Oleh : Nurul Jannah*)
Temuan penting dalam audit lingkungan hidup adalah ketidaktaatan yang berpotensi menimbulkan dampak besar dan harus segera ditindaklanjuti.
Selama bertahun-tahun menjadi auditor, aku pun meyakini hal itu. Namun Audit Lingkungan Hidup di Padang kali ini mengajarkan satu teori baru.
Ternyata ada satu temuan audit yang tidak tertulis dalam protokol audit, tetapi berhasil membuat satu tim terus mengingatnya hingga audit usai.
Namanya, Durian Batu Busuak.
Hari itu tim audit lingkungan dibagi menjadi tiga. Tim pertama menuju PLTA. Tim kedua melakukan pengecekan terkait komunikasi risiko bersama masyarakat. Sedangkan tim ketiga menuju kawasan tambang. Pagi itu, aku kebagian tugas menuju PLTA.
Semua berangkat dengan semangat yang sama. Membawa checklist. Membawa kamera. Membawa daftar pertanyaan. Membawa tanggung jawab yang sama besar.
Hanya satu yang berbeda. Tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa lokasi penugasan hari itu ternyata akan menentukan nasib perut masing-masing.
Tak ada yang menyangka, pembagian tim itu akan melahirkan cerita yang terus menjadi bahan ghibah ilmiah hingga audit berakhir.
Menjelang siang, tetiba telepon genggamku bergetar. Sebuah foto masuk ke grup audit. Kubuka.
“Masya Allah…”
Di layar tampak Bambang, Susanto, Mufti, Elza, dan Sari duduk santai di bawah rindangnya pepohonan rindang. Di depan mereka tersusun beberapa durian yang baru dibelah.
Dagingnya kuning keemasan. Tebal. Legit. Mengilap. Bahkan hanya melihat fotonya saja rasanya sudah membuat air liur ikut menetes.
Belum sempat rasa iri itu reda, tim komunikasi risiko mengirim foto yang hampir sama. Lhoh, ternyata mereka juga sedang menikmati durian!
Aku baru sadar. Hari itu, dua tim, termasuk tim PLTA ku, ternyata bertugas di Kampung Batu Busuak, daerah yang sudah lama dikenal sebagai rumah bagi Durian Batu Busuak, salah satu durian lokal yang begitu melegenda di Sumatera Barat.
Aku langsung menulis di grup.
“Laporan sementara: dua tim sedang melaksanakan audit lingkungan sekaligus audit kualitas Durian Batu Busuak.”
Tak sampai beberapa detik, grup langsung riuh. Emoji tawa mewarnai layar grup audit. Komentar bermunculan. Terutama dari tim tambang yang mulai kasak kusuk, merasa sedang mengalami ketidakadilan struktural.
Sementara itu, tim tambang sedang mengalami kenyataan yang jauh berbeda.
Debu beterbangan. Jalan menanjak. Terik matahari yang terasa membakar. Observasi Lapangan terasa makin berat. Wawancara. Pengukuran dan Dokumentasi pun menjadi oleng.
Tidak ada aroma durian sama sekali. Yang ada hanya aroma tanah, batu, dan semangat menyelesaikan audit.
Di tengah kesibukan itu, ponselku kembali berbunyi. Pesan pribadi dari Imel, salah satu anggota tim tambang.
“Bu Haji lagi makan durian ya? Tolong bawainlah buat kami yang lagi di tambang…”
Aku langsung tertawa sendiri. Kubalas singkat.
“Imel, durian itu bukan nasi kotak.”
Tak lama kemudian balasan datang.
“Tetap diusahakan ya Bu. Masa tim tambang hanya kebagian panas dan debu doang.”
Aku makin tertawa. Mana mungkin durian dibawa berjam-jam di dalam mobil. Baru membayangkan saja berasa lucu.
Bisa-bisa mobil audit berubah fungsi menjadi mobil parfum durian keliling.
Sore harinya seluruh tim kembali berkumpul. Belum juga rapat dimulai, Imel langsung menagih.
“Durian, mana durian Batu Busuak?”
Aku hanya bisa mengangkat kedua tangan.
“Mohon maaf, operasi penyelamatan durian dinyatakan gagal.”
Ruangan langsung pecah oleh tawa. Sendy menimpali.
“Berarti kami tim tambang benar-benar ditinggalkan ya.”
“Bukan ditinggalkan sih, hanya dilupakan. Lagian, siapa suruh beda lokasi?”, Goda Bambang. Imel pun langsung merengut.
“Huh, lokasi ternyata menentukan nasib. Lokasi beda, nasib juga beda.”
Hasan yang sejak tadi diam tiba-tiba menyela,
“Bukan cuma lokasi, mungkin juga tergantung amal masing-masing “
Seketika ruangan bergemuruh. Bahkan yang sedang minum pun hampir tersedak karena menahan tawa.
Sejak saat itu, hampir semua pembicaraan selalu kembali ke durian.
Ketika ada yang bertanya,
“Sudah selesaikah rumusan temuannya?”
Yang lain dengan enteng menjawab,
“Belum, karena masih kepikiran durian.”
Saat makan malam. Durian lagi yang jadi bahan gosip.
Saat perjalanan menuju lokasi, masih juga ngobrolin durian.
Elza menggoda Imel.
“Lain kali jangan mau ke tambang.”
Imel langsung menjawab.
“Kalau tahu Kampung Batu Busuak punya durian seenak itu, saya pindah tim sejak briefing pagi.”
Sari tertawa. “Terus yang audit tambang siapa?”
Belum sempat ada yang menjawab, Sendy sudah menyela.
“Tambangnya nanti saja… yang penting duriannya dulu.”
Ruangan kembali pecah oleh tawa.
Hari terakhir audit akhirnya tiba. Seluruh pekerjaan selesai. Observasi lapangan tuntas. Temuan telah dirumuskan. Closing meeting pun sudah dipersiapkan baik-baik.
Namun rupanya, Masih ada satu temuan yang belum dapat ditutup.
“Bu… menurut saya ini termasuk temuan penting. Ketidaktaatan.”*
Aku pura-pura serius.
“Temuan apa?”
Ia menjawab tanpa ragu.
“Tim tambang gagal menikmati Durian Batu Busuak.”
Ruangan kembali riuh. Aku menahan tawa.
“Baik… rekomendasi tindak lanjutnya apa?”
Susanto langsung mengangkat tangan.
“Audit berikutnya, pembagian tim harus mempertimbangkan radius terhadap lokasi durian.”
Bambang pun menyambung.
“Kalau perlu poin itu dimasukkan ke dalam rencana audit.”
Elza tidak mau kalah.
“Sekalian dibuatkan checklist.”
Sari menambahkan.
“Dan wajib diverifikasi efektivitasnya.”
Aku pura-pura mencatat.
“Baik. Status temuan: Ketidaktaatan. Penyebab: Pembagian tim kurang memperhatikan sebaran durian. Rekomendasi: seluruh auditor minimal mencicipi satu Durian Batu Busuak. Penanggung jawab: ketua tim.”
Semua tertawa lebih keras. Imel tersenyum puas.
“Nah… ini baru adil.”*
Dalam perjalanan pulang aku justru tersenyum sendiri. Lucu sekali. Di tengah audit yang penuh tekanan. Laporan yang harus diselesaikan. Medan lapangan yang tidak ringan. Alhamdulillah. Allah masih menyelipkan ruang tertawa bersama. Barangkali begitulah cara Allah menjaga hati kami.
Menghadirkan cerita-cerita kecil agar perjalanan panjang terasa lebih hangat.
Karena pada akhirnya, yang paling lama tinggal di dalam ingatan bukan hanya hasil audit. Bukan hanya laporan yang selesai ditulis. Melainkan tawa yang dibagi di sela-sela kelelahan.
Persahabatan yang tumbuh di tengah tanggung jawab. Candaan yang membuat setiap perjalanan terasa jauh lebih ringan.
Kini, setiap kali nama Kampung Batu Busuak disebut, yang pertama kali muncul di kepala kami bukan hanya desa yang indah atau duriannya yang luar biasa.
Yang muncul justru hati Imel yang retak, serta wajah Imel yang berkali-kali “menagih” durian, ekspresi wajah Sendy yang merasa menjadi korban pembagian tim, serta gelak tawa yang tak pernah benar-benar selesai hingga hari terakhir audit.
Sejak hari itu kami mempunyai kesepakatan baru.
Dalam setiap audit selalu ada temuan ketidaktaatan. Kadang ada juga temuan ketidaksesuaian. Tetapi yang paling membekas justru temuan yang tidak pernah tertulis di dalam laporan.
Temuan tentang persahabatan. Tentang tawa. Tentang kebersamaan. Dan tentang Durian Batu Busuak yang berhasil mengubah perjalanan audit menjadi kenangan yang akan selalu diceritakan setiap kali kami kembali bertemu.
Temuan audit lingkungan selalu memiliki tindakan korektif. Tetapi luka karena tidak sempat mencicipi Durian Batu Busuak, masih berstatus open finding dan akan terus menjadi legenda di dalam tim audit kami.
Padang, 9 Juli 2026❤️
Dosen IPB University, penulis dan penggiat literasi*)






