Oleh: Nurul Jannah*)
Ada Nomor yang Tak Pernah Lagi Menjawab
Ponsel itu sudah terlalu penuh.
Pagi itu Rani hanya ingin menghapus beberapa foto, aplikasi, dan kontak yang tidak lagi diperlukan. Berkali-kali layar ponselnya menampilkan peringatan: penyimpanan hampir penuh.
Ia menghapus video lama.
Undangan-undangan yang sudah lewat.
Nomor kurir.
Nomor toko.
Beberapa kontak yang bahkan tak lagi ia ingat pemiliknya.
Sampai jarinya berhenti pada satu nama.
Ibu.
Rani terdiam.
Nomornya masih ada.
Foto profilnya sudah lama hilang. Tidak ada status. Tidak ada tanda kapan terakhir aktif.
Tetapi nama itu tetap tinggal di sana, seolah waktu tidak pernah menyentuhnya.
Ibu.
Hanya satu kata.
Tiga huruf yang selalu membuatnya merasa memiliki tempat pulang.
Dulu Rani mengeluh karena Ibu terlalu sering menelepon.
Pukul enam pagi.
“Ran, sudah bangun?”
“Sudah, Bu.”
“Sudah sarapan?”
“Belum.”
“Jangan kopi terus. Perutmu nanti sakit.”
“Iya, Bu….”
Belum sampai siang, kadang telepon datang lagi.
“Pulang jam berapa?”
“Belum tahu.”
“Kalau malam jangan sendirian.”
“Iya.”
“Payung dibawa? Tadi Ibu lihat berita katanya hujan.”
“Iya, Bu.”
Jawaban Rani hampir selalu pendek.
Mengetik. Sambil berjalan. Sambil melihat jam.
Seolah suara Ibu adalah bagian biasa dari hari-harinya; selalu ada, sehingga tak pernah terpikir bahwa suatu saat suara itu bisa juga hilang.
Pernah, ketika telepon Ibu masuk untuk ketiga kalinya dalam sehari, Rani menatap layar dan menghela napas.
“Ya Allah, Ibu… tadi kan sudah telepon.”
Dibiarkannya ponsel itu berdering sampai berhenti sendiri.
Beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk.
:Ibu cuma mau tanya kamu sudah makan atau belum.
Rani membaca.
Tidak membalas. Nanti saja. Ia sedang sibuk.
Namun, hidup rupanya mempunyai cara yang menyakitkan untuk mengajari manusia arti kata “nanti”.
Suatu malam, telepon Rani berdering.
Bukan dari Ibu.
Dari kakaknya.
“Ran….”
Suara di seberang terdengar berbeda.
“Kamu bisa pulang sekarang?”
Rani langsung berdiri.
“Kenapa?”
Diam.
“Mas?”
“Pulang dulu.”
“Kenapa Ibu?”
Lagi-lagi diam.
Tubuh Rani mendadak dingin.
“Mas… Ibu kenapa?”
Kali ini suara kakaknya pecah.
“Ibu dibawa ke rumah sakit.”
Malam itu jalan menuju rumah sakit terasa panjang sekali, seperti tidak mempunyai ujung.
Lampu merah terlalu lama.
Mobil di depan terlalu lambat.
Jalanan terasa seperti sengaja menahan langkahnya.
Rani terus menelepon.
Ibu.
Tidak dijawab.
Sekali lagi.
Ibu.
Tidak dijawab.
Lagi.
Ibu.
Tetap tidak dijawab.
“Angkat, Bu….”
Tangannya gemetar.
“Sebentar saja. Angkat sebentar saja….”
Telepon terus memanggil.
Rani mulai menangis.
“Ibu… angkat.”
Betapa cepat hidup membalik keadaan.
Dahulu, nama Ibu muncul di layar dan Rani memilih membiarkannya berdering.
Malam itu, Rani rela memberikan apa saja hanya untuk melihat satu tulisan yang dahulu begitu biasa: Ibu memanggil.
Ketika sampai di rumah sakit, kakaknya berdiri di lorong.
Tidak mengatakan apa-apa.
Tatapan matanya sudah menyampaikan kabar yang tak sanggup diucapkan mulut.
Rani berlari.
“Ibu!”
Langkahnya berhenti di depan sebuah tempat tidur.
Perempuan yang selama puluhan tahun memanggil namanya itu kini terbaring diam.
Tidak ada lagi,
“Sudah makan?”
Tidak ada lagi,
“Jangan pulang terlalu malam.”
