Ronaldo, Istri Saya, dan Fanatisme yang Membutakan

Oleh: Hendri Parjiga*)

PIALA Dunia selalu menghadirkan cerita menarik. Bukan hanya tentang gol-gol indah, drama adu penalti, atau kejutan dari tim-tim kuda hitam.

Di rumah saya, Piala Dunia juga menghadirkan kisah lain. Tentang istri saya yang mendadak menjadi penggemar berat Cristiano Ronaldo.

Lucunya, ia bukan pencinta sepak bola. Aturan offside tidak dipahami, taktik permainan tidak pernah dibahas, bahkan nama sebagian besar pemain pun mungkin tidak dikenalnya.

Namun, satu nama begitu melekat di kepalanya: Cristiano Ronaldo.

Setiap Portugal bertanding, alarm telepon genggam harus disetel berulang-ulang agar kami tidak terlambat bangun.

Jika Portugal tidak bermain, saya biasanya menonton sendirian.

Tetapi jika Ronaldo tampil, saya punya teman begadang yang jauh lebih bersemangat daripada saya.

Fanatismenya terlihat jelas ketika pemain berjuluk CR7 itu mendapat kritik usai penampilan yang kurang meyakinkan pada laga awal Piala Dunia 2026.

Menurut istri saya, Ronaldo tidak mungkin menjadi penyebab buruknya permainan Portugal.

Kalau tim kalah, pasti ada pemain lain yang salah.

Baca juga:  BPN Pesisir Selatan Gandeng Wali Nagari Percepat Pelaksanaan PTSL

Kalau Ronaldo gagal mencetak gol, penyebabnya adalah rekan setim yang tidak mampu menyuplai bola.

Kalau ia dijaga ketat lawan, itu justru bukti bahwa lawan takut kepadanya.

Bahkan, ketika Portugal dipulangkan Spanyol dinihari tadi, dia tetap bersikukuh Ronaldo pemain hebat.

Intinya, Ronaldo tidak pernah salah.

Sebagai orang yang cukup lama mengikuti sepak bola, saya sebenarnya ingin menjelaskan bahwa sehebat apa pun seorang pemain, ia tetap manusia.

Ada hari ketika ia menjadi pahlawan, ada pula hari ketika ia tampil biasa saja.

Tetapi saya memilih diam.

Saya sadar, ketika seseorang sudah menjadi penggemar fanatik, fakta sering kali kalah oleh rasa kagum.

Penjelasan seobjektif apa pun hanya akan terdengar sebagai upaya menjatuhkan sang idola.

Dari situlah saya menyadari bahwa fanatisme semacam ini tidak hanya hidup di stadion.

Dalam kehidupan politik, gejala serupa justru jauh lebih mudah ditemukan.

Ada orang yang begitu mencintai seorang pemimpin sehingga seluruh kebijakannya dianggap benar.

Baca juga:  Tiga Karateka Sumbar Perkuat Timnas Indonesia di SEAKF Championships 2026 Vietnam

Kesalahan apa pun yang dilakukan akan dicari pembenarannya. Kritik dipandang sebagai kebencian.

Data yang bertentangan dianggap fitnah. Bahkan ketika kebijakan itu menyulitkan rakyat, pembelaan tetap diberikan tanpa reserve.

Sebaliknya, ada pula kelompok yang menempatkan diri sebagai “lawan abadi”.

Apa pun yang dilakukan pemerintah selalu salah. Kebijakan yang membawa manfaat pun tetap dicurigai memiliki agenda tersembunyi.

Kedua sikap itu sama-sama lahir dari fanatisme.

Fanatisme membuat orang berhenti berpikir kritis. Yang bekerja bukan lagi nalar, melainkan perasaan.

Kebenaran diukur dari siapa yang berbicara, bukan dari isi yang disampaikan.

Padahal, dalam demokrasi, tidak ada pemimpin yang kebal dari kritik.

Pemimpin dipilih untuk melayani rakyat, bukan untuk dipuja layaknya tokoh tanpa cela.

Dukungan memang penting, tetapi dukungan yang sehat adalah dukungan yang disertai keberanian mengingatkan ketika arah kebijakan mulai melenceng.

Begitu pula kritik. Kritik bukan berarti membenci. Kritik adalah bentuk kepedulian agar kekuasaan tetap berada di jalurnya.

Tanpa kritik, kekuasaan mudah terjebak dalam keyakinan bahwa semua keputusan pasti benar.

Baca juga:  Ribuan Pelari Ikuti RunKraf 2026, Wako Hendri Arnis Harapkan jadi Agenda Tahunan

Mungkin karena itulah saya tidak pernah berusaha mengubah pandangan istri tentang Ronaldo.

Fanatisme dalam sepak bola paling-paling hanya berakhir dengan adu argumen di ruang keluarga.

Namun, fanatisme dalam politik bisa berakhir pada sesuatu yang jauh lebih mahal: hilangnya daya kritis masyarakat, matinya ruang dialog, dan melemahnya kontrol terhadap kekuasaan.

Mengidolakan seseorang adalah hal yang wajar. Saya pun punya banyak tokoh yang saya kagumi.

Tetapi kekaguman tidak boleh membuat kita kehilangan keberanian untuk berkata, “Yang ini keliru.”

Karena pada akhirnya, yang layak dibela bukanlah nama besar seseorang, melainkan kepentingan publik dan kebenaran itu sendiri. []

Penulis adalah Wartawan Utama, Pemimpin Redaksi FokusSumbar.Com dan Kabid Humas KONI Sumbar*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *