Oleh : Nurul Jannah*)
Beberapa waktu lalu aku membantu sahabatku, Shinta, merapikan rumahnya.
Seluruh isi lemari dikeluarkan. Ruang tamu dipenuhi kardus. Meja tertutup tumpukan buku. Kursi dipenuhi pakaian yang sedang dipilah.
Rumah itu tampak jauh lebih berantakan daripada sebelumnya.
Aku tersenyum melihat keadaan itu.
“Lagi pindahan?” tanyaku.
Ia tertawa kecil.
“Bukan. Lagi beres-beres.”
Kalimat itu sederhana.
Namun entah mengapa, ia terus tinggal di kepalaku.
Bukankah hidup juga sering seperti itu?
Ada masa ketika pekerjaan terasa tidak menentu.
Rencana yang disusun bertahun-tahun tiba-tiba berubah arah.
Orang yang paling dipercaya memilih pergi tanpa banyak penjelasan.
Keuangan mendadak terasa sempit.
Doa-doa seolah belum menemukan jawabannya.
Di saat seperti itu, biasanya kita mulai berkata, “Hidupku sedang hancur.” Padahal belum tentu.
Bisa jadi Allah sedang mengeluarkan “isi lemari” kehidupan agar semuanya dapat ditata kembali.
Tidak ada rumah yang kembali rapi, tanpa lebih dulu dibongkar.
Tidak ada taman yang indah, tanpa memangkas ranting-ranting yang telah mengering.
Tidak ada emas yang berkilau, tanpa dibakar oleh panas yang tinggi.
Tidak ada berlian yang memancarkan cahaya, tanpa tekanan yang luar biasa.
Begitu pula kita.
Kadang Allah tidak langsung memperbaiki hidup.
Allah terlebih dahulu membongkar kesombongan yang ada. Merapikan cara berpikir yang mulai keliru. Membersihkan hati yang banyak menyimpan kecewa. Melepaskan genggaman pada hal-hal yang selama ini dianggap paling berharga.
Barulah setelah itu, satu demi satu, kehidupan disusun kembali.
Proses itu memang tidak nyaman. Bahkan sering kali menyakitkan. Sebab setiap pertumbuhan selalu meminta keberanian untuk berubah.
Suatu sore, Shinta datang lagi.
Matanya berkaca-kaca.
“Aku capek…”
“Rasanya hidupku berantakan. Kenapa semuanya datang bersamaan?”
Aku tidak langsung menjawab. Aku mengajaknya duduk di teras rumah.
Kami memandang langit yang perlahan berubah jingga.
Setelah beberapa saat aku bertanya, “Masih ingat rumahmu waktu kita beres-beres kemarin?”
“Iya.”
“Menurutmu, rumah itu terlihat rapi atau berantakan?”
“Berantakan.”
“Lalu, apakah saat itu rumahmu sedang dihancurkan?”
Ia menggeleng.
“Enggak. Aku sedang menatanya.”
Aku tersenyum.
“Mungkin, itulah yang sedang Allah lakukan pada hidupmu.”
Ia terdiam. Air matanya mulai jatuh.
Betapa sering kita panik di tengah proses. Padahal, bisa jadi, di situlah Allah sedang bekerja.
Betapa sering kita ingin segera tiba di garis akhir.
Padahal justru di tengah perjalanan itulah hati sedang dibentuk menjadi lebih kuat.
Tidak sedikit yang menyerah karena mengira proses adalah hukuman.
Padahal bisa jadi, proses adalah bentuk kasih sayang Allah agar kita siap menerima amanah yang lebih besar.
Lihatlah kupu-kupu. Sebelum mampu terbang, ia harus melewati kepompong yang gelap.
Lihatlah padi. Semakin berisi, semakin merunduk.
Lihatlah pohon. Akarnya justru tumbuh semakin dalam ketika badai datang.
Demikian pula kehidupan.
Kekacauan bukan selalu pertanda kehancuran.
Sering kali justru menjadi tanda bahwa Allah sedang menumbuhkan pribadi yang baru.
Yang hilang mungkin sedang diganti. Yang tertunda mungkin sedang dipersiapkan. Yang dipatahkan mungkin sedang diarahkan menuju jalan yang lebih baik.
Karena Allah tidak pernah keliru menata kehidupan hamba-Nya.
Jika hari ini langkah terasa berat, jika rencana belum berjalan sesuai harapan, jika karier belum seperti yang diimpikan dan jika ada doa yang masih menggantung di langit, jangan tergesa-gesa menyebut hidup ini gagal.
Barangkali Allah sedang merapikan bagian-bagian yang selama ini tidak pernah disadari perlu diperbaiki.
Suatu hari nanti, ketika semuanya telah selesai, dan ketika kita menoleh kembali ke belakang, kita bisa tersenyum.
“Ternyata, yang dulu aku kira kehancuran hanyalah cara Allah menyiapkan aku menjadi pribadi yang lebih kuat.”
Dan saat itu tiba, kita akan memahami, bahwa Allah tidak sedang menghancurkan hidup kita. Dia sedang membangun pribadi kita yang lebih sabar, lebih rendah hati, lebih bijaksana, dan lebih dekat kepada-Nya.
Karena di balik setiap kekacauan yang diizinkan Allah, selalu ada ruang bagi jiwa untuk bertumbuh.
Dan sering kali, kehidupan yang lebih indah hanya bisa dimasuki oleh mereka yang bersedia melewati ruang pembentukan💙.
Jakarta, 3 Juli 2026
Penulis adalah Dosen IPB University Bogor, aktif menulis dan literasi*)






