Ketika Rima Bertanya

Oleh: Nurul Jannah*)

“Kek, benarkah dulu sungai bisa diminum airnya?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Rima yang baru berusia delapan tahun.

Kakeknya tersenyum. Namun senyum itu tidak sepenuhnya bahagia. Nampak dari raut Kakek, seakan ada kenangan yang tiba-tiba bergerak dari masa lalu.

“Iya, Rima.”

“Langsung dari sungainya?”

“Iya.”

“Tanpa beli air kemasan?”

“Iya, tanpa beli air kemasan.”

Rima membelalakkan mata. Baginya, sungai yang airnya bisa langsung diminum terdengar seperti cerita dalam buku dongeng.

“Kek, benarkah dulu ikan banyak di sungai?”, tanya Rima lebih lanjut

“Banyak.”

“Burung-burung juga?”

“Banyak sekali.”

“Pohon besar?”

“Hampir di mana-mana ada. Mudah sekali ditemukan.”

Rima terdiam beberapa saat. Lalu kembali bertanya dengan polos.

“Kalau dulu semuanya ada, kenapa sekarang banyak yang hilang?”

Kakeknya tidak langsung menjawab. Barangkali itulah pertanyaan yang suatu hari nanti akan diajukan oleh banyak anak lainnya.

Bukan tentang telepon genggam. Bukan tentang kecerdasan buatan. Bukan tentang gedung-gedung yang semakin tinggi. Melainkan tentang hal-hal yang dahulu dianggap biasa, lalu perlahan menjadi langka.

Tentang sungai yang tidak lagi jernih. Tentang udara yang semakin panas. Tentang burung yang semakin jarang terdengar kicauannya pada pagi hari. Tentang pohon-pohon besar yang kini lebih sering ditemukan dalam foto lama dibandingkan di halaman rumah.


Sesungguhnya bumi sejak dahulu selalu memberi. Memberi udara untuk bernapas. Memberi air untuk menghilangkan dahaga. Memberi tanah untuk menumbuhkan kehidupan.

Memberi laut untuk mencari nafkah. Memberi hutan untuk menjaga keseimbangan. Dan memberi ruang bagi kita untuk tumbuh, bermimpi, mencintai, dan membesarkan generasi berikutnya.

Namun sering kali, kebaikan yang terus-menerus diterima justru membuat kita lupa mensyukurinya.

Padahal alam selalu berbicara. Hanya saja tidak melalui kata-kata. Ia berbicara melalui sungai yang mulai keruh. Melalui mata air yang mulai mengecil.

Melalui udara yang semakin panas. Melalui musim yang semakin sulit ditebak. Melalui banjir yang datang lebih sering. Melalui berbagai tanda yang sebenarnya telah lama hadir di hadapan kita.

Ironisnya, banyak dari kita baru menyadari nilai sebuah anugerah ketika anugerah itu mulai berkurang. Kita merindukan udara bersih ketika polusi semakin pekat. Kita menghargai air ketika sumbernya mulai menyusut. Kita mencari keteduhan ketika pohon-pohon telah ditebang.

Kita merindukan alam yang sehat setelah melihat betapa mahal harga yang harus dibayar ketika alam kehilangan keseimbangannya.

Padahal menjaga selalu lebih mudah daripada memperbaiki.

Menanam lebih mudah daripada menunggu longsor.

Merawat lebih mudah daripada memulihkan. Dan, mencegah jauh lebih mudah daripada menyesal.

Perubahan besar hampir selalu lahir dari langkah-langkah kecil.

Dari membawa pulang sampah yang kita hasilkan. Dari menanam satu pohon. Dari menjaga satu mata air. Dari menghemat listrik. Dari mengajarkan anak-anak untuk mencintai lingkungan sejak dini.

Karena masa depan tidak dibangun oleh satu tindakan besar, melainkan oleh ribuan tindakan kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran.

Suatu hari nanti, mungkin Rima pun akan tumbuh dewasa. Mungkin ia akan menjadi seorang ibu. Mungkin ia akan menggandeng tangan anaknya berjalan di bawah langit yang sama.

Dan mungkin pertanyaan itu akan kembali muncul.

“Ibu, ketika bumi mulai terluka, apa yang kalian lakukan?”

Betapa indahnya bila generasi hari ini dapat menjawab dengan penuh bertanggung jawab,

“Kami menanam ketika banyak yang menebang.”

“Kami menjaga ketika banyak yang mengabaikan.”

“Kami bergerak ketika banyak yang memilih menunggu.”

“Kami mencintai bumi karena kami mencintai kalian.”

Bumi tidak membutuhkan janji yang indah. Bumi membutuhkan tindakan nyata. Membutuhkan kepedulian. Membutuhkan keberanian untuk berubah. Membutuhkan lebih banyak hati yang sadar bahwa lingkungan bukan warisan yang bebas dihabiskan.

Lingkungan adalah titipan yang harus dikembalikan dalam keadaan baik kepada anak cucu kita.

Dan ketika suatu hari Rima kembali bertanya, “Kek, apa yang Kakek lakukan ketika bumi mulai terluka?”

Semoga jawabannya bukan diam penuh penyesalan. Melainkan jawaban senyum kebahagiaan. Diikuti kalimat sederhana yang diucapkan dengan penuh rasa bahwa “Kakek selama ini ikut menjaganya, Nak.”

Karena pada akhirnya, yang akan dikenang oleh generasi berikutnya bukan seberapa banyak yang kita miliki. Melainkan seberapa baik kita menjaga rumah yang sama-sama kita tinggali.

Dan rumah itu bernama bumi.

Kelak, ketika anak-anak bertanya mengapa sungai masih mengalir, mengapa pohon-pohon masih berdiri, dan mengapa burung-burung masih bernyanyi di pagi hari, semoga di dalam semua jawaban itu ada sedikit jejak kepedulian yang pernah kita tinggalkanđź’™.

Jakarta, 10 Juni 2026

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *