Sebaik-baiknya Manusia Adalah Bermanfaat bagi Orang Lain

Oleh : Dr. H. Afrinal, MH,.*)

Artikel ini saya tulis dilandasi dengan adanya dinamika pada masyarakat di era yang serba modern dan canggih ini (orang sering menyebutnya dengan era globalisasi). Diantara tanda-tanda itu, sering kita mendengar bahkan melihat adanya sikap dan prilaku sebagian manusia yang suka berbuat baik dan dipastikan memberi manfaat bagi orang lain.

Sebaliknya ada juga dugaan bahwa ada sebagian manusia suka berbuat onar atau keburukan dan merugikan orang lain.

“Pada dasarnya seorang mukmin itu adalah orang yang bisa menerima dan diterima orang lain. Dan, tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak bisa menerima dan tidak bisa diterima orang lain. Makna lainnya sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Merujuk dari hadist ini, maka sudah sepantasnya sebagai manusia kita saling membantu dan berguna bagi satu sama lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no: 3289)

Saya kutip dari sebuah karya tulis dan pendapat berdasarkan buku ketika Notaris berdakwah karya H R Daeng Naja, hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW menganjurkan kaum muslimin untuk berbuat baik terhadap makhluk yang lain. Ini menjadi indikator bagaimana mukmin yang sebenarnya.

Keberadaan dan hadirnya manusia sebagai kalifah dipermukaan bumi Allah SWT ini, sebetulnya ditentukan oleh kemanfaatannya pada yang lain. Setiap perbuatan yang dilakukan maka balasannya juga akan kembali. Begitu juga apabila kita memberi manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali pada diri kita sendiri.

Pada pernyataan lain tepatnya dalam sebuah Wakaf Amerta oleh Dr Tika Widiastuti dkk, dijelaskan di sini bahwa hakikat manusia yang utama ialah sebagai hamba Allah SWT. Sebagai seorang hamba, kepada mereka harus melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Selain itu, dalam Al-Qur’an manusia dikatakan sebagai al-nas yang maknanya merujuk pada hakikat manusia dalam hubungannya dengan sesama manusia itu sendiri. Maka qodratnya setiap manusia tidak dapat hidup tanpa keberadaan manusia lainnya karena mereka merupakan makhluk sosial (zoon politicon), yakni dua manusia yang saling bertegur sapa.

Artinya satu dengan yang lain pasti saling membutuhkan. Dari hasil sifat manusia yang saling memerlukan tersebut akan membentuk pola hubungan dengan orang lain untuk saling memberi dan mengambil manfaat.

Manusia terbaik akan lebih banyak memberi manfaat daripada mengambil manfaat dari hubungannya dengan manusia lainnya.

Manusia yang memberi manfaat banyak bahkan akan dicintai oleh Allah SWT seperti dijelaskan dalam hadits riwayat Ath-Thabrani.

Dalam sebuah riwayat “Ada sebuah hadits di mana seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau menjawab, ‘Yaitu, orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR Thabrani). Jawaban Rasululullah itu memang sederhana. Tapi maknanya sangat mendalam.

Bila kita simak secara mendalam dan dibandingkan dengan kondisi masa kin, ketika dalam perspektif Islam, masih ada sebagian manusia yang belum dapat memberikan manfaat yang banyak untuk orang lain-justru malah suka berharap yang banyak untuk dirinya dan untuk orang lain belakangan.

Selain itu, juga dijelaskan pula manusia yang memberi manfaat sama seperti melakukan kebaikan yang besar pahalanya.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Rasulullah SAW yang berbunyi, “Seandainya aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi sesuatu kebutuhannya, maka itu lebih aku cintai daripada itikaf sebulan di masjidku ini.” (HR Thabrani).

Dari beberapa penjelasan di atas, maka apa yang meski dilakukan agar kita ini menjadi ”Orang Baik dan Bermanfaat”.

Prinsipnya untuk menjadi orang yang baik dan bermanfaat bagi orang lain dapat dilakukan sedikitnya dengan dua cara. Ini didasarkan merujuk pada beberapa sumber dan ilustrasi.

Pertama, mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari,”Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari)

Kedua, Paling Baik Akhlaknya dan Menuntut Ilmu
Dalam hadits riwayat Ahmad, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian Islamnya adalah yang paling baik akhlak jika mereka menuntut ilmu.” (HR Ahmad). []

Dosen Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *