Serial Kurenah Malanca : Kanai Kijok…

‎
‎Oleh : Teddy Chaniago*)

MATA Malanca sebentar – sebentar berkedip, tangannya sesekali mengusap indra penglihatannya itu dengan punggung tangannya.
‎
‎Malanca bukan sedang bersedih, bukan pula sedang berhiba hati. Akan tetapi penglihatannya agak terganggu dengan tebalnya kabut yang mengepung negeri antah berantah.
‎
‎Walau penglihatannya sedang tidak baik – baik saja, namun hal itu tak menghalanginya untuk kongkow di lepau Tek Upik.
‎
‎Ada perasaan puas yang melingkupi sanubari Bujang Lapuk itu saat sudah berada di lepau langganannya tersebut.
‎Bagaimana tidak, sejak Malanca kenal kopi pahit dan rokok kretek, lepau Tek Upik sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.
‎
‎Bahkan kalau mau mencatat secara lebih detail, lepau Tek Upik sudah jadi favorit Malanca sejak masih gagah sebagai anak Bujang, hingga sekarang saat mulai menapak senja. Ada yang menyebutnya Bujang Lapuk, namun ada juga yang menyebutnya sebagai pria ba’da Asyar.
‎
‎Semua itu tak pernah dihiraukan benar oleh Mak Rumah Ajo Iben tersebut. Baginya itu hak asasi pribadinya sehingga yang lain tak perlu ikut campur.
‎
‎Belum juga sempurna Malanca menghenyakkan pantatnya di kursi kayu tersebut, kopi steng favoritnya telah terhidang di atas meja dilengkapi dua kerat goreng pisang yang masih panas.
‎
‎”Ini yang saya suka dengan lepau Tek Upik, tak perlu berteriak pesanan sudah datang,” ucap Malanca berbasa-basi.
‎
‎”Buat apa menunggu waang berteriak, karena yang akan waang pesan tetap saja kopi pahit setengah dan dua batang rokok  seribuan,” Tek Upik menjawab sambil mencibir.
‎
‎Jawaban Tek Upik itu hanya ditanggapi dengan senyum oleh Malanca, karena kalau berdebat, alamat akan hilang tempat berutang.
‎
‎Langkah kaki Tek Upik, tak lepas dari pandangan Malanca. Menurutnya, kalau dipatut patut, walau berbeda usia enam tahun, Tek Upik masih layak diperbini dan diajak ke tengah.
‎
‎”Tek Upik, Tek Upik,” Malanca mengucap tanpa sadar kalau suaranya terdengar oleh yang bersangkutan.
‎
‎”Kenapa waang sebut-sebut nama aden? Adakah yang aneh dalam penglihatan waang,? ” Tek Upik bertanya tanpa basa-basi.
‎
‎”Eh..eh tidak Tek. Tek Upik terlalu sempurna bagi seorang perempuan,” Malanca menjawab tergagap tak tentu sebut.
‎
‎”Mulut waang gugup, tapi mata waang mengerdip terus. Suka benar waang mangijok aden ya?” Tek Upik membalas sambil menggoda dengan juga mengerdipkan sebelah matanya.
‎
‎Mendapat perlakuan demikian, Malanca bukannya timbul keberaniannya, justru mukanya merah dan telinganya kucun  bak kucing dibawakan lidi.
‎
‎”Eh….Tek. Anu…aden,” Malanca makin gagap tak tentu jawab.
‎
‎”Kenapa pula dengan anu waang? Sudah bosan membawanya hilir mudik? ” Tek Upik makin berani dan duduk di depan Malanca yang mulai terpacur keringat dinginnya.
‎
‎”Mumpung tak ada orang, kalau waang serius. Aden bisa pertimbangkan untuk jadi bini waang. Dari pada waang lihat terus melalui sudut mata saat aden berjalan. Atau waang kijok tiap sebentar, tak enak kalau terlihat orang lain,” kali ini Tek Upik berkata dengan serius.
‎
‎Ucapan Tek Upik barusan, kontan membuat Malanca terdiam bagaikan patung. Meski tak memungkiri apa yang dikatakan Tek Upik, tapi mulut Malanca yang biasanya ceriwis, tak bisa berkata-kata.[]

Penulis yang malang melintang di dunia jurnalistik tanah air, pernah mengabdi di Tempo, Jawa Post dan Monitor Depok, menulis biografi sejumlah tokoh dan penulis serial Sutan Batawi*)

Baca Juga :  Walikota Solok Terima Penghargaan Parasamya Karya Kencana 2026, Bukti Komitmen Pengelolaan Program KB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *