Asap tak Berpaspor

Oleh: Nurul Jannah*)

Manusia membuat garis di atas peta, lalu menyebutnya batas negara.

Asap tidak pernah belajar membacanya.

Ia terbang mengikuti angin. Tidak membawa paspor. Tidak berhenti di imigrasi. Tidak bertanya apakah udara yang dimasukinya milik Indonesia, Malaysia, atau Brunei.

Hari-hari ini, langit kembali mengingatkan kita tentang itu.

Kebakaran hutan dan lahan kembali melanda sejumlah wilayah Indonesia. Data Kementerian Kehutanan yang diberitakan Reuters mencatat hampir 95.000 hektare lahan terbakar hanya sepanjang Juli 2026, hampir dua kali luas area yang terbakar selama enam bulan sebelumnya. Kondisi kering yang diperkuat El Niño membuat api semakin sulit dikendalikan.

Asap kemudian bergerak.

Melintasi kota.

Menyeberangi laut.

Mengetuk rumah-rumah yang bahkan berjarak ratusan kilometer dari titik api.

Menembus batas negara.

Dan, dampaknya bukan lagi angka di laporan.

Di Pontianak kegiatan belajar dipindahkan secara daring. Di Sarawak, Malaysia, lebih dari 100 sekolah ditutup dan sekitar 200.000 siswa terdampak akibat memburuknya kualitas udara.

Baca Juga :  UNP Dorong Kesadaran Hidup Sehat Siswa SD melalui Deteksi Dini Obesitas

Indonesia dan Malaysia bahkan melakukan langkah bersama, termasuk penyemaian awan, untuk membantu mengendalikan kabut asap yang melintasi kawasan.

Di sinilah persoalan lingkungan terasa sangat manusiawi.

Api mungkin menyala di sebidang tanah, tetapi akibatnya bisa masuk ke paru-paru anak yang tidak pernah tahu darimana api itu bermula.

Ada petani kehilangan lahan.

Ada ibu menutup jendela rumahnya.

Ada anak tidak pergi ke sekolah.

Ada pengendara menembus jalan yang diselimuti kabut.

Dan di tempat lain, ada ribuan orang berjibaku memadamkan api yang terus bergerak.

Alam sedang mengajarkan pelajaran yang sebenarnya sederhana: Tidak pernah ada kerusakan lingkungan yang benar-benar bersifat pribadi.

Apa yang dilakukan pada sebidang tanah hari ini dapat menjadi persoalan udara bagi manusia di tempat lain esok pagi. Oleh karena itu, perdebatan tentang dari mana asap berasal tidak boleh membuat kita lupa pada pertanyaan yang lebih penting: Apa yang dapat dilakukan agar ia tidak terus berulang?

Baca Juga :  Meriahkan HUT ke-81 RI, Kantor Pertanahan Pessel Perkuat Semangat Kebersamaan

Penegakan hukum penting. Namun, pencegahan harus menjadi garis pertahanan pertama.

Teknologi pemadaman diperlukan. Namun menjaga agar api tidak pernah dinyalakan dengan sengaja jauh lebih murah daripada mengejarnya setelah membesar.

Dan kerja sama antarnegara menjadi keniscayaan, sebab udara tidak mengenal kedaulatan.

Hari ini Indonesia dan Malaysia bekerja bersama menghadapi kabut asap. Mungkin justru di situlah pesan terbesarnya: persoalan ekologis tidak dapat diselesaikan dengan ego geografis.

Bumi tidak meminta kita berhenti membangun. Ia hanya meminta manusia lebih bertanggung jawab terhadap jejak yang ditinggalkan. Sebab pada akhirnya, ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan.

Ada kehidupan yang terusir. Ada udara yang kehilangan kejernihannya. Ada kesehatan yang dipertaruhkan. Ada masa depan yang diam-diam ikut terbakar.

Maka sebelum kembali menunjuk siapa yang paling bersalah, barangkali kita perlu berani bertanya kepada diri sendiri: Sudahkah cara kita hidup ikut menjaga bumi, atau diam-diam ikut menambah bebannya?

Baca Juga :  35 Anak Rumah Baca Teras Talenta Kirim Surat ke Presiden, Ini 3 Pemenangnya

Karena bumi boleh terbagi menjadi banyak negara. Tetapi manusia hanya memiliki satu atmosfer untuk bernapas.

Dan ketika asap datang mengetuk pintu negara lain tanpa membawa paspor, ia membawa pesan yang tak memerlukan penerjemah: Bumi tidak membutuhkan lebih banyak orang yang saling menunjuk. Bumi membutuhkan lebih banyak tangan yang mau menjaga. Menjaga bumi adalah urusan kita semua.❤️

Bogor, 25 Agustus 2026

Dosen IPB University, Penulis dan penggiat Literasi, Pemerhati Lingkungan*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *