Pacah Talua di Aichi-Nagoya, Ada Nama Anak Padang di Balik Emas Indonesia

Catatan: Hendri Parjiga*)

SATU medali emas akhirnya pecah.

Setelah empat hari menunggu, Merah Putih akhirnya berkibar paling tinggi di Asian Games 2026 Aichi-Nagoya, Jepang. Emas pertama Indonesia lahir dari perjuangan tim bulutangkis beregu putra yang menundukkan China 3-2 dalam final, Kamis (24/9/2026).

Indonesia sempat berada dalam situasi sulit. Jonatan Christie kalah pada partai pertama, kemudian Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri juga gagal menyumbang angka. Kedudukan 0-2.

Namun Alwi Farhan membuka jalan kebangkitan. Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin kemudian menyamakan kedudukan menjadi 2-2.

Partai kelima menjadi penentu.

Moh. Zaki Ubaidillah tampil menghadapi Weng Hongyang dan menang dua gim langsung 23-21, 21-13. Indonesia pun membalikkan keadaan menjadi 3-2 dan mengunci emas pertama.

Di balik keberhasilan itu ada satu nama dari Kota Padang yang mungkin tidak banyak mendapat sorotan. Muhamad Yusuf.

Yusuf memang tidak turun bertanding dalam lima partai final. Namun namanya tetap tercatat dalam skuad yang membawa pulang emas Asian Games 2026.

Bagi Sumatera Barat, ini bukan cerita kecil.

Muhamad Yusuf, Anak Padang di Panggung Asia

Muhamad Yusuf lahir di Padang pada 19 Februari 2006. Atlet yang akrab disapa Ucup itu memulai perjalanan bulutangkis sejak usia tujuh tahun.

Ia mengawali karier di PB Hasta Yudha Padang sebelum melanjutkan pembinaan hingga masuk Pelatnas PBSI pada 2025. Dalam profil resmi PBSI, Yusuf tercatat sebagai atlet tunggal putra tingkat pratama.

Kini usianya baru 20 tahun.

Tetapi namanya sudah berada dalam daftar sepuluh pemain putra Indonesia yang dibawa ke Asian Games 2026.

Lebih menarik lagi, Yusuf tidak datang ke Jepang sekadar sebagai pelengkap.

Dalam daftar ranking BWF yang tersedia pada September 2026, Jonatan Christie berada di peringkat pertama dunia. Alwi Farhan menempati posisi ke-10, Moh. Zaki Ubaidillah ke-28, sedangkan Muhamad Yusuf berada di peringkat ke-45 dunia.

Dengan demikian, Yusuf tercatat sebagai tunggal putra peringkat keempat Indonesia.

Baca Juga :  Pak Purbaya Diantara Badai Negeri

Empat nama tersebut pula yang memperlihatkan kedalaman kekuatan tunggal putra Indonesia saat ini.

Dan di dalam empat besar itu, ada anak muda kelahiran Padang.

Kenapa Yusuf Tidak Bermain?

Pertanyaan ini mungkin muncul di tengah masyarakat Sumatera Barat: Kalau Muhamad Yusuf ikut membawa pulang emas, mengapa dia tidak terlihat bertanding?

Jawabannya ada pada sistem pertandingan beregu.

Dalam regulasi pertandingan beregu BWF, sebuah tim memainkan tiga nomor tunggal dan dua ganda. Untuk nomor tunggal, pemain diturunkan berdasarkan urutan ranking.

Pemain dengan ranking tertinggi menjadi tunggal pertama, disusul peringkat kedua dan ketiga.

Karena Indonesia memiliki Jonatan Christie, Alwi Farhan dan Moh. Zaki Ubaidillah dengan peringkat yang berada di atas Yusuf, ketiganya menjadi pilihan untuk tiga posisi tunggal.

Itulah yang membuat Yusuf tidak mendapat kesempatan turun dalam final.

Bukan berarti ia tidak masuk perhitungan.

Justru sebaliknya.

Masuknya Yusuf dalam skuad menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kedalaman pemain tunggal putra yang semakin kompetitif.

Jonatan berada di puncak dunia. Alwi menembus 10 besar. Zaki berada di 30 besar. Yusuf menyusul di 50 besar dunia.
Bagi Indonesia, ini adalah aset.

Bagi Sumatera Barat, ini kebanggaan.

Fakta: Yusuf Tetap Bagian dari Tim Emas

Ada kecenderungan kita hanya mengingat atlet yang bermain pada partai penentuan.

Padahal olahraga beregu tidak dibangun oleh satu atau dua nama.

Muhamad Yusuf masuk dalam daftar resmi skuad beregu putra Indonesia bersama Jonatan Christie, Alwi Farhan, Moh. Zaki Ubaidillah, Fajar Alfian, Muhammad Shohibul Fikri, Leo Rolly Carnando, Daniel Marthin, Nikolaus Joaquin dan Amri Syahnawi.

Nama Yusuf juga tercantum dalam daftar peraih emas beregu putra Indonesia yang dirilis setelah kemenangan atas China.

Jadi, meski tidak mendapat menit bertanding dalam laga final, ia tetap menjadi bagian dari perjalanan tim menuju podium tertinggi.

Itu fakta yang layak disampaikan kepada publik Sumatera Barat.

Opini: Tidak Bermain Bukan Berarti Tidak Berkontribusi

Baca Juga :  Pemko Sosialisasikan Katalog Konstruksi dan Mekanisme Pembayaran Pengadaan

Di sinilah kita perlu mengubah cara melihat prestasi olahraga.

Medali emas memang diberikan kepada tim. Tetapi proses menuju sebuah tim juara membutuhkan banyak pemain yang siap ketika kesempatan datang.

Muhamad Yusuf mungkin belum mendapatkan panggung pertandingan di Aichi-Nagoya.

Namun, keberadaannya di dalam skuad nasional menunjukkan bahwa perjalanan anak Padang itu sudah menembus batas daerah.

Dari PB Hasta Yudha Padang, kemudian masuk Pelatnas, lalu terpilih memperkuat Indonesia di Asian Games.

Itu sebuah lompatan besar.

Bahkan tanpa memegang raket di partai final, Yusuf sudah ikut membawa nama Padang dan Sumatera Barat ke salah satu panggung olahraga terbesar di Asia.

Menurut saya, inilah bagian yang jangan sampai hilang dari cerita emas Indonesia.

Dari Padang untuk Merah Putih

Sumatera Barat selama ini dikenal memiliki tradisi melahirkan atlet berprestasi.

Muhamad Yusuf adalah salah satu generasi berikutnya yang patut mendapat perhatian.

Usianya masih 20 tahun. Ranking dunianya juga masih sangat mungkin bergerak. Pada September 2026, posisinya sudah berada di urutan ke-45 dunia dan keempat terbaik di Indonesia. Artinya, perjalanan belum selesai.

Justru Asian Games 2026 bisa menjadi salah satu pengalaman penting dalam proses pematangan kariernya.

Ia melihat langsung bagaimana Jonatan Christie menghadapi partai pertama. Ia menyaksikan Alwi Farhan menjaga peluang. Ia melihat Zaki Ubaidillah menyelesaikan partai penentuan.

Pengalaman semacam itu tidak selalu bisa diperoleh melalui pertandingan biasa.

Mungkin hari ini Yusuf belum menjadi pemain utama.

Tetapi pengalaman menjadi bagian dari tim juara Asia dapat menjadi modal untuk perjalanan berikutnya.

Empat Emas dan Perjalanan yang Belum Selesai

Emas bulutangkis beregu putra juga membuat target Indonesia di Asian Games 2026 kembali terbuka.

Pemerintah menetapkan sasaran empat medali emas. Dengan emas dari bulutangkis, masih ada tiga emas yang harus diperjuangkan.

Catatan lima Asian Games sebelumnya menunjukkan perjalanan Indonesia cukup berliku.

Doha 2006 menghasilkan dua emas.
Guangzhou 2010 empat emas.

Baca Juga :  HANTARU 2026, Kantah Pessel Teguhkan Komitmen Berikan Pelayanan Semakin Pasti

Incheon 2014 juga empat emas.

Kemudian Jakarta-Palembang 2018 menghasilkan lonjakan besar dengan 31 emas saat Indonesia menjadi tuan rumah.
Di Hangzhou 2022, Indonesia meraih tujuh emas.

Kini Aichi-Nagoya menjadi bab berikutnya.
Satu emas sudah pecah.

Dan di dalam emas pertama itu terdapat satu nama yang layak mendapat ruang lebih besar dari Sumatera Barat: Muhamad Yusuf, anak Padang yang ikut berdiri dalam barisan skuad juara Asia.

Pacah Talua, Tapi Cerita Yusuf Baru Dimulai

Kita boleh merayakan emas pertama Indonesia.

Kita boleh bangga dengan kebangkitan luar biasa setelah tertinggal 0-2 dari China.

Tetapi bagi Sumatera Barat, ada kebanggaan tambahan yang tidak kalah menarik.

Ada putra daerah yang berada di dalam skuad tersebut.

Muhamad Yusuf memang belum turun bertanding.

Tetapi ia sudah sampai di sana.
Dan kadang-kadang, perjalanan menuju menjadi juara tidak selalu dimulai dengan tampil di partai final.

Ada waktunya seorang atlet harus menunggu.

Ada waktunya ia belajar dari bangku pemain.

Ada waktunya ia mengambil pelajaran dari senior.

Yang terpenting, kesempatan itu terus dipelihara.

Hari ini Muhamad Yusuf adalah tunggal putra peringkat keempat Indonesia dan bagian dari tim peraih emas Asian Games 2026.

Besok, bukan tidak mungkin, anak Padang ini menjadi salah satu nama yang berdiri sendiri di tengah sorotan panggung bulutangkis dunia.

Untuk saat ini, satu hal sudah jelas: Pacah talua Indonesia di Aichi-Nagoya. Dan ada nama Muhamad Yusuf di dalam cerita emas itu. []

Penulis adalah:

  • Wartawan Utama
  • Pemimpin Redakai FokusSumbar.Com
  • Pemimpin Redaksi FokusSumbar.Com
  • Ketua Bidang Humas KONI Sumbar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *