PAYAKUMBUH, FOKUSSUMBAR.COM – Tidak semua persoalan harus direspons dan tidak setiap kekhilafan perlu diperbesar. Kemampuan memilah hal-hal yang penting untuk ditanggapi dan yang sebaiknya diabaikan justru menjadi bagian dari kedewasaan dalam mengelola emosi, membangun relasi, dan menjaga soliditas organisasi.
Konsep tersebut mengemuka dalam kegiatan Capacity Building dosen dan tenaga kependidikan Program Studi Magister (S2) Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Padang (UNP) di Kampus Program Studi Diluar Kampus Utama (PSDKU) UNP di kota Payakumbuh.
Kegiatan yang mengusung tema “Sinergi dan Transformasi SDM menuju Program Studi Magister (S2) yang Unggul dan Berdaya Saing” itu diikuti dosen dan tenaga kependidikan S2 Pendidikan Matematika, Kampus PSDKU UNP di Payakumbuh, Sabtu (5/9/2026).
Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Bukittinggi, Dr. Irwandi, dalam paparannya menjelaskan pentingnya kemampuan mengabaikan hal-hal kecil yang tidak substansial sebagai bagian dari kematangan spiritual, emosional, dan intelektual.
Menurut dia, sikap tersebut bukan bentuk kelemahan, kelalaian, ataupun kebodohan. Sebaliknya, kemampuan untuk tidak bereaksi terhadap setiap persoalan menunjukkan kecerdasan seseorang dalam mengelola energi, emosi, dan perhatian.
“Teguran memang instrumen untuk menyucikan hati, tetapi tidak semua keadaan harus diselesaikan dengan teguran. Ada kalanya seseorang harus menunjukkan seakan dirinya tidak melihat padahal melihat, atau seolah lupa padahal mengerti. Menutup mata atas aib dan kekhilafan orang lain adalah ciri keluhuran budi,” ujar Irwandi, yang juga mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Ikatan Alumni Pascasarjana UNP.
Ia merujuk keteladanan Nabi Yusuf dalam Surah Yusuf ayat 77. Dalam kisah tersebut, Nabi Yusuf memilih menyembunyikan kekesalan dalam hati dan tidak menampakkannya kepada saudara-saudaranya.
Menurut Irwandi, prinsip tersebut juga sejalan dengan pandangan sejumlah ulama yang menempatkan kemampuan mengabaikan sebagai bagian dari kebijaksanaan. Imam Ahmad, misalnya, menekankan pentingnya kemampuan mengabaikan dalam menjaga kewarasan. Sementara Imam asy-Syafi’i memandang orang bijak bukan hanya mereka yang memiliki kecerdasan, tetapi juga mampu bersikap acuh terhadap hal-hal yang tidak penting.
Menghemat Energi Mental
Dalam perspektif psikologi kognitif dan kesehatan mental, kemampuan memilah persoalan dapat membantu seseorang mengurangi beban kognitif (cognitive load).
Irwandi menjelaskan, seseorang yang merespons setiap kesalahan kecil secara berlebihan akan lebih mudah terkuras secara emosional. Sebaliknya, kemampuan mengabaikan persoalan yang tidak substansial dapat membantu menjaga ketenangan dan mengurangi tekanan psikologis.
“Kalau semua hal kita respons, energi kita akan habis untuk sesuatu yang tidak penting. Karena itu, kita harus memiliki kemampuan menentukan mana yang perlu ditanggapi dan mana yang cukup dilewatkan,” jelasnya.
Dalam kehidupan organisasi, kemampuan tersebut juga berperan menciptakan rasa aman secara psikologis (psychological safety). Pemimpin yang tidak mudah terpancing oleh persoalan kecil cenderung lebih mampu membangun suasana kerja yang kondusif.
Sikap toleran, lapang dada, dan kemampuan mengendalikan diri dari perdebatan yang tidak substansial dapat memperkuat kepercayaan dan solidaritas di antara anggota tim.
Sebaliknya, kebiasaan membesar-besarkan persoalan kecil berpotensi menciptakan ketegangan, mengganggu komunikasi, dan menggerus energi organisasi. Karena itu, kemampuan mengabaikan bukan berarti membiarkan kesalahan, melainkan kecakapan menentukan prioritas dalam merespons persoalan.
Fondasi Sinergi
Dekan FMIPA UNP, Prof Dr Yulkifli Amir, mengapresiasi paparan tersebut. Menurutnya, penguatan kapasitas sumber daya manusia tidak cukup hanya melalui peningkatan kompetensi akademik dan profesional. Kematangan sikap dan kemampuan membangun hubungan kerja juga menjadi faktor penting.
“Sinergi dan transformasi menuju program studi magister yang unggul memerlukan iklim kerja yang kondusif. Sikap saling memahami, kelapangan dada, dan kemampuan mengelola emosi sebagaimana dijelaskan dalam konsep tersebut menjadi fondasi penting bagi para dosen dan tendik dalam membangun kerja sama yang produktif,” tutur Yulkifli.
Ia menilai lingkungan akademik membutuhkan SDM yang tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga mampu mengelola perbedaan, menjaga komunikasi, dan bekerja secara kolaboratif.
Dalam konteks itu, kemampuan mengabaikan hal-hal yang tidak penting dapat menjadi bagian dari budaya organisasi yang sehat. Setiap individu dituntut mampu membedakan antara persoalan yang memang harus diselesaikan dan perkara kecil yang justru lebih baik dilewatkan.
Pada akhirnya, mengabaikan bukan berarti menghindari masalah. Ada saatnya seseorang harus berbicara, menegur, dan mengambil sikap. Namun, ada pula waktunya memilih diam demi menjaga hubungan dan tujuan yang lebih besar.
Kemampuan menentukan batas tersebut menjadi modal penting dalam menjaga kesehatan mental sekaligus memperkuat soliditas organisasi. Bagi lembaga pendidikan tinggi, sikap demikian dapat menjadi bagian dari upaya membangun SDM yang matang secara emosional, kuat dalam kolaborasi, dan siap membawa institusi menjadi lebih unggul serta berdaya saing. (rls)
