Maulid Nabi dan Ujian Cinta kepada Rasulullah SAW

Oleh: Prof. Asasriwarni

Cinta selalu menuntut pembuktian. Ia tidak cukup hanya diucapkan, apalagi diulang-ulang tanpa pernah diwujudkan dalam kehidupan.

Begitu pula ketika seorang Muslim mengatakan, “Aku mencintai Rasulullah SAW.” Kalimat itu begitu mulia. Namun, di baliknya terdapat tanggung jawab: mengikuti ajarannya, meneladani akhlaknya, dan berusaha menghadirkan nilai-nilai yang beliau perjuangkan dalam kehidupan.

Bulan Rabiul Awal kembali datang. Di berbagai tempat, umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan beragam cara. Masjid dan majelis ilmu dipenuhi lantunan salawat. Sirah Nabi dibacakan. Para ulama menyampaikan tausiah. Sebagian masyarakat mengisinya dengan berbagi makanan dan bersedekah.

Ada kegembiraan. Ada kerinduan. Ada pula rasa cinta yang ingin disampaikan kepada manusia pilihan Allah SWT.
Tetapi, di tengah kemeriahan itu, ada satu pertanyaan yang layak kita bawa pulang:
Apa yang berubah dalam diri kita setelah mengenang kelahiran Rasulullah SAW?
Pertanyaan sederhana tersebut justru mungkin menjadi bagian paling penting dari peringatan Maulid.

Sebab, mengenal Nabi Muhammad SAW bukan sekadar mengetahui sejarah kelahirannya. Bukan pula sekadar menghafal kisah perjalanan dakwahnya.
Mengenal Rasulullah berarti berusaha memahami akhlaknya, perjuangannya, kasih sayangnya, kesabarannya, serta keteguhannya dalam menjalankan amanah Allah SWT.

Allah SWT berfirman:
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Ayat tersebut menegaskan bahwa Rasulullah SAW adalah uswatun hasanah, teladan terbaik bagi umat manusia.
Karena itu, kecintaan kepada beliau semestinya tidak berhenti pada perasaan haru ketika mendengar kisah kehidupannya.

Cinta harus melahirkan keteladanan.
Ketika Salawat Menyentuh Perilaku
Salawat merupakan salah satu amalan yang sangat dekat dengan peringatan Maulid Nabi.

Baca Juga :  Fadly Amran Gandeng JMSI Sumbar, Gerakan Penggerak Pilah Jadi Langkah Baru Padang Ubah Perilaku Warga

Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Ahzab ayat 56.

Rasulullah SAW juga menjelaskan keutamaan salawat. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan, orang yang bersalawat kepada beliau satu kali akan mendapatkan balasan rahmat dari Allah SWT sebanyak sepuluh kali.

Betapa besar keutamaan salawat.
Namun, ada sesuatu yang perlu kita renungkan.

Apa yang terjadi setelah lisan selesai bersalawat?

Apakah hati menjadi lebih lembut? Apakah kita menjadi lebih mudah memaafkan? Apakah kita semakin menjaga ucapan? Apakah kita semakin jujur? Apakah kita semakin peduli kepada orang miskin dan mereka yang membutuhkan?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan manusia bagaimana beribadah kepada Allah SWT. Beliau juga menunjukkan bagaimana membangun hubungan yang baik dengan sesama manusia.

Rasulullah dikenal sebagai pribadi yang jujur dan amanah. Beliau menyayangi anak-anak, menghormati orang tua, memperhatikan kaum lemah, membantu mereka yang membutuhkan, serta memberikan maaf meskipun memiliki kesempatan untuk membalas.

Akhlak seperti itulah yang semestinya tumbuh kembali dalam kehidupan umat.
Maulid Bukan Sekadar Seremoni
Peringatan Maulid Nabi telah menjadi tradisi di berbagai wilayah dunia Islam dengan bentuk yang beragam.

Dalam sejarahnya, terdapat perbedaan pandangan ulama mengenai hukum memperingati Maulid. Sebagian ulama berpandangan bahwa perayaan tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW maupun para sahabat sehingga tidak perlu dijadikan bagian dari ibadah.

Sementara itu, sebagian ulama lainnya membolehkan peringatan Maulid selama diisi dengan kegiatan yang baik dan tidak bertentangan dengan syariat, seperti membaca Al-Qur’an, memperbanyak salawat, mempelajari sirah Nabi, bersedekah, dan mempererat silaturahmi.
Perbedaan tersebut hendaknya disikapi dengan ilmu dan kedewasaan.

Baca Juga :  Pengukuran Maksimal 12 Hari, Peralihan Hak 10 Hari, Ini Transformasi Baru ATR/BPN

Jangan sampai perbedaan dalam masalah ini justru membuat umat saling mencela dan melupakan persaudaraan.
Sebab, di balik perbedaan tersebut terdapat satu titik temu yang sangat besar: kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Bagi mereka yang memperingatinya, hendaknya Maulid menjadi momentum memperkuat iman dan keteladanan.
Bagi mereka yang tidak memperingatinya, hendaknya tetap menghormati saudara Muslim yang memiliki pandangan berbeda selama tidak melakukan kemungkaran.

Umat Islam memiliki banyak persoalan yang jauh lebih besar untuk diselesaikan bersama.

Rasulullah dan Wajah Islam yang Rahmah
Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, keteladanan Rasulullah SAW terasa semakin relevan.
Ketika ruang publik dipenuhi perdebatan, kita membutuhkan akhlak Rasulullah dalam menyikapi perbedaan.

Ketika media sosial membuat manusia mudah menghina dan menyebarkan kebencian, kita membutuhkan ajaran beliau tentang menjaga lisan.

Ketika kesenjangan sosial masih terjadi, kita membutuhkan kepedulian beliau kepada kaum dhuafa.

Ketika kejujuran semakin mahal dalam kehidupan, kita membutuhkan kembali keteladanan beliau sebagai manusia yang dikenal amanah.

Islam tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah SWT.

Islam juga mengajarkan bagaimana seorang Muslim menjadi manusia yang menghadirkan kebaikan bagi lingkungannya.

Itulah sebabnya, peringatan Maulid semestinya memiliki dampak sosial.
Jika ada tetangga yang kesulitan, kita membantu.

Jika ada orang yang lapar, kita memberi makan.

Jika ada anak yatim yang membutuhkan perhatian, kita hadir.

Jika ada orang yang berselisih dengan kita, kita mencoba membuka pintu perdamaian.

Jika ada amanah yang diberikan, kita menjalankannya dengan jujur.

Itulah cara sederhana menghadirkan akhlak Rasulullah SAW di tengah kehidupan.

Setelah Rabiul Awal Berlalu
Rabiul Awal pada akhirnya akan berlalu.
Spanduk Maulid akan diturunkan.

Mimbar-mimbar akan kembali sepi. Suara salawat dalam acara peringatan akan berakhir.

Baca Juga :  Pasca Banjir Bandang, BPBD Kota Padang Masih Suplai Air Bersih untuk Warga Lambung Bukit, Pauh, dan Kuranji

Tetapi, semangat mencintai Rasulullah tidak boleh ikut berakhir.

Justru di situlah ujian cinta dimulai.
Apakah setelah Maulid kita tetap membaca salawat?

Apakah kita tetap membuka sirah Nabi?
Apakah kita tetap menjaga kejujuran?

Apakah kita tetap peduli kepada sesama?
Apakah kita tetap berusaha memperbaiki akhlak?

Sebab, Rasulullah SAW tidak membutuhkan sekadar seremoni dari umatnya. Yang beliau wariskan adalah jalan hidup.

Maka, mari menjadikan Maulid sebagai momentum untuk kembali kepada keteladanan.

Tidak harus dengan sesuatu yang besar.
Mulailah dari rumah: berbicara lembut kepada orang tua, menyayangi anak, menjaga hubungan dengan pasangan dan keluarga.

Mulailah dari tempat kerja: jujur, amanah, tidak mengambil hak orang lain.
Mulailah dari lingkungan: peduli kepada tetangga, membantu yang membutuhkan, dan tidak mudah menyebarkan kebencian.

Dan mulailah dari diri sendiri: memperbaiki ibadah serta memperbanyak salawat.

Karena boleh jadi, bentuk cinta kepada Rasulullah yang paling nyata bukanlah seberapa keras kita mengucapkannya, melainkan seberapa jauh akhlak beliau hidup dalam diri kita.

Maulid bukan hanya tentang mengingat hari kelahiran Rasulullah SAW. Maulid adalah kesempatan untuk menghidupkan kembali teladan beliau dalam kehidupan.

Dan ketika akhlak Rasulullah mulai hidup dalam diri seorang Muslim, keluarga merasakan keteduhannya, tetangga merasakan kebaikannya, dan masyarakat merasakan rahmatnya. (*)

Penulis adalah Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *