Oleh : Rahma Deni, S.Pd.Gr.*)
“Aku tak Sudi lagi memakai cincin ini” Suara Rinjani pecah di malam yang sunyi.
Ia Melemparnya ke hadapan Satria malam itu. Benda kecil yang selalu melingkar di jari manisnya itu melayang sesaat sebelum jatuh tepat dan tergeletak di depan Satria.
Rinjani menutup pintu kamar dengan keras. Satria dengan segala kebingungannya diam seribu Bahasa, tak melawan tak berkutik, tak mengejar. Hanya Diam.
**
Beberapa hari belakangan Rinjani seperti sering terpancing emosi dengan hal-hal sepele di rumah. Barangkali karena lelahnya di rumah saja atau bisa jadi lelah mengurus dua bocil yang menguras energi.
Namun, Satria selalu memberikan ruang kepadanya agar bisa menikmati sedikit waktu tiap minggunya untuk Rinjani memanjakan diri setelah lelah di rumah sehari-hari. Ia biasanya ada agenda bersama teman-temannya di luar rumah. Biasanya itu yang membuat Rinjani sedikit mendapatkan energi baru untuk menjalani hari-hari ini.
Namun, akhir-akhir ini Rinjani mengatakan di circle pertemanannya sedikit berbeda, pembahasan dalam pertemuan terkadang sudah memamerkan harta. Sehingga, Ia sedikit ciut dengan keadaan ekonominya yang masih jauh dari beberapa temannya.
Pagi itu Rinjani mengatakan kepada suaminya agar cepat pulang dari kerja. Rinjani ingin ada yang diikuti seperti workshop online untuk menambah cuan bagi ibu Rumah tangga. Satria berjanji akan pulang lebih awal dari biasanya. Sastria adalah suami yang aware dengan istri.
Setiap hari selalu melayani pesan singkat dari istrinya di rumah. Apapun akan dilaporkan oleh Rinjani kepada Satria. Sastria dengan tenang dan senangnya akan membalas se-absurd apapun itu pesan dari istrinya. Siang itu Rinjani berpesan nanti dibelikan sesuatu sebelum pulang.
Namun, satria hari ini banyak yang dikerjakan ditempat kerja. Ia menyadari bagaimana Rinjani selama ini, hinga Ia bergegas dalam banyak hal termasuk pulang ke rumah, walau jika dalam perjanjian jamnya ini sangat telat dari yang dijanjikan. Ia lupa membawa apa yang diminta. Sampai di rumah Ia sudah mendapatkan wajah Rinjani tidak ceria sepertia biasanya. Rinjani sedikit datar dan tidak pula merungut manja.
Ia izin untuk mengikuti Workshop secara Online. Hal itu artinya juga perlaihan pegasuhan dua anak mereka beralih ke Satria. Sastria merasa ada sedikit yang janggal. Hingga malam tiba dan makan malam selesai. Semua dimulai dari anak mereka sudah terlelap.
Perang dingin itu kembali hadir ditengah mereka setelah cukup lama mereka tak bertengkar hebat. Sastria kembali mencari senjata bagaimana memenangkan permasalahan kali.
***
Dia pindahkan duduknya dengan melonjorkan kakinya ke depan. Lampu ruang tengah telah dimatikan beberapa jam yang lalu persis kebiasaan biasanya menjelang tidur. Detak jam menemani dia diam di ruang tengah yang tidak begitu besar. Maklum sastria dan istrinya menyewa sepetak rumah di pinggir kota.
Sastria kerja sebagai honorer di sebuah sekolah. Namun, dia juga bisa bekerja dalam pekerjaan lainnya. Dia serba bisa dan serba mau. Apapun akan dikerjakan demi keluarga kecilnya. Tak memantang, tak gensi sedikitpun agar istri dan anak-anaknya bisa makan dan hidup Bahagia.
Rinjani, istri Satria yang paling ia banggakan. Kenapa tidak, mengambil hatinya ketika sebelum menikah sangatlah susah dan butuh perjuangan yang luar biasa. Rinjani bukan orang kaya, namun Ia adalah seorang perempuan yang memiliki karakter yang sama denga sastria. Ulet, punya banyak keterampilan juga, bisa bekerja dimana saja dan banyak yang bisa Ia lakukan juga.
Namun, setelah menikah semua kemampuan seperti disulap satu persatu untuk dimuseumkan. Ia berubah menjadi serba terbatas, Ia tidak seluwes dulu ketika masih muda. Namun, Ia masih membantu suami ikut dalam mencari nafkah. Bahkan, mungkin Ia yang lebih sering mendapatkan rejeki dibandingkan suaminya.
“ Apa yang salah dalam pernikahan ini tuhan ?”, Gumamnya lirih menyandarkan kepala ke dinding.
Tujuh tahun pernikahan tentu masih ada ujian-ujian kecil yang mesti diselesaikan oleh pasangan. Ia mengingat ini ketiga kalinya pertengkaran hebat terjadi antara Ia dengan Rinjani. Rinjani sosok Perempuan yang moody. Tidak tahu kenapa, apakah karena beban keluarga atau mentalnya tidak baik-baik saja atau bisa saja sudah jadi karakternya.
Namun, dua kali yang kemarin Sastria dengan tenang menyelesaikan. Kembali menenangkan badai topan yang melanda kapal mereka. Ia selalu berprinsip tidak akan melompat dari kapalnya karena ini adalah bahtera cinta yang diperjuangkan selama ini.
Ia mengambil wudhu, jam dilihatnya sudah jam 2 dini hari. Rinjani sejak masuk ke kamar belum ada keluar dan bersuara. Ia berpikir bisa jadi Perempuan yang sudah memberikan ia tiga anak laki-laki itu tertidur dan lelah menahan emosi. Ia bermunajat mengadu pada tuhannya.
Selepas itu sedikit ada lega dan lapang dalam dalam dadanya. Ia seperti diberi ruang di dadanya khusus untuk menerima kerasnya Rinjani tadi dengannya. Ia buka pintu kamar, dan Rinjani ia temukan duduk bermenung menghadap ke jendela. Ia tutup pintu dengan sangat pelan, agar anak-anak pun tidak terbangun.
“Siapkan bajuku, atau kau yang siapkan bajumu. Pagi salah satu dari kita harus ada yang keluar dari rumah ini”, Ucap Rinjani tegas namun dengan anda yang lembut
Satria yang belum sempat duduk terhenyak di samping kasur di dekat pintu masuk, Ia diam dan dadanya sangat berat. Ruang lapang di dadanya setelah shalat seketika menyempit kembali. Napasnya seperti enggan naik ke kerongkan dan sesak menekan.
“Jangan seperti itu, Rin!” katanya lembut. “ Kita coba bahas lagi..apa yang..” Belum siap Ia bicara Rinjani menyela dengan cepat.
“Pembahasan selesai, tidak ada yang dibahas lagi. Aku sudah lelah, dan ingin sendiri lagi”, katanya dengan tenang tanpa berteriak dan keras seperti beberapa jam yang lalu.
“Ini kan masalah sepele, Rin”, kata Satria dengan tenang juga dan sedikit memperbaiki duduknya agar sedikit mendekat kepada Rinjani. Rinjani mendapat sinyal bahwa Ia akan didekap, Ia pun memperbaiki duduknya. Ia tidak mau didekati dan disentuh. Ini biasanya kelemahan dari Rinjani. Ia sudah membaca pola pertengkaran dengan Satria.
Dalam pikirannya saat itu, Ia tidak akan mengalah dengan hanya bujukan. Ia sudah sangat dikuasai amarah, hingga tak sedikitpun pembenaran dari Sastria Ia bisa terima. Rinjani sangat keras dan seperti bukan istri sastria yang biasanya. Keras, kasar dan tidak mau mendengar penjelasan.
Segera Ia menghadap Satria dan menunjuk suaminya dengan sangat lurus. “ Saya dengan Kamu tak lagi seirama dalam komunikasi, saya tidak ingin hidup dengan orang yang yang tidak belajar dengan kesalahan”, katanya tegas dengan suara yang ditahan.
Satria seperti dihantam keras, Ia tertegun dan melihat istrinya sangat dalam. Dalam hatinya ia berbisik “Tuhan, Ia masih milikku, Ia akan tetap milikku, jangan biarkan setan mengambilnya”.
Satria memilih tidak lagi membalas omongan istrinya. Dia diam dan mencari jawaban apa yang akan Ia keluarkan agar Rinjani tidak terbakar emosi lagi. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding. Ia memilih diam dulu.
Namun, dalam diamnya ada rasa takut menyelimuti pikirannya. Diam apakah sudah situasi yang tepat dan diinginkan rinjani, atau harus melawannya berdebat. Apakah itu yang membuat Rinjani puas. Ia terus berdebat dengan otaknya sendiri, tentang apa yang akan Ia katakan, tentang apa yang akan Ia lakukan, tentang apa yang akan ia Katakan. Namun, seberisik itu dalam kepalanya, ada satu suara yang tetap tergiang dan selalu berbunyi “ Tidak akan saya turun dari kapal ini, ini akan ada jalan”.
Dua menit, tiga menit, jelang lima menit Rinjani yang bersuara dalam heningnya dini hari. Sastria dengan kakunya menyandarkan kepala dengan berisik suara dikepalanya Ia tidak tahu air mata mengalir di pipinya. “ Kenapa tidak menjawab dan berkata sedikitpun, apakah diam menyelesaikan ini semua? “ tanya Rinjani kembali.
Suara dia sangat lunak dan pelan namun Satria seperti mendengar sebuah teriakan dan pukulan keras. Berisik di kepala dan suara yang berisik berhenti pada kata “ Kaann…diam bukan jawaban”.
Satria hanya melihat Rinjani, Ia masih belum menjawab satu pun. Sekarang ia memang kehilangan kata-kata melayani istrinya yang sangat keras. Dia merasakan dingin yang sangat dingin malam itu. Matanya tak lepas dari Rinjani. Ia tak punya pilihan selain, mendekat ke rinjani dan memeluknya.
Rinjani sangat murka akan diamnya satria. Ia bahkan memukuli tangan Satria yang mendekap tubuhnya. Satria tak merasakan apapun itu, Ia dekat kuat-kuat Rinjani. Ia hanya ingin malam itu dipelukkan Rinjani. Ia tidak menyadari kapan dan bagaimana selesai malam itu. Ia masih ingat pukul 02.30 WIB, Rinjani mengatakan kata-kata yang menghentikan suara berisik di kepalanya dan sepertinya dunia Sastria. Hingga Ia terlelap dalam tangisan berdua. []
Mahasiswa S2 RPL UNP jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia tahun 2026*)
