Oleh: Nurul Jannah*)
Ketika anak cucu bertanya, apa yang telah kita wariskan kepada mereka?
Maka, lingkungan bukan hanya urusan hari ini. Lingkungan adalah urusan masa depan. Bukan tentang kita semata. Bukan tentang generasi yang sedang hidup saat ini.
Melainkan tentang anak-anak yang hari ini masih berlari di halaman rumah. Tentang cucu-cucu yang masih belajar mengeja huruf pertama mereka. Tentang generasi yang kelak akan menerima dunia yang sedang kita bentuk hari ini.
Bayangkan tahun 2050. Seorang anak membuka album keluarga. Ia melihat foto kakek dan neneknya. Melihat foto ayah dan ibunya.
Lalu melihat foto-foto kota, sungai, gunung, laut, dan hutan yang pernah menjadi bagian kehidupan keluarga mereka.
Kemudian ia bertanya:
“Apakah dulu udaranya sejuk?”
“Apakah dulu sungainya bersih?”
“Apakah dulu masih banyak pohon?”
“Apakah dulu burung-burung masih sering datang?”
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun jawaban yang kita berikan sedang ditulis mulai hari ini.
Selama bertahun-tahun, kita berbicara tentang pembangunan. Membangun jalan. Membangun gedung. Membangun industri. Membangun kota.
Semua itu penting. Namun ada satu pertanyaan yang sering terlupakan:
Apakah kita juga sedang membangun masa depan yang layak dihuni?
Karena kemajuan tidak hanya diukur dari tingginya bangunan. Kemajuan juga diukur dari kualitas udara yang dihirup. Dari air yang diminum. Dari pohon yang masih berdiri. Dari ruang hijau yang masih dapat dinikmati anak-anak.
Hari ini dunia menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan tiga puluh tahun lalu. Perubahan iklim bukan lagi istilah yang hanya dibahas dalam seminar. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Gelombang panas yang lebih sering. Musim yang semakin sulit diprediksi. Banjir yang datang lebih cepat. Kekeringan yang berlangsung lebih lama. Semua itu bukan cerita masa depan.
Semua itu sudah ada di depan mata. Namun di balik tantangan tersebut, masih ada alasan untuk optimis. Karena semakin banyak anak muda yang peduli.
Semakin banyak komunitas yang bergerak. Semakin banyak sekolah yang mengajarkan cinta lingkungan. Semakin banyak keluarga yang mulai mengubah kebiasaan sehari-hari.
Harapan masih hidup. Dan harapan selalu menjadi titik awal perubahan.
Lingkungan tidak selalu membutuhkan tindakan besar. Ia kadang dimulai dari pilihan kecil yang dilakukan setiap hari. Membawa botol minum sendiri. Mengurangi sampah yang tidak perlu. Menanam pohon. Menghemat energi.
Menggunakan air dengan bijak. Mengajarkan anak mencintai alam. Tindakan sederhana itu mungkin tampak kecil. Namun masa depan selalu dibangun oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Sesungguhnya menjaga lingkungan adalah bentuk cinta yang paling panjang usianya. Karena manfaatnya tidak berhenti pada diri kita. Ia mengalir kepada anak-anak. Mengalir kepada cucu-cucu. Mengalir kepada generasi yang bahkan belum lahir.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia bukan hanya tentang mengenang berbagai masalah lingkungan. Hari ini adalah tentang menentukan warisan. Warisan seperti apa yang ingin kita tinggalkan?
Apakah warisan berupa keluhan? Ataukah warisan berupa harapan? Apakah warisan berupa kerusakan? Ataukah warisan berupa kesempatan hidup yang lebih baik?
Suatu hari nanti, mungkin pada tahun 2050, anak cucu kita akan menilai generasi hari ini. Bukan dari berapa banyak gedung yang dibangun. Bukan dari berapa banyak teknologi yang diciptakan.
Melainkan dari satu pertanyaan sederhana: “Ketika bumi menghadapi tantangan besar, apakah mereka memilih diam atau bergerak?”
Semoga jawabannya adalah:
“Mereka bergerak.”
“Mereka peduli.”
“Mereka menjaga.”
“Mereka tidak mewariskan masalah, tetapi mewariskan harapan.”
Pada akhirnya, lingkungan bukan tentang pohon semata. Bukan tentang sungai semata. Bukan tentang udara semata. Lingkungan adalah tentang kehidupan.
Tentang rumah bersama. Tentang masa depan yang ingin kita wariskan. Dan tentang cinta yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Karena ketika kita menanam hari ini, yang tumbuh bukan hanya pohon. Yang tumbuh adalah harapan. Untuk tahun 2050. Untuk anak-anak kita. Untuk cucu-cucu kita. Untuk masa depan yang layak diperjuangkan.
Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2026. Mari menjadi generasi yang tidak hanya menikmati bumi, tetapi juga meninggalkan alasan bagi generasi berikutnya untuk bersyukur.
Jakarta, 5 Juni 2026🫶🏻
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




