“Bingkai Waktu”

Oleh: Nurul Jannah*)

Di antara ribuan foto yang pernah singgah dalam kehidupan, ada satu foto yang selalu membuat langkah berhenti lebih lama. Foto itu tidak diambil di studio mewah. Tidak pula menggunakan kamera mahal.

Warnanya mulai memudar dimakan usia. Sudut-sudutnya mulai kusam. Namun nilainya tidak dapat dihitung dengan apa pun.

Karena di dalam bingkai itu tersimpan sebuah dunia yang pernah menjadi tempat paling nyaman untuk pulang. Tempat pertama kali belajar tentang cinta, pengorbanan, kebersamaan dan arti pulang.

Di sana ada Ayah. Di sana ada Ibu. Dan di sana berdiri kami, delapan putra-putri mereka. Empat laki-laki. Empat perempuan. Sebuah keluarga sederhana yang saat itu tidak pernah menyangka bahwa waktu akan berlari begitu cepat.


Ketika foto itu diambil, tidak ada yang merasa sedang menciptakan kenangan. Semua hanya diminta berkumpul. Merapikan pakaian. Berdiri berdekatan. Lalu menatap kamera. Sesederhana itu.

Tidak ada yang menangis. Tidak ada yang merasa haru. Tidak ada yang membicarakan perpisahan.

Karena saat itu, hidup terasa begitu panjang.

Ayah akan selalu ada. Ibu akan selalu ada. Rumah akan selalu ramai. Dan anak-anak akan selalu menjadi anak-anak.

Betapa polosnya keyakinan itu.

Kini, setiap kali foto itu dipandangi, yang terlihat bukan lagi gambar lama. Yang terlihat adalah kehidupan yang pernah berdenyut di dalamnya.

Terlihat ayah yang bekerja keras tanpa banyak mengeluh, demi masa depan anak-anaknya. Terlihat ibu yang hampir tidak pernah berhenti mengurus keluarga.

Terlihat delapan anak yang tumbuh dalam pelukan kasih sayang dan kesederhanaan.

Terlihat rumah yang dahulu penuh suara.

Suara pintu yang terbuka sejak subuh. Suara langkah kaki yang berlarian. Suara panggilan dari dapur. Suara tawa yang saling bersahutan. Suara pertengkaran kecil yang sore harinya sudah dilupakan.

Dan kini, semua suara itu hanya hidup di dalam ingatan.

Lalu waktu berjalan. Anak-anak tumbuh dewasa. Satu per satu meninggalkan rumah.

Menempuh jalan hidup masing-masing. Membangun keluarga masing-masing. Dan rumah yang dahulu begitu ramai perlahan menjadi lebih sunyi.

Yang paling menyakitkan dari waktu bukan karena ia berlalu. Yang paling menyakitkan adalah karena ia tidak pernah mau menunggu. Ia terus bergerak meski hati ingin tinggal lebih lama di masa-masa yang indah.

Ia terus berjalan meski kenangan masih ingin dipeluk erat.

Di dalam foto itu ada wajah seorang ibu. Wajah yang dahulu hadir setiap hari. Wajah yang begitu dekat hingga kehadirannya terasa biasa.

Padahal tidak ada yang biasa dari seorang ibu. Tidak ada yang biasa dari doa yang dipanjatkannya setiap malam. Tidak ada yang biasa dari pelukan yang menghapus ketakutan anak-anaknya. Tidak ada yang biasa dari kasih sayang yang diberikan tanpa pernah meminta balasan.

Dulu semua itu terasa wajar. Kini semuanya terasa sangat berharga. Dan menjadi anugerah tersendiri.

Dan sering kali nilai anugerah baru benar-benar dipahami ketika jarak dan waktu mulai memisahkan.

Di dalam foto itu juga ada wajah seorang ayah. Wajah yang mengingatkan pada keteguhan. Pada tanggung jawab. Pada perjuangan yang sering dilakukan dalam diam.

Banyak ayah tidak pandai mengucapkan cinta. Namun seluruh hidupnya adalah bentuk cinta itu sendiri. Pergi bekerja ketika tubuh lelah. Memikirkan kebutuhan keluarga ketika semua orang terlelap. Menanggung beban yang tidak selalu diketahui anak-anaknya. Dan tetap tersenyum ketika pulang ke rumah.

Dahulu yang terlihat hanyalah sosok ayah. Kini yang terlihat adalah gunung pengorbanan yang selama bertahun-tahun menopang keluarganya.

Kini foto itu masih ada. Diam. Membeku dalam waktu. Namun setiap kali dipandang, selalu ada makna baru yang ditemukan. Karena foto keluarga bukan tentang siapa yang paling tampan. Bukan tentang siapa yang paling cantik. Bukan tentang pakaian yang dikenakan. Bukan pula tentang pose yang dibuat.

Foto keluarga adalah catatan bahwa pada suatu masa, semua pernah berkumpul lengkap dalam satu bingkai. Pernah duduk bersama. Pernah makan bersama. Pernah bercanda. Pernah bertengkar lalu berbaikan. Pernah saling menjaga. Pernah saling menguatkan.

Dan jika ada satu foto yang layak disimpan hingga akhir usia, tidak berlebihan rasanya: foto itulah jawabannya.

Foto Ayah. Foto Ibu. Dan delapan putra-putrinya. Karena di dalam satu bingkai sederhana itu tersimpan akar kehidupan.

Tersimpan doa-doa yang membesarkan anak-anaknya. Tersimpan cinta yang membentuk karakter mereka. Tersimpan rumah yang mengajarkan arti kebersamaan.

Kini semakin dipahami bahwa foto itu bukan hanya gambar lama. Foto itu adalah pengingat. Bahwa pernah ada masa ketika semua masih lengkap. Pernah ada masa ketika suara ibu masih terdengar setiap hari. Pernah ada masa ketika ayah masih berdiri tegak menjadi pelindung keluarga.

Pernah ada masa ketika delapan bersaudara masih berkumpul di bawah atap yang sama. Dan masa itu kini tinggal dalam satu bingkai yang setia menyimpan kenangan.

Waktu memang mampu memutihkan rambut. Mampu mengubah wajah. Mampu memisahkan jarak. Bahkan mampu mengambil orang-orang yang paling dicintai. Namun ada satu hal yang tidak pernah berhasil diambilnya.

Kenangan tentang sebuah keluarga yang pernah berdiri bersama, tersenyum ke arah kamera, tanpa pernah menyadari bahwa puluhan tahun kemudian foto itu akan menjadi salah satu harta paling berharga yang dimiliki hati.

Karena pada akhirnya, rumah bukanlah bangunan yang ditempati. Rumah adalah orang-orang yang pernah berdiri bersama dalam satu bingkai, saling mencintai tanpa syarat, lalu meninggalkan jejak yang tetap hidup bahkan ketika waktu telah membawa mereka berjalan ke arah yang berbeda.

Dan, ketika usia semakin bertambah, seringkali yang paling dirindukan bukan rumah masa kecil itu sendiri.

Melainkan satu waktu yang tidak mungkin kembali, ketika Ayah masih ada, Ibu masih ada, dan delapan anak mereka masih berkumpul dalam satu bingkai yang sama❤️‍🔥.

Jakarta, 5 Juni 2026💌

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *