Mahasiswa UIN Bukittinggi Raih Juara Ekspo KKN Nusantara Lewat Inovasi Ekoteologi

Delegasi UIN Bukittinggi bersama peserta KKN Nusantara VI Tahun 2026. (foto; ist)

LEUWIDAMAR, FOKUSSUMBAR.COM – Di balik rimbunnya kebun sereh warga Desa Wantisari, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, tersimpan pemikiran kritis 16 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi keagamaan Islam se-Indonesia. Lewat gagasan ekoteologi yang menyinergikan nilai-nilai keagamaan dengan pelestarian alam mahasiswa mereka mengubah tanaman sereh lokal menjadi produk obat semprot (spray) antinyamuk alami bernama “Nahwangi”.

Inovasi sederhana namun berdaya guna tersebut mengantarkan Kelompok 9 Nawantara, yang di dalamnya termasuk delegasi mahasiswa UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, meraih Juara 2 Stand Ekspo Terbaik sekaligus dinobatkan sebagai Kelompok Teraktif dalam Penutupan KKN Nusantara VI Tahun 2026 di Gedung Pertemuan Kecamatan Leuwidamar, Kamis (20/8/2026).

Rangkaian ekspo dan penutupan KKN Nusantara VI ini mempertemukan 15 kelompok pengabdian lintas Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia yang bertugas di wilayah Kecamatan Leuwidamar dan Cirinten. Acara tersebut dihadiri jajaran Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI, pimpinan LPPM PTKIN, serta unsur pemerintah daerah Kabupaten Lebak.

Apresiasi Rektor dan Menjaga Keseimbangan Alam

BACA JUGA :  Hujan Deras Sebabkan Bangunan SD Tak Terpakai Roboh di Baringin, Warga Minta Perhatian Serius Pemko Padang

Capaian membanggakan tersebut mendapat apresiasi tinggi dari Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani. Beliau menyampaikan rasa bangga atas dedikasi para mahasiswa yang mampu mengharumkan nama almamater di kancah nasional melalui program pengabdian berbasis solusi lingkungan.

“Prestasi ini membuktikan bahwa mahasiswa tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan ekologis yang tinggi. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat harus membawa manfaat nyata, dan karya berbasis potensi lokal seperti ini adalah wujud konkret dari pengabdian yang berakar pada nilai-nilai keagamaan dan pelestarian lingkungan,” ujar Prof. Silfia Hanani.

Pemanfaatan tanaman sereh menjadi produk antinyamuk “Nahwangi” lahir dari proses interaksi langsung mahasiswa dengan lingkungan Desa Wantisari.

Kasubdit Litapdimas Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag RI, Nur Kafid, menegaskan bahwa KKN Nusantara dirancang sebagai bagian dari strategi membangun desa secara berkelanjutan.
“Leuwidamar menyimpan potensi besar dalam ekoteologi.

Tradisi masyarakat yang berpadu dengan nilai keagamaan menjadi modal sosial penting untuk menjaga keseimbangan alam. Kementerian Agama berkomitmen menjadikan ekoteologi sebagai tema unggulan yang direplikasi di berbagai daerah,” kata Nur Kafid.

BACA JUGA :  Tiga Jembatan Rampung, Andre Rosiade Tinjau Jembatan Gantung Koto Rawang

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UIN Bukittinggi, Dr Muhiddinur Kamal menyebut penghargaan ini sejalan dengan tema KKN 2026: Syiarkan Kebaikan, Lestarikan Lingkungan, dan Bakti UIN Bukittinggi untuk Negeri.

Senada dengan itu, Wakil Rektor Urusan Akademik Dr. Afrinaldi, berharap prestasi nasional ini menjadi motivasi berkelanjutan bagi generasi mahasiswa berikutnya.

Merajut Kebinekaan di Garis Depan Pengabdian

Di luar raihan tropi dan sertifikat, menurut Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat UIN Bukittinggi, Dr Arjoni, KKN Nusantara VI menjadi ruang perjumpaan budaya yang inklusif. Kelompok 9 Nawantara terdiri dari 16 mahasiswa yang berasal dari UIN Purwokerto, UIN Lampung, UIN Banten, UIN Bandung, UIN Padangsidimpuan, UIN Pekalongan, UIN Kudus, UIN Mataram, UIN Palangkaraya, IAIN Ternate, IAIN Kendari, hingga UIN Bukittinggi.

Bagi para peserta, jelas Arjoni, pengalaman hidup berdampingan dengan warga desa dan meleburkan latar belakang kampus yang berbeda memberi pelajaran mendalam tentang komunikasi dan kepekaan sosial.

BACA JUGA :  Murid RA se Pasaman Barat, Ikuti Pawai HUT RI ke-81

Arjoni menyampaikan KKN bukan hanya tentang menyelesaikan program kerja, tetapi bagaimana mahasiswa hadir, berbaur, dan memberikan manfaat nyata.

Pertemanan, keberanian mencoba hal baru, serta kenangan bersama warga Desa Wantisari adalah hadiah yang jauh lebih berkesan,” ungkap Hadana Rosyada, mahasiswa semester 4 delegasi UIN Bukittinggi.

Ketika pameran usai dan panggung penutupan dibongkar, jejak gagasan ekoteologi dari Kelompok Nawantara tetap tinggal di Desa Wantisari untuk menjadi bukti bahwa sinergi ketulusan, kepedulian lingkungan, dan ilmu pengetahuan selalu menemukan jalannya untuk memberi arti bagi masyarakat. (irwandi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *