Lima Menit

Oleh: Nurul Jannah*)

Pernahkah kita merasa begitu sibuk, sampai tak sempat mendengarkan cerita orang-orang terdekat? Padahal, kita masih punya waktu untuk membuka ponsel, membaca pesan, atau menikmati berbagai cerita di media sosial. Namun, ketika orang yang kita cintai ingin ditemani sebentar, kita justru merasa tak punya waktu.

“Nanti, ya. Masih ada kerjaan.”

Kalimat itu begitu mudah terucap. Kita menganggapnya biasa, tanpa menyadari ada hati yang sedang menunggu. Padahal, untuk duduk bersama dan mendengarkan cerita mereka, sering kali kita hanya perlu meluangkan lima menit.

Pagi itu, seorang ibu duduk di meja makan. Dua cangkir teh hangat dan sepiring pisang goreng telah disiapkan. Sesekali ia menoleh ke arah kamar anaknya. Ada cerita yang sejak semalam ingin dibagikan, juga kerinduan kecil untuk duduk bersama.

“Nak, temani Ibu minum teh sebentar, ya.”

“Nanti, Bu. Lagi banyak kerjaan.”

“Iya, Nak. Ibu tunggu.”

Ibu tersenyum dan kembali menatap pintu kamar. Lima menit berlalu, lalu sepuluh, hingga teh di hadapannya kehilangan kehangatan. Anak yang ditunggu tak kunjung datang. Akhirnya, ia menghabiskan tehnya sendiri, bersama cerita yang tak sempat didengarkan.

Begitulah keseharian kita. Ayah menunggu telepon, pasangan ingin didengarkan, anak kecil bersemangat menunjukkan gambarnya. Mereka tidak meminta banyak, hanya berharap kita berhenti sejenak dan memberi perhatian.

Baca Juga :  Gubernur Mahyeldi dan Wabup Ihpan Tinjau Progres Pembangunan Pelabuhan Teluk Tapang

“Nanti, ya.”

Dua kata sederhana yang tanpa disadari bisa membuat hati merasa tak lagi penting.

Kita sanggup berjam-jam menatap layar, mengikuti kabar orang lain, bahkan tertawa melihat video yang esok sudah terlupakan. Tetapi lima menit untuk mendengarkan orang terdekat sering terasa begitu berat.

Kita begitu sibuk mengetahui kabar dunia, sampai tak menyadari ada hati yang sedang bersedih di rumah sendiri.

Padahal, kasih sayang tak selalu membutuhkan biaya. Kadang cukup duduk bersama, menatap wajah yang lelah, lalu bertanya, “Hari ini bagaimana?” Setelah itu, dengarkan. Tak perlu buru-buru memberi nasihat, apalagi kembali sibuk dengan ponsel.

Sebab tidak semua yang bercerita sedang meminta nasihat. Ada yang hanya ingin didengar, dipahami, dan diyakinkan bahwa dirinya berharga.

Hubungan yang hangat tumbuh dari perhatian kecil yang dilakukan terus-menerus. Lima menit cukup untuk menelepon ibu, menyapa ayah, mendengarkan pasangan, atau menemani anak. Bahkan untuk meminta maaf, mengucapkan terima kasih atau memeluk orang tercinta yang sedang lelah.

Sayangnya, kita sering menganggap kebersamaan akan selalu tersedia. Hingga suatu hari, kehilangan datang dan mengajarkan betapa mahalnya waktu yang dahulu kita sia-siakan.

Bayangkan suatu pagi, meja makan itu masih sama. Cangkir kesayangan ibu masih tersimpan, kursinya tetap di tempat semula. Namun, tak ada lagi suara lembut yang menyapa dari dapur.

Baca Juga :  Empat Perkara yang Baik, Namun Ada yang Lebih Baik

“Nak, sarapannya sudah siap”

Kalimat yang dahulu terdengar setiap pagi, kini menjadi suara yang begitu ingin kita dengar sekali lagi.

Kita membuka pesan-pesan lama.

“Jangan lupa makan, ya.”

“Hati-hati di jalan.”

“Kalau senggang, telepon Ibu.”

Dahulu, pesan-pesan itu sering kita baca sambil lalu. Kini, setiap kata terasa begitu berharga. Air mata pun jatuh ketika kita menyadari betapa banyak cinta yang tersembunyi dalam perhatian sederhana.

Kita ingin menelepon, tetapi tak ada lagi yang mengangkat. Ingin bercerita, tetapi tak ada lagi yang menjawab. Ingin duduk bersama, tetapi kursi di hadapan kita telah kosong.

Kini kita punya waktu untuk membaca pesannya berulang kali. Punya waktu untuk mengenang, menangis, bahkan menyesal. Namun, tak lagi punya lima menit kesempatan untuk mendengarkan suaranya.

Akhir pekan ini, letakkan ponsel sebentar. Duduklah bersama orang tercinta, dengarkan ceritanya, tanyakan kabarnya dengan sungguh-sungguh. Jika berjauhan, teleponlah. Jika ada hati yang terluka, mulailah memperbaikinya.

Jangan menunggu rumah menjadi sunyi untuk merindukan suara yang dahulu memenuhi setiap sudutnya. Jangan menunggu kursi kosong untuk menyadari betapa berharganya orang yang pernah duduk di sana.

Baca Juga :  Bawa Nama Indonesia ke Panggung Asia, Azam Syahrizky Dapat Suntikan Motivasi KONI Sumbar

Kebahagiaan sering hadir dalam bentuk paling sederhana. Secangkir teh, percakapan ringan, tawa kecil, atau suara yang mengingatkan kita agar tidak terlambat makan.

Maka, berikan lima menit terbaik hari ini. Bukan waktu sisa, melainkan waktu yang sengaja kita sisihkan, karena mereka begitu berarti.

Pekerjaan bisa dilanjutkan. Pesan bisa dibalas kemudian. Namun, usia terus berjalan, dan tak semua kesempatan dapat datang kembali.

Jangan sampai kelak kita memiliki sepanjang hari untuk merindukan, tetapi tak lagi memiliki lima menit untuk bersama.

Karena penyesalan terdalam bukan karena kita tak pernah memiliki waktu, melainkan karena dahulu kita punya begitu banyak kesempatan untuk mencintai, tetapi terlalu sering berkata, “Nanti.”❤️

Bogor, 7 November 2026

Selamat menikmati akhir pekan. Semoga hari ini kita tidak hanya punya waktu untuk beristirahat, tetapi juga menyediakan lima menit untuk membuat orang tercinta merasa benar-benar dicintai. ❤️

Akademisi / Penggiat Literasi / Pemerhati Lingkungan*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *