Oleh: Dr. Nurul Jannah*)
Di antara kita, ada yang telah lama pulang, tetapi jejak kebaikannya masih kita rasakan. Ilmu yang pernah ditanamnya membuat kebaikan terus hidup dalam amal orang lain.
Pernahkah kita mengingat seorang guru yang dahulu mengajari kita membaca?
Barangkali wajahnya mulai samar. Suaranya pun mungkin tak lagi utuh dalam ingatan.
Bahkan boleh jadi, beliau telah lama berpulang.
Namun setiap kali kita membuka buku, membaca sebuah kalimat, menuliskan nama, atau mengajarkan huruf kepada anak-anak, ada bagian dari ilmu beliau yang masih hidup melalui diri kita.
Betapa menakjubkan.
Manusianya telah tiada, tetapi ilmunya masih berjalan.
Ternyata, usia manusia tidak selalu sama dengan usia manfaatnya.
Tubuh memiliki batas.
Suatu hari kaki berhenti melangkah, tangan berhenti bekerja, dan lisan berhenti berbicara.
Tetapi ilmu?
Ia dapat terus berjalan.
Dari guru kepada murid. Dari ibu kepada anak. Dari dosen kepada mahasiswa. Dari ustaz kepada jamaah. Dari sebuah tulisan kepada pembaca yang bahkan tak pernah mengenal siapa penulisnya.
Begitulah ilmu menempuh perjalanan panjangnya.
Bayangkan seorang guru di sebuah sekolah kecil.
Puluhan tahun ia berdiri di depan kelas. Tidak terkenal. Tidak pernah masuk televisi. Namanya mungkin tidak muncul ketika dicari di internet.
Setiap pagi ia datang membawa buku, lalu mengajari anak-anak membaca, berhitung, berpikir, dan memahami kehidupan.
Tahun demi tahun berlalu. Murid-muridnya tumbuh.
Ada yang menjadi dokter. Guru. Petani. Pengusaha. Ada pula yang menjadi orang tua, lalu mengajarkan kembali kepada anak-anaknya apa yang dahulu pernah diajarkan sang guru.
Sang guru mungkin sudah tidak ada.
Namun ilmu yang ditanamnya telah menjelma menjadi ribuan cabang kebaikan.
Siapa yang mampu menghitung sejauh mana satu ilmu dapat berjalan
Kita sering memikirkan warisan yang kelak ditinggalkan.
Rumah.
Tanah.
Tabungan.
Kendaraan.
Harta.
Sungguh, tidak ada yang salah dengan semua itu.
Namun pernahkah kita bertanya ; “Ilmu apa yang akan kutinggalkan?”
Sebab harta dapat habis.
Rumah dapat berpindah tangan. Kendaraan akan menua. Barang-barang yang kita cintai kelak dimiliki orang lain.
Tetapi ilmu yang bermanfaat dapat berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya, bahkan dari satu generasi kepada generasi setelahnya.
Barangkali, itulah salah satu warisan yang paling panjang umurnya.
Dan jangan membayangkan ilmu yang bermanfaat harus selalu rumit.
Seorang ibu mengajari anaknya berdoa. Itu ilmu.
Seorang ayah mengajarkan kejujuran. Itu ilmu.
Seorang guru mengajarkan muridnya menjaga lingkungan. Itu ilmu.
Seorang petani menunjukkan cara merawat tanah agar tetap subur. Itu ilmu.
Seorang nenek mengajari cucunya membaca Al-Qur’an. Itu ilmu.
Seorang profesional membimbing juniornya bekerja dengan benar dan berintegritas. Itu pun ilmu.
Bahkan sebuah tulisan sederhana yang membuat orang berhenti melakukan keburukan, lalu memilih jalan yang lebih baik, dapat menjadi ilmu yang memberi manfaat.
Maka jangan pernah berkata,
“Apa yang bisa kubagikan? Aku bukan siapa-siapa.”
Kita tidak perlu menjadi terkenal untuk menjadi bermanfaat.
Cukup mengetahui satu kebaikan, mengamalkannya dengan benar, lalu jangan pelit membagikannya.
Hari ini kita hidup pada zaman ketika ilmu dapat berjalan lebih jauh dan lebih lama daripada tubuh manusia.
Sebuah tulisan dapat dibaca ribuan orang.
Rekaman kajian dapat didengar bertahun-tahun.
Sebuah buku dapat berpindah dari tangan ke tangan.
Materi pembelajaran yang kita buat hari ini mungkin masih digunakan oleh generasi yang bahkan belum lahir.
Teknologi telah membuat usia manfaat manusia menjadi semakin panjang.
Namun bersamaan dengan itu, muncul pertanyaan yang jauh lebih serius: Apa yang sedang kita abadikan?
Ilmu atau kebisingan?
Kebaikan atau keburukan?
Pencerahan atau fitnah?
Sebab di zaman digital, manusia dapat meninggal, tetapi jejak yang ditinggalkannya belum tentu ikut mati.
Tulisan masih dapat dibaca.
Video masih dapat diputar.
Pesan masih dapat diteruskan.
Maka sebelum meninggalkan jejak, pastikan jejak itu layak terus berjalan ketika kita sudah pulang.
Barangkali itulah sebabnya ilmu tidak cukup hanya banyak.
Ilmu harus bermanfaat.
Ilmu semestinya membuat manusia lebih jujur, lebih bijaksana, lebih peduli, lebih rendah hati, dan semakin dekat kepada Allah SWT.
Sebab ilmu yang hanya membuat manusia merasa lebih tinggi daripada orang lain perlahan kehilangan cahayanya.
Semakin berilmu, seharusnya semakin sadar betapa banyak yang belum diketahui.
Semakin tinggi pendidikan, seharusnya semakin mudah menghormati.
Semakin luas pengetahuan, seharusnya semakin besar manfaat yang diberikan.
Ilmu bukan tangga untuk membuat kita berdiri lebih tinggi daripada manusia lain. Ilmu adalah jalan untuk mengangkat lebih banyak manusia agar dapat bertumbuh bersama.
Aku membayangkan hari terakhir kehidupan.
Tidak ada lagi ruang kuliah.
Tidak ada rapat.
Tidak ada seminar.
Tidak ada panggung.
Tidak ada jabatan.
Tidak ada lagi kesempatan menambahkan satu kalimat pun pada kehidupan.
Semuanya berhenti.
Namun mungkin, jauh di sebuah tempat yang tidak kita ketahui, ada orang yang membuka buku yang pernah kita tulis.
Ada murid yang mengajarkan kembali ilmu yang pernah kita sampaikan.
Ada anak yang menjalankan kebiasaan baik yang dahulu kita tanamkan.
Ada orang yang mengambil keputusan lebih benar karena pernah mendengar satu nasihat dari kita. Dan kita tidak pernah mengetahuinya.
Bukankah itu indah?
Tubuh telah berhenti beramal, tetapi manfaat yang pernah ditanam masih terus bekerja.
Karena itu, selama Allah masih memberi kesempatan, jangan hanya sibuk mengumpulkan ilmu.
Bagikan.
Ajarkan apa yang kita tahu.
Tuliskan.
Wariskan.
Bimbinglah seseorang. Jangan pelit membagikan pengalaman. Dan jangan pernah takut murid menjadi lebih hebat daripada gurunya.
Justru berbahagialah.
Sebab ketika seorang murid melampaui gurunya, kemudian menggunakan ilmu itu untuk kebaikan, barangkali di situlah ilmu sang guru menemukan kehidupan keduanya.
Hari ini mungkin kita belum mampu membangun masjid.
Belum mampu menggali sumur.
Belum mempunyai harta besar untuk diwakafkan.
Tetapi hampir setiap orang memiliki satu pengetahuan baik yang dapat diwariskan.
Mulailah dari sana.
Ajarkan seorang anak membaca.
Bimbing seorang ḥmahasiswa.
Bagikan satu keterampilan.
Tuliskan satu pengalaman.
Ajarkan satu doa.
Luruskan satu kesalahan dengan kelembutan.
Tunjukkan kepada satu orang cara melakukan pekerjaannya dengan benar.
Jangan meremehkan satu ilmu kecil yang dibagikan dengan tulus. Kita tidak pernah tahu sejauh mana ia akan berjalan.
Boleh jadi, puluhan tahun setelah kita tiada, ilmu itu masih berpindah dari satu manusia kepada manusia lainnya.
Nama kita mungkin sudah jarang disebut, tetapi manfaat yang kita tinggalkan masih mengetuk pintu-pintu kehidupan.
Dan bukankah itu jauh lebih indah daripada hanya dikenang?
Maka pertanyaannya bukan lagi: “Seberapa banyak ilmu yang sudah kumiliki?”
Melainkan: “Jika malam ini aku pulang, adakah ilmu dariku yang masih akan berjalan esok pagi?”
Jika jawabannya belum ada, jangan bersedih. Allah masih memberi kita hari ini.
Masih ada waktu untuk mengajarkan satu kebaikan.
Masih ada kesempatan untuk membimbing.
Masih ada kesempatan menulis.
Masih ada kesempatan berbagi.
Sebab kita memang tidak dapat memperpanjang umur sesuka hati, tetapi kita dapat memperpanjang umur kebaikan melalui ilmu yang bermanfaat.
Maka sebelum lisan berhenti berbicara, ajarkanlah.
Sebelum tangan berhenti menulis, tinggalkanlah ilmu.
Sebelum langkah berhenti berjalan, bimbinglah seseorang menemukan jalan.
Dan sebelum nama kita berubah menjadi kenangan, pastikan pernah ada kebaikan yang kita tanam dalam kehidupan orang lain.
Karena pada akhirnya, mungkin bukan tentang berapa lama kita hidup, tetapi: berapa lama manfaat dari hidup kita masih bertahan setelah kita tiada?
Jangan hanya meninggalkan nama agar dikenang. Tinggalkan ilmu agar diamalkan. Sebab nama perlahan dapat dilupakan, tetapi ilmu yang bermanfaat akan terus menemukan jalan untuk hidup. ❤️
Jakarta, 27 Agustus 2026
Dosen Sekolah Vokasi IPB University*)
