Ketika Marah Menjadi Ujian, Mampukah Kita Mengalahkan Diri Sendiri?

Oleh: Prof. Asasriwarni*)

Marah adalah bagian dari sifat manusia. Ia bisa muncul ketika seseorang merasa disakiti, direndahkan, diperlakukan tidak adil, atau menghadapi keadaan yang tidak sesuai harapan.

Namun, Islam tidak mengukur kekuatan seseorang dari seberapa keras ia membalas kemarahan. Ukurannya justru terlihat ketika seseorang memiliki kesempatan untuk melampiaskan emosi, tetapi memilih menahannya karena Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukan sekadar kemampuan mengalahkan orang lain dalam pertarungan. Orang yang kuat adalah mereka yang mampu menguasai dirinya ketika amarah sedang memuncak.

Pesan ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak persoalan menjadi lebih besar bukan karena masalah awalnya berat, tetapi karena kemarahan membuat seseorang kehilangan kendali atas ucapan dan tindakan.

Ketika Hawa Nafsu Menjadi Lawan Terberat

Ada pertarungan yang tidak terlihat oleh mata. Bukan antara dua orang, tetapi antara akal sehat dan dorongan emosi dalam diri sendiri.

Ketika marah, seseorang bisa merasa memiliki alasan untuk membalas. Lidah menjadi sulit dikendalikan. Tangan mudah bertindak. Bahkan keputusan yang biasanya dipikirkan dengan matang dapat berubah hanya dalam hitungan detik.

Di sinilah nilai menahan amarah mendapat tempat yang tinggi dalam ajaran Islam.

Para ulama menjelaskan bahwa orang yang mampu mengendalikan kemarahannya sejatinya sedang menundukkan hawa nafsu. Ia tidak membiarkan emosinya menentukan apa yang harus dikatakan atau dilakukan.

Lawan seperti ini justru lebih sulit ditaklukkan. Sebab, musuhnya berada di dalam dirinya sendiri.

Menahan Marah Ketika Mampu Membalas

Al-Qur’an memberikan gambaran yang jelas tentang orang-orang yang mendapatkan kecintaan Allah. Dalam Surah Ali ‘Imran ayat 134, Allah memuji mereka yang mampu menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain, dan berbuat kebajikan.

Baca Juga :  HANTARU 2026, Kantah Pessel Teguhkan Komitmen Berikan Pelayanan Semakin Pasti

Ada satu hal yang patut direnungkan dari ajaran tersebut.

Menahan marah bukan sekadar diam karena tidak memiliki kekuatan untuk membalas. Nilai kesabaran justru tampak ketika seseorang memiliki kemampuan untuk melampiaskan kemarahannya, tetapi memilih tidak melakukannya demi mencari keridaan Allah.

Di titik itulah pengendalian diri menjadi ibadah.

Seseorang bisa saja memiliki kedudukan, kekuasaan, tenaga, atau kesempatan untuk membalas. Namun, ia memilih berhenti. Ia menimbang akibatnya. Ia menahan lidahnya. Ia mengendalikan tangannya. Ia menyerahkan urusan yang tidak mampu diselesaikannya kepada Allah.

Sikap seperti ini bukan tanda kelemahan.
Justru dibutuhkan kekuatan batin untuk melakukannya.

Jangan Biarkan Kebencian Menghapus Keadilan

Persoalan tidak berhenti pada kemampuan menahan marah. Islam juga mengajarkan agar emosi tidak membuat seseorang kehilangan keadilan.

Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 8 agar kebencian kepada suatu kaum tidak mendorong seseorang berlaku tidak adil.

Pesannya sangat dalam. Rasa tidak suka kepada seseorang tidak boleh menjadi alasan untuk memutarbalikkan kebenaran.

Ketika sedang marah, seseorang mudah melihat kesalahan orang lain lebih besar daripada kenyataannya. Sebaliknya, ketika sedang menyukai seseorang, ia bisa saja menutup mata terhadap kekurangannya.
Karena itu, keadilan membutuhkan kendali diri.

Seorang mukmin tidak seharusnya membiarkan rasa suka membuatnya membenarkan sesuatu yang keliru. Begitu pula rasa benci tidak boleh membuatnya menolak sesuatu yang benar.

Kekuatan Sejati Adalah Mampu Menguasai Diri

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Kekuatan dalam konteks ini tidak berhenti pada kekuatan fisik.

Baca Juga :  Pemko Sosialisasikan Katalog Konstruksi dan Mekanisme Pembayaran Pengadaan

Ada kekuatan iman. Ada kekuatan untuk bertahan dalam ketaatan. Dan ada kekuatan untuk melawan hawa nafsu ketika dorongan untuk berbuat buruk sedang menguasai diri.

Karena itu, kemampuan mengendalikan marah bukan perkara kecil.

Seseorang mungkin mampu memenangkan perdebatan. Ia mungkin mampu membuat orang lain diam. Ia mungkin memiliki kekuasaan untuk membalas.

Namun, kemenangan yang lebih sulit adalah ketika seseorang mampu mengatakan kepada dirinya sendiri: cukup.

Cukup untuk membalas. Cukup untuk berkata kasar. Cukup untuk memperpanjang persoalan.
Ia memilih menahan diri karena sadar bahwa setiap ucapan dan tindakan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Marah Boleh Datang, Tetapi Jangan Sampai Menguasai

Islam tidak mengajarkan manusia untuk kehilangan seluruh rasa marah. Yang diajarkan adalah bagaimana menempatkan kemarahan pada batas yang benar.

Marah tidak boleh menjadi penguasa atas akal dan hati.

Ketika emosi mulai naik, ada baiknya seseorang memberi ruang bagi dirinya untuk berhenti sejenak. Tidak semua perkataan harus langsung dijawab. Tidak semua tindakan harus dilakukan saat itu juga.

Sebab, satu kalimat yang keluar ketika marah bisa melukai hati bertahun-tahun. Satu tindakan yang dilakukan tanpa pertimbangan bisa melahirkan penyesalan panjang.

Maka, menahan diri adalah bentuk penjagaan terhadap diri sendiri sekaligus orang lain.

Seorang mukmin yang terlatih mengendalikan hawa nafsunya akan lebih mampu menjaga ucapan dan perbuatannya. Ia tidak mudah berubah hanya karena sedang tersulut emosi.

Inilah salah satu bentuk ketakwaan yang nyata: tetap berada di jalan kebenaran ketika hati sedang tidak tenang.

Baca Juga :  Pacah Talua di Aichi-Nagoya, Ada Nama Anak Padang di Balik Emas Indonesia

Belajar Menang Melawan Diri Sendiri

Kita sering menganggap kemenangan sebagai keberhasilan mengalahkan orang lain.

Padahal, dalam banyak keadaan, kemenangan terbesar justru terjadi ketika seseorang mampu mengalahkan dorongan buruk dalam dirinya sendiri. Mampu diam ketika ingin membalas. Mampu memaafkan ketika memiliki kesempatan untuk menghukum. Mampu berkata benar ketika kebencian sedang memenuhi hati.

Itulah latihan yang tidak pernah selesai.
Sebab, manusia akan terus berhadapan dengan keadaan yang menguji kesabaran. Akan selalu ada perkataan yang menyakitkan, perlakuan yang mengecewakan, dan situasi yang memancing emosi.

Di sanalah kualitas seorang mukmin diuji.
Bukan ketika semuanya berjalan sesuai keinginan, tetapi ketika kenyataan tidak sesuai harapan.

Jika saat itu ia masih mampu menjaga lisan, menahan tangan, mempertahankan keadilan dan menyerahkan urusannya kepada Allah, maka ia sedang belajar menjadi manusia yang kuat dalam arti yang sesungguhnya.

Semoga kita tidak hanya meminta kekuatan untuk menghadapi orang lain, tetapi juga memohon kekuatan untuk menundukkan diri sendiri.

Sebab, terkadang lawan yang paling sulit bukanlah orang yang berada di hadapan kita, melainkan hawa nafsu yang bersemayam di dalam diri. []

Penulis adalah Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Sumbar, Anggota Wantim MUI Pusat, A’wan PB NU Pusat*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *