Oleh: Prof. Asasriwarni
Dalam perjalanan spiritual, banyak orang mendambakan satu keadaan yang dianggap sebagai puncak kedewasaan jiwa: menjadi “nol”. Sebuah kondisi ketika kesombongan sirna, rasa memiliki memudar, dan ego tak lagi mendominasi kehidupan.
Namun, pertanyaan yang patut direnungkan adalah: apakah seseorang dapat sampai pada keadaan itu tanpa bimbingan seorang guru?
Secara teoretis, jawabannya mungkin bisa. Namun dalam praktiknya, jalan tersebut sangat terjal dan penuh jebakan.
Sebab “nol” bukanlah sekadar konsep yang dipahami melalui bacaan atau diskusi.
Bukan pula status yang dapat diklaim atau diumumkan. “Nol” adalah proses panjang penghancuran ego, sebuah perjalanan yang justru sering kali memperlihatkan betapa kuatnya “aku” bersembunyi dalam berbagai bentuk.
Di sinilah letak persoalannya. Banyak orang merasa dirinya telah ikhlas, telah pasrah, telah mencapai puncak spiritualitas. Namun tanpa disadari, yang berbicara sesungguhnya masih ego itu sendiri.
“Aku sudah ikhlas”, “aku sudah tidak mengejar dunia”, atau “aku sudah nol”.
Kalimat-kalimat semacam ini kadang menunjukkan bahwa “aku” masih hadir, hanya tampil dalam wajah yang lebih halus.
Dalam tradisi keilmuan Islam, perjalanan menuju kedekatan dengan Allah SWT ditempuh melalui beragam pendekatan. Sebagian ulama menempuh jalan pemikiran dan ilmu pengetahuan, yang dikenal dengan ahlul fikri.
Mereka mendalami Al-Qur’an, hadis, fikih, dan berbagai cabang ilmu untuk memahami hakikat kehidupan.
Ilmu adalah cahaya. Dengan ilmu, seseorang mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara petunjuk dan kesesatan. Namun ilmu semata tidak selalu otomatis menghancurkan ego.
Seseorang bisa memahami definisi ikhlas secara sangat mendalam, tetapi belum tentu berhasil menghidupkan keikhlasan dalam dirinya.
Di sisi lain, terdapat mereka yang menempuh jalan penyucian jiwa, mujahadah, dan pengalaman batin yang dikenal sebagai ahlul kasyfi.
Mereka berusaha membersihkan hati melalui zikir, ibadah, dan pengendalian nafsu sehingga memperoleh pemahaman yang lahir dari pengalaman ruhani.
Namun jalan ini juga memiliki tantangan tersendiri. Tidak semua pengalaman batin merupakan petunjuk. Tidak setiap rasa yang muncul dalam hati berasal dari cahaya kebenaran.
Tanpa panduan yang benar, seseorang dapat terjebak dalam ilusi spiritual dan menganggap bisikan nafsu sebagai ilham.
Karena itulah para ulama menempatkan guru atau pembimbing sebagai sosok yang penting dalam perjalanan ruhani. Guru bukanlah tujuan akhir. Ia bukan objek penghambaan.
Perannya adalah sebagai penunjuk jalan dan penjaga agar seorang pencari tidak terperosok ke dalam jebakan yang sulit dikenali.
Bagi ahlul fikri, guru membantu menjaga agar ilmu tidak melahirkan kesombongan intelektual. Sedangkan bagi ahlul kasyfi, guru berfungsi mengoreksi pengalaman batin agar tetap berada dalam koridor syariat.
Memang ada hamba-hamba tertentu yang Allah bimbing secara langsung melalui berbagai ujian kehidupan. Mereka ditempa oleh kesulitan, kehilangan, dan pengalaman yang menghancurkan kesombongan diri hingga tidak tersisa lagi rasa memiliki.
Namun jalan semacam ini bukanlah jalan yang umum. Ia berat, sunyi, dan sering kali menyakitkan.
Karena itu, yang lebih penting daripada sekadar mengaku telah mencapai “nol” adalah keberanian untuk terus mengoreksi diri. Sebab orang yang benar-benar rendah hati biasanya tidak sibuk mengukur kerendahan hatinya.
Orang yang benar-benar ikhlas tidak merasa dirinya paling ikhlas. Dan orang yang benar-benar dekat kepada Allah justru semakin menyadari betapa banyak kekurangan dalam dirinya.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah. Kesadaran akan kelemahan inilah yang menjadi pintu menuju ketundukan sejati di hadapan-Nya. Bukan merasa telah sampai, melainkan terus merasa sedang berjalan.
Akhirnya, perjalanan spiritual bukanlah perlombaan untuk menjadi seseorang yang tampak suci atau terlihat telah mencapai maqam tertentu. Perjalanan itu adalah proses panjang membersihkan hati dari dominasi ego, sedikit demi sedikit, hari demi hari.
Maka jangan terlalu sibuk mengejar predikat “nol”. Lebih baik bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: apakah masih ada rasa ingin dipuji dalam amal yang dilakukan? Apakah masih ada keinginan untuk diakui dalam kebaikan yang dikerjakan?
Jika jawabannya masih ada, maka perjalanan belum selesai.
Dan selama hayat masih dikandung badan, mujahadah itu akan terus berlangsung, hingga pada akhirnya seorang hamba menyadari bahwa tidak ada yang layak dibanggakan selain rahmat dan pertolongan Allah SWT semata. []
Penulis adalah Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Sumbar, Anggota Wantim MUI Pusat, A’wan PB NU Pusat




