Oleh: Dr. Nurul Jannah*)
Anak-anak tidak pernah meminta kita mewariskan rumah yang besar.
Mereka hanya berharap menerima bumi yang masih layak disebut rumah.
Pagi biasanya hadir begitu menyenangkan bagi seorang anak.
Bangun tidur. Mandi. Sarapan. Mengenakan seragam. Memanggul tas. Lalu berangkat ke sekolah sambil menghirup udara pagi yang sehat.
Namun Agustus 2026 menghadirkan cerita yang berbeda.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan kembali menyelimuti sejumlah wilayah Indonesia dan menyeberang hingga melintasi batas negara.
Di Pontianak, kegiatan belajar sempat dipindahkan secara daring untuk melindungi siswa dari kualitas udara yang memburuk.
Di Sarawak, Malaysia, dampaknya bahkan meluas. Lebih dari 100 sekolah ditutup ketika kabut asap membuat kualitas udara berada pada tingkat mengkhawatirkan.
Tiba-tiba, udara bersih terasa begitu mahal.
Anak-anak yang tidak pernah menyalakan api harus ikut menghirup asapnya.
Mereka tidak tahu siapa yang membakar lahan. Mereka tidak mengerti tentang El Niño, titik panas, konsesi, arah angin atau batas negara.
Mereka hanya tahu bahwa hari itu langit berubah warna. Udara terasa berbeda. Sekolah tak lagi seperti biasanya. Ruang bermain mereka mendadak menyempit.
Mereka tidak lagi bisa menjalani hari seperti biasanya.
Di situlah persoalan lingkungan berhenti menjadi urusan angka.
Hektare yang terbakar bukan lagi hanya statistik.
Indeks kualitas udara bukan hanya deretan angka pada layar pemantauan.
Di baliknya ada paru-paru kecil yang harus dijaga.
Ada sekolah yang harus ditutup.
Ada permainan di luar rumah yang harus dihentikan.
Ada orang tua yang mulai khawatir setiap kali anaknya batuk.
Lalu muncul sebuah pertanyaan: Sebenarnya, bumi seperti apa yang sedang kita persiapkan untuk mereka?
Selama ini kita bekerja keras agar anak-anak memiliki masa depan.
Kita menabung untuk pendidikan mereka.
Membangun rumah untuk mereka.
Meninggalkan tanah, kendaraan, tabungan, bahkan usaha agar kehidupan mereka kelak lebih mudah.
Tetapi ada warisan yang sering luput dari perhitungan: udara yang masih layak mereka hirup.
Apa gunanya rumah besar jika jendelanya harus selalu ditutup karena udara di luar berbahaya?
Apa gunanya sekolah yang bagus jika anak-anak tidak dapat datang karena langit dipenuhi asap?
Dan, apa arti sebuah kemajuan jika generasi berikutnya harus membayar mahal untuk memulihkan alam yang kita rusak hari ini?
Barangkali kita perlu mengubah cara memandang lingkungan.
Menjaga hutan bukan hanya urusan pohon.
Menjaga gambut bukan hanya urusan lahan.
Mengendalikan kebakaran bukan hanya pekerjaan pemerintah, perusahaan, atau petugas pemadam.
Menjaga lingkungan sesungguhnya adalah menjaga kehidupan manusia.
Semua itu adalah cara kita menjaga napas anak-anak yang bahkan belum mengerti bagaimana membela haknya sendiri.
Mereka tidak meminta dunia tanpa pembangunan.
Mereka tidak meminta kita berhenti bekerja dan mengejar kemajuan.
Mereka hanya berhak menerima satu hal yang sangat sederhana: kemajuan yang tidak merampas masa depan mereka.
Karena sesungguhnya bumi ini tidak sepenuhnya milik generasi yang hidup hari ini.
Sebagiannya adalah titipan dari mereka yang bahkan belum lahir.
Ada hutan yang harus tetap tumbuh.
Ada sungai yang harus tetap mengalir.
Ada tanah yang harus tetap hidup.
Dan ada langit yang harus tetap biru.
Maka ketika suatu pagi kita melihat seorang anak mengenakan masker bukan karena sedang sakit, tetapi karena udara di luar rumah tidak sehat, jangan menganggapnya pemandangan biasa.
Barangkali itu adalah surat teguran dari masa depan yang datang lebih cepat.
Sebab kelak anak-anak mungkin tidak bertanya berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan.
Mereka mungkin akan mengajukan pertanyaan yang jauh lebih sederhana:
“Ketika kalian tahu bumi sedang terluka, apa yang kalian lakukan?”
Pertanyaan itu sederhana. Tetapi jawaban kita kelak adalah sejarah yang mereka warisi.
Semoga kita memiliki jawaban.
Bukan hanya dalam laporan.
Bukan hanya dalam pidato.
Bukan pula dalam janji yang selesai setelah kamera dimatikan.
Tetapi dalam hutan yang tetap berdiri, udara yang kembali bersih, sungai yang tetap mengalir, serta kebijakan dan perilaku yang benar-benar berubah.
Karena warisan terbaik bukan hanya harta yang membuat anak-anak mampu menjalani kehidupan.
Warisan terbaik adalah bumi yang masih memungkinkan mereka memiliki kehidupan.
Maka jagalah hutan sebelum menjadi abu.
Jagalah udara sebelum anak-anak harus bersembunyi di balik masker.
Jagalah sungai sebelum air bersih tinggal cerita.
Dan terutama; mari jaga langit itu.
Sebab suatu hari nanti, kita akan pergi dan meninggalkan semuanya. Rumah berganti pemilik. Tabungan berpindah tangan. Jabatan hanya tinggal nama.
Tetapi bumi yang kita tinggalkan akan tetap menjadi rumah bagi anak-anak setelah kita.
Langit itu bukan warisan dari mereka untuk kita habiskan.
Langit itu adalah titipan yang harus kita kembalikan kepada mereka; tetap biru, tetap bersih, dan tetap layak untuk menampung mimpi-mimpi mereka❤️.
Jakarta, 26 Agustus 2026
Dosen Sekolah Vokasi IPB University*)