Tidak ada lagi suara yang mengingatkan membawa payung.
Rani mendekat.
Digenggamnya tangan Ibu.
Masih hangat.
“Ibu….”
Tidak ada jawaban.
Ia menempelkan tangan itu ke pipinya.
“Bu, Rani sudah datang.”
Diam.
“Rani pulang, Bu….”
Tetap diam.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Rani pulang kepada Ibu, tetapi Ibu tidak lagi menyambut kepulangannya.
Barulah ia memahami: rumah yang kehilangan seorang ibu benar-benar terasa hampa.
**
Hari-hari setelah pemakaman terasa ganjil bagi Rani.
Pada minggu pertama, ia masih terbangun pukul enam pagi.
Tangannya refleks mencari ponsel.
Tidak ada panggilan.
Hari ketujuh.
Tidak ada.
Hari keempat puluh.
Tidak ada.
Bulan ketiga.
Tetap tidak ada.
Barulah Rani menyadari: selama ini Ibu adalah orang yang setiap pagi ingin memastikan bahwa anaknya masih baik-baik saja.
**
Suatu sore hujan turun deras.
Rani baru keluar kantor.
Tangannya merogoh tas.
Ada payung.
Tiba-tiba kalimat yang sangat dikenalnya terdengar di kepala.
Payung dibawa?
Rani tersenyum.
Lalu air matanya jatuh.
“Iya, Bu.”
Orang-orang berlalu-lalang.
Tak seorang pun tahu mengapa seorang perempuan berdiri di tengah lobi sambil memeluk payung dan menangis.
“Iya, Bu. Rani bawa.”
Barangkali begitulah rindu bekerja.
Ia tidak selalu datang pada hari ulang tahun atau tanggal kematian.
Kadang ia datang bersama hujan, aroma masakan, lagu lama, atau sebuah payung di dalam tas.
Lalu tanpa izin, membawa pulang suara yang sudah bertahun-tahun tidak kita dengar.
Waktu terus berjalan.
Satu tahun.
Dua tahun.
Tiga tahun.
Rani mengganti ponsel. Data dipindahkan. Kontak ikut berpindah.
Dan nama itu tetap ada.
Ibu.
Riri, sahabatnya pernah bertanya,
“Nomor almarhumah Ibu masih disimpan?”
Rani mengangguk.
“Kenapa enggak dihapus?”
Rani hanya tersenyum.
Bagaimana ia harus menjelaskan bahwa yang tersimpan di sana bukan sekadar nomor telepon belaka?
Bagaimana mungkin menghapus tiga huruf yang pernah menjadi pusat dunianya?
Bagaimana mungkin menekan hapus kontak pada nama yang selama bertahun-tahun menjadi tumpahan cintanya?
Nomor itu memang sudah tidak berguna lagi. Disconnected.
Tetapi bagi Rani, ia masih menjadi alamat bagi rindu.
Pagi ini, tiga tahun setelah Ibu pergi, ponselnya kembali meminta ruang penyimpanan.
Rani membuka daftar kontak.
Satu demi satu ia hapus.
Sampai kembali tiba pada satu nama.
Ibu.
Jarinya berhenti tepat di atas pilihan; hapus Kontak.
Lama.
Layar akhirnya meredup.
Rani tidak jadi menekannya.
Ia justru membuka rekaman percakapan lama.
Pesan-pesan sederhana berjejer tampil di sana.
Sudah makan?
Jangan lupa salat.
Kalau pulang kabari.
Ibu bikin sayur kesukaanmu.
Hati-hati di jalan.
Kalimat-kalimat yang dahulu terasa biasa, kini menjadi barang paling mahal yang dimilikinya.
Rani terus menggulir layar.
Sampai menemukan satu pesan yang membuatnya tercekat.
Pesan yang dikirim setelah ia membiarkan telepon Ibu berdering tanpa dijawab.
Ibu cuma mau dengar suara kamu.
Jarinya berhenti.
Dunia seperti ikut berhenti.
Rani memejamkan mata.
“Maafkan anakmu ini, Ibu….”
Air matanya jatuh.
“Dulu Rani kira kita masih punya banyak waktu.”
Beberapa menit kemudian, Rani melakukan hal yang selama ibu tiada, tidak pernah berani dilakukannya.
Tiba-tiba saja ia menekan ikon telepon.
Memanggil: Ibu.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Kemudian suara operator terdengar.
Nomor yang Anda tuju sudah tidak aktif.
Rani menutup mulutnya.
Tangisnya pecah.
Ia tahu. Tentu ia sangat tahu bila nomor itu sudah tidak aktif.
Tetapi, mengetahui ternyata berbeda rasa dengan mendengarnya langsung.
Ponsel itu didekapnya erat.
“Ibu….”
Suaranya hampir tak terdengar.
“Sekarang Rani yang menelepon.”
Ia mencoba tersenyum di antara air mata.
Lalu seperti anak kecil yang sedang merajuk, ia pun mempertanyakan,
“Kenapa sekarang Ibu yang enggak angkat?”
Kalimat itu menghancurkan seluruh pertahanan yang bertahun-tahun ia bangun.
Hari itu Rani tetap tidak menghapus nomor Ibu.
Ia sangat mengerti bahwa yang sedang dipertahankannya sebenarnya bukan hanya deretan angka.
Melainkan masa ketika dirinya masih mempunyai tempat untuk menjadi seorang anak.
Sebab berapa pun usia kita, selama Ibu masih ada, ada bagian dari diri kita yang tidak pernah menjadi dewasa.
Kita masih boleh pulang.
Masih boleh mengeluh.
Masih boleh berkata lapar.
Masih boleh menelepon hanya untuk bertanya resep.
Masih boleh mendengar kalimat sederhana,
“Pulang saja dulu.”
Lalu ketika Ibu pergi, kita tidak hanya kehilangan seorang perempuan.
Kita kehilangan suara yang bertanya apakah kita sudah makan.
Kita kehilangan orang yang mencemaskan perjalanan kita.
Kita kehilangan doa yang menyebut nama kita bahkan ketika kita sendiri lupa mengingatnya.
Dan kehilangan satu pintu yang dahulu dapat diketuk kapan saja tanpa perlu membuat janji.
Malamnya, Rani membuka rekaman percakapan itu sekali lagi.
Ia kemudian mengetik dengan rasa pilu yang dalam.
Bu, Rani sudah makan.
Rani juga sudah sampai rumah. Jangan khawatir.
Jarinya tiba-tiba berhenti.
Kemudian satu kalimat terakhir ditulisnya dengan sepenuh rasa.
Maaf kalau dulu Rani sering terlambat menjawab telepon Ibu. Sekarang Rani mengerti, dering telpon Ibu ternyata adalah cinta yang sedang memastikan anaknya baik-baik saja.
Tentu saja pesan-pesan manis itu tidak pernah sampai ke Ibu.
Ia meletakkan ponsel di samping bantal dan mematikan lampu.
Malam itu, nomor yang tidak lagi aktif tersebut tidak hanya mengingatkannya pada arti sebuah kehilangan.
Nomor itu juga mengingatkannya bahwa ia pernah dicintai sedemikian dalam dan utuh
Maka, apabila hari ini nama Ibu masih muncul di layar ponselmu, jangan buru-buru berkata: nanti.
Angkatlah.
Meski pertanyaannya sama.
Meski ceritanya sudah pernah kamu dengar.
Meski kamu sedang sibuk.
Dengarkan lagi cerita yang mungkin sudah kesepuluh kali ia ceritakan.
Jawab lagi pertanyaan yang mungkin kemarin baru saja ia tanyakan.
Karena mungkin percakapan itu hanya dua menit.
Tetapi akan ada masa ketika kita bersedia menukar begitu banyak hal hanya untuk mendapatkan dua menit itu kembali.
Dan, sekali lagi, jika hari ini ponselmu berdering dan di layarnya tertulis satu kata: Ibu, angkatlah.
Jangan tunggu nanti.
Jangan menunggu selesai rapat.
Jangan selalu menunggu pekerjaan reda. Sebab pekerjaan akan selalu ada.
Kesibukan akan menemukan penggantinya.
Tetapi tidak semua suara diberi Allah kesempatan untuk tinggal bersama kita selamanya.
Dan suatu hari, ketika nama itu hanya tinggal di daftar kontak, kita akan mengerti bahwa yang dahulu menelepon bukan hanya sebuah nomor.
Yang memanggil adalah orang yang sepanjang hidupnya ingin memastikan kita baik-baik saja.
Yang memanggil adalah doa yang memiliki suara.
Yang memanggil adalah cinta yang tidak pandai meminta balasan.
Yang memanggil adalah rumah.
Dan ketika rumah itu tak lagi bisa menelepon, barulah kita tahu betapa jauh rasanya perjalanan pulang.❤️
Jakarta, 13 September 2026
Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan






