas merasa memiliki kewajiban moral untuk membawa oleh-oleh bagi sang sekretaris.

Baca juga:  Ruang Bertumbuh

Di antara para pegawai bahkan muncul istilah yang diucapkan sambil bercanda, “Jangan lupa oleh-oleh Bunda Ratu.” Candaan itu lahir bukan semata karena keakraban, melainkan karena semua memahami bahwa ada ekspektasi yang harus dipenuhi.

Dimatanya semua itu dianggap sebagai rezeki. Tidak ada uang yang diminta. Tidak ada amplop yang diterima. Hanya sekadar buah tangan dari mereka yang baru kembali dari perjalanan dinas.

Namun, benarkah demikian?

Ini menyangkut masalah integritas. Persoalan yang tidak selalu diukur dari besarnya nilai pemberian. Yang jauh lebih penting adalah mengapa pemberian itu terjadi.

Apakah benar-benar lahir dari ketulusan, atau karena adanya rasa sungkan terhadap seseorang yang memiliki posisi, kedekatan dengan pimpinan, atau pengaruh tertentu di lingkungan kerja?

Baca juga:  Wawako Mulyadi Resmi Tutup Kejuaraan Sepatu Roda Tingkat Nasional Pariaman Open 2026

Terkadang penyalahgunaan posisi tidak harus hadir dalam bentuk perintah yang keras ataupun ancaman yang nyata. Ia justru muncul dalam kebiasaan-kebiasaan kecil yang menciptakan tekanan psikologis.

Senyuman yang mengandung harapan, sindiran yang berulang, atau budaya yang membuat orang merasa tidak enak bila tidak memberi, perlahan menjadi cara memanfaatkan posisi yang dimiliki untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Tanpa disadarinya, jabatannya mulai menghadirkan manfaat yang seharusnya tidak melekat pada jabatan itu sendiri.

Tidak ada paksaan yang tertulis, tetapi ada pengaruh yang membuat orang merasa “harus”. Tidak ada aturan yang dilanggar, tetapi ini suatu kekeliruan karena menganggapnya sebagai rezeki.

Baca juga:  Geser ke Kanan, Kecepatan Penuh!

Padahal rezeki adalah karunia yang datang melalui jalan yang bersih dan tidak membebani siapa pun.

Apabila sebuah pemberian lahir karena seseorang merasa tidak enak, takut menjadi bahan gunjingan, atau khawatir hubungannya di tempat kerja terganggu, maka pemberian itu patut direnungkan kembali. Rezeki atau pemaksaan? (*)

#33daysintegritychallenge #aksikita #lawankorupsi # biasakanyangbenar #day26 IG: @aclc.kpk

Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *