Oleh: Nurul Jannah*)
Ketika Satu Keluarga Memohon Hujan Datang, dan Keluarga Lain Memohon Ia Berhenti
Barangkali kita baru memahami betapa berharganya keseimbangan ketika dari langit yang sama lahir dua doa yang berlawanan: yang satu memohon hujan datang, yang lain memohon agar ia segera berhenti.
Malam itu, dua perempuan menengadahkan tangan kepada langit yang sama.
Yang pertama berdiri di depan rumah, memandangi tanah yang mengeras dan retak. Hujan telah lama dinanti. Tanaman mulai menguning. Persediaan air menipis. Setiap hari matanya mencari awan, berharap langit membawa kabar baik.
Malam itu ia berdoa,
“Ya Allah… turunkanlah hujan.”
Ratusan kilometer dari sana, perempuan lain juga belum tidur.
Namun ia tidak sedang menunggu hujan. Ia justru berharap langit segera reda.
Air telah menggenang di halaman. Hujan menghantam atap tanpa jeda. Berkali-kali ia membuka pintu, cemas melihat genangan terus mendekati rumah.
Anaknya terlelap di kamar. Sesekali ia menoleh ke arah kamar itu, lalu kembali menatap hujan.
Tangannya terangkat.
“Ya Allah… cukup. Tolong hentikan hujan.”
Dua perempuan. Dua rumah. Satu malam. Satu langit.
Yang satu menunggu air untuk menyambung kehidupan. Yang lain takut air merenggut apa yang dimilikinya.
Dan di antara dua doa itulah, barangkali, tersimpan potret bumi kita hari ini.
Iklim belakangan menghadirkan paradoks. Ketika sebagian wilayah menghadapi kekeringan dan titik panas, wilayah lain justru menerima hujan dengan intensitas tinggi.
Bukan semata tentang ada atau tidak adanya air. Persoalannya adalah ketika air tidak hadir pada waktu, tempat, dan jumlah yang dibutuhkan.
Di satu tempat, tanah menunggu hujan. Di tempat lain, sungai kewalahan menampungnya.
Kita menyebut yang satu kekeringan. Yang lain banjir.
Nama bencananya berbeda, tetapi keduanya membawa peringatan yang sama: keseimbangan sedang terganggu.
Selama bertahun-tahun, kita hidup seolah air tidak akan pernah habis.
Ketika hujan turun, kita ingin secepat mungkin mengalirkannya ke saluran. Sungai yang seharusnya menjadi urat nadi kehidupan justru kerap menerima limbah dan sampah. Tanah yang dahulu mampu menyerap hujan perlahan tertutup beton.
Hutan di hulu berkurang, lalu kita terkejut ketika air datang terlalu cepat ke hilir.
Namun ketika kemarau tiba dan sumur mulai surut, kita bertanya,
“Ke mana air pergi?”
Barangkali air tidak benar-benar pergi. Kitalah yang perlahan menghilangkan ruang tempat ia seharusnya tinggal.
Tanah kehilangan daya serap. Hutan kehilangan kemampuan menyimpan. Sungai kehilangan ruang untuk mengalir. Dan manusia perlahan kehilangan kebijaksanaan untuk hidup dalam batas yang semestinya.
Barangkali kita perlu belajar kembali bahwa air bukan hanya yang mengalir dari keran. Ia adalah mata air yang tetap terjaga, hutan di hulu yang masih berdiri, tanah yang memberi ruang bagi hujan untuk meresap, serta sungai dan rawa yang tetap mampu menampungnya. Menjaga semua itu berarti menjaga air agar tetap menjadi sumber kehidupan.
Pada akhirnya, nasib air juga ditentukan oleh keputusan manusia: apa yang kita tebang, apa yang kita bangun, apa yang kita buang, dan apa yang masih kita pilih untuk dijaga.
Karena itu, menjaga air tidak dimulai ketika sumur telah mengering atau banjir memasuki rumah. Ia dimulai jauh sebelumnya, ketika tetes pertama hujan menyentuh bumi.
Apakah kita memberinya ruang untuk meresap? Atau kita telah menutup hampir seluruh jalan pulangnya?
Malam semakin larut.
Dua perempuan tadi mungkin tidak akan pernah bertemu.
Yang satu masih menunggu hujan. Yang lain masih berharap hujan berhenti. Namun doa mereka bertemu di langit yang sama.
Dan di antara dua doa yang berlawanan itu, barangkali ada satu pertanyaan yang justru kembali kepada kita: Sudahkah kita menjaga keseimbangan yang dipercayakan kepada kita?
Sebab hujan tetaplah rahmat.
Air tetaplah kehidupan.
Yang perlu dipulihkan bukan hanya sungai, hutan, rawa, dan tanah, melainkan juga cara manusia memperlakukan alam yang selama ini menopang kehidupannya.
Kita tidak dapat memerintah hujan kapan harus turun. Kita pun tidak mampu menyuruh langit kapan harus berhenti.
Namun kita dapat memilih apa yang dilakukan ketika hujan tiba: memberi air ruang untuk meresap, menjaga sungai tetap mengalir, melindungi hutan, dan tidak merampas seluruh ruang yang dibutuhkan alam untuk bekerja.
Barangkali suatu hari, perempuan pertama tidak perlu terlalu lama menunggu hujan. Dan perempuan kedua tidak perlu berjaga sepanjang malam karena takut air memasuki rumah
Sebab hujan yang jatuh dari langit yang sama seharusnya menjadi sumber kehidupan, bukan membuat manusia terus hidup di antara dua ketakutan: kekurangan dan kehilangan.
Malam itu, dua tangan masih terangkat. Dua doa masih menuju langit.
Yang satu berbisik merayu, “Turunkanlah hujan….”
Yang lain memohon, “Hentikanlah hujan….”
Dua doa yang bertolak belakang. Namun mungkin keduanya sedang meminta hal yang sama: kehidupan yang kembali seimbang.
Dan sebelum kita bertanya mengapa langit memberi terlalu sedikit di satu tempat dan terlalu banyak di tempat lain, barangkali ada pertanyaan yang lebih jujur untuk kita jawab sendiri: Apa yang telah kita lakukan terhadap bumi, tempat air seharusnya pulang?
Sebab mungkin bukan hujan yang kehilangan arah. Melainkan, kitalah yang perlahan mengubah tanah tempat ia jatuh, menutup ruang tempat ia meresap, dan menghilangkan hutan tempat ia dititipkan.
Maka ketika dua perempuan menengadahkan tangan kepada langit yang sama dengan doa yang berlawanan, jangan hanya mendengar permohonan mereka. Dengarkan pula pesan bumi di antara keduanya.
Jagalah aku, agar hujan tetap menjadi rahmat, bukan yang ditunggu dengan putus asa di satu tempat, lalu ditakuti dengan air mata di tempat lainnya. ❤️
Bogor, 15 September 2026
Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan
