Oleh : Prof. Dr. Elfindri, SE, MA *)
JIKA kita pesan taxy di Jepang, deviasi kedatangan lebih cepat atau lambat sekitar 1 menit, di Australia 5 menit, dan di Indonesia tidak jelas. Begitulah kenyataan yang sering kita temukan. Semakin tidak disiplin semakin banyak korupsi, semakin lama berurusan dengan negara, dan semakin tidak terpenuhi keteraturan hidup.
Disiplin melahirkan efisiensi waktu, dan Allah SWT menyukai orang yang menghargai waktu, dalam Al-quran “Demi masa, sesungguhnya orang akan merugi jika tidak memanfaatkan waktu”.
Disiplin merupaka. kata kunci, dia dilahirkan dari pembiasaan untuk mematuhi segala transaksi akan janji dengan manusia dan Sang Pencipta. Dilatih dan dibiasakan sejak kecil, di rumah, di lingkungan, di tempat kerja dan di sekolah sekolah.
Disiplin ini merupakan buah asah otak kanan. Dia tidak banyak kaitannya dengan kepintaran, atau keterampilan. Dia masuk ke ranah ‘soft skills’. Disiplin merupakan bagian penting dari karakter kepemimpinan yang mampu melaksanakan sesuatu “who to do”. Penanaman nilai yang membuat hidup menjadi lebih teratur.
Disiplin merupakan titik awal lahirnya “self awareness” seseorang, dia bisa berperan ketika bisa dimanage dengan baik.
Disiplin untuk self awareness dalam kaitan dengan pemeliharaan tubuh, mulai tidur, bangun, makan dan minum. Disiplin untuk keperluan belajar secara teratur, alokasi waktu yang konsisten.
Disiplin dalam berjalan dan membawa kendaraan, menyeberang jalan, mematuhi segala ketentuan apa yang dilarang dan dibolehkan.
Kenapa Disiplin
Di Singapura disiplin itu terwujud terutama “law enforcement”, penegakan aturan yang ketat, misalnya denda bagi perokok tidak ditempatnya, atau ketahuan membuang puntung rokok atau sisa Permen Karet di sembarangan tempat. Penegakan aturan perlu secara konsisten dilakukan untuk mewujudkan disiplin.
Contoh dari atasan akan diikuti dengan sendirinya oleh bawahan. Bisa disiplin tidak merokok di tempat larangan merokok, polisi atau pejabat menerabas lampu merah, tidak mau antrian berurusan, bapak tidak pakai helm mengendarai anaknya lewat di depan polisi dibiarkan saja, mengendarai sambil merokok dan pembiaran, terlambat masuk kelas mahasiswa tak mendapatkan teguran dari dosennya.
Disiplin ini berlaku pada perusahaan perusahaan Jepang dimana atasan memberikan contoh pada bawahannya secara konsisten.
Budaya disiplin yang membuat malu juga menyebabkan masyarakat menjadi malu mulai tidak tepat waktu, pengalaman Jepang habis Tsunami masyarakatnya antrian dalam menerima antrian sosial, atau Jerman dalam ‘queing” dalam berurusan sesuatu pada masa padat layanan. Jerman merupakan negara yang taat akan sistem dan prosedur.
Disiplin di Sekolah
Pembiasaan disiplin memang akhirnya terjadi di sekolah sekolah dimulai anak memasuki jenjang pendidikan TK sampai level lebih tinggi. Diantaranya memperkenalkan juga hak dan tanggungjawab secara jelas dan terbiasa.
Di sekolah membangun disiplin diatur melalui masuk kelas, terbiasa antrian di cafe, kebersihan toilet, pembiasaan buang sampah. Guru huru disiplin dalam kedatangan, dan segera menegur anak anak yang tidak disiplin.
Disiplin juga dalam proses ujian, anak yang suka menjiplak tugas atau selama ujian dikasih tau berulang agar mereka paham akan disiplin.
Benar apa yang disanksikan oleh para guru di Australia, bahwa anak anaknya tidak akan khawatir untuk tidak pintar, yang mereka khawatir adalah anak sekolah yang tidak terbiasa dengan antrian dan disiplin waktu. []
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas *)




