Oleh: Dr. Cand. Hamzah Irfanda, S.Sos., M.Pd.
Tidak terasa, kita telah memasuki bulan keempat dalam kalender Islam, Rabiuts Tsani atau Rabiul Akhir. Waktu terus bergerak dan tidak pernah kembali. Setiap detik yang berlalu sesungguhnya merupakan bagian dari perjalanan hidup yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Karena itu, momentum Rabiuts Tsani hendaknya menjadi pengingat bagi kita untuk kembali menata perjalanan kehidupan. Jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat kita lupa bahwa tujuan akhir perjalanan manusia bukanlah sekadar mengumpulkan harta, jabatan, maupun kesenangan duniawi, melainkan mengabdi kepada Allah SWT.
Dalam kehidupan, manusia ibarat seorang musafir. Ada perjalanan yang panjang, ada jalan yang terjal, berbatu dan penuh rintangan. Namun, ada pula jalan yang terasa lapang dan mudah dilalui. Semua keadaan tersebut merupakan bagian dari proses kehidupan yang memberikan pelajaran berharga.
Maka, tidak ada alasan untuk terus membandingkan perjalanan hidup kita dengan perjalanan orang lain. Setiap manusia memiliki jalan, ujian dan waktu yang berbeda. Yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani perjalanan tersebut sebagai hamba Allah SWT.
Perjalanan manusia sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum berada di dunia. Allah SWT mengingatkan tentang perjanjian manusia dengan-Nya sebagaimana disebutkan dalam QS Al-A’raf ayat 172. Setelah itu manusia menjalani kehidupan dunia, sebelum akhirnya memasuki kehidupan akhirat.
Dunia adalah tempat persinggahan sekaligus kesempatan untuk memperbaiki kualitas diri. Di sinilah manusia diberi kesempatan untuk memperbanyak amal, menaati perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya.
Namun, kehidupan dunia tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Allah SWT telah mengingatkan bahwa manusia akan diuji dengan berbagai bentuk cobaan, sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-Baqarah ayat 155.
Ujian kehidupan bisa hadir dalam bentuk kekurangan, kehilangan, kegagalan, sakit, kesulitan ekonomi, maupun persoalan keluarga. Sebaliknya, kelapangan, kekayaan dan keberhasilan juga merupakan ujian. Karena itu, baik kesulitan maupun kesenangan semestinya menjadi sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sayangnya, tidak sedikit manusia yang terlalu sibuk mengejar kehidupan dunia. Pergi pagi, pulang petang, memeras keringat dan membanting tulang demi memenuhi kebutuhan hidup merupakan sesuatu yang baik. Namun, jangan sampai kesibukan tersebut membuat kita lupa memenuhi kebutuhan jiwa.
Lambung membutuhkan makanan, tetapi jiwa juga membutuhkan iman dan ketaatan.
Harta memang diperlukan untuk menjalani kehidupan, tetapi harta bukanlah tujuan akhir perjalanan manusia. Jangan sampai seluruh energi hanya digunakan untuk mengisi kebutuhan jasmani, sementara hati semakin jauh dari Allah SWT.
Sebab, kehidupan dunia sangat singkat dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Ketika kesempatan hidup telah berakhir, manusia tidak dapat kembali untuk memperbaiki amalnya. Gambaran tentang penyesalan manusia ketika berada di akhirat telah diingatkan Allah SWT dalam QS As-Sajdah ayat 12.
Karena itu, selagi masih diberi umur, mari kita gunakan kesempatan tersebut sebaik-baiknya.
Dalam perjalanan hidup, rasa takut dan cemas sering kali menghampiri manusia. Mahasiswa takut tidak menyelesaikan kuliah. Orang tua khawatir terhadap masa depan anak. Sebagian orang takut belum menemukan jodoh, takut tidak mendapatkan pekerjaan, atau takut menghadapi masa depan yang belum diketahui.
Perasaan tersebut merupakan bagian dari dinamika kehidupan manusia. Namun, jangan biarkan ketakutan membuat kita kehilangan harapan kepada Allah SWT.
Kita boleh memiliki rencana, tetapi Allah SWT yang menentukan hasilnya. Kita wajib berusaha, tetapi jangan lupa untuk berserah diri kepada-Nya.
Pada akhirnya, perjalanan hidup bukan semata tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi tentang seberapa baik kita menjalani amanah kehidupan sebagai seorang hamba.
Rabiuts Tsani dapat menjadi momentum untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana perjalanan kita mendekat kepada Allah SWT? Sudah cukupkah bekal yang kita persiapkan untuk perjalanan menuju kehidupan akhirat?
Semoga sisa perjalanan hidup yang masih diberikan Allah SWT dapat kita isi dengan amal kebaikan, memperbanyak ibadah, memperbaiki akhlak, menolong sesama dan senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya.
Hingga suatu saat nanti, ketika perjalanan dunia berakhir, kita mampu mengakhiri kehidupan dengan kalimat tauhid sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Abu Dawud:
“Barang siapa yang akhir perkataannya La ilaha illallah, niscaya ia masuk surga.”
Semoga kita semua senantiasa diberikan kekuatan untuk menjalani perjalanan kehidupan dengan baik, tetap istiqamah dalam ketaatan, serta memperoleh kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.
Wallahu a’lam bishawab.[]
Penulis adalah Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Institut Agama Islam Sumatera Barat
