HP Lowbatt Cari Cas, Iman Lowbatt Dibiarkan

Oleh : Ustad  Islami Azmam, S.H*)

Coba perhatikan diri kita. Ketika baterai HP tinggal 10%, bahkan 5%, apa yang kita lakukan?

Kita mulai gelisah. Kita segera mencari charger. Jika tidak ada charger, kita mencari power bank. Jika tidak ada power bank, kita mencari colokan listrik. Bahkan terkadang kita rela meminjam charger milik orang lain.

Mengapa?

Karena kita tahu, kalau baterai habis, HP tidak bisa digunakan. Komunikasi terputus, pekerjaan terganggu, dan berbagai aktivitas menjadi terhambat.

Namun ironisnya, ketika iman mulai lowbatt, kita sering tidak merasa gelisah.

Ketika shalat mulai terlambat, kita menganggap biasa. Ketika tilawah Al-Qur’an mulai jarang, kita tidak merasa kehilangan. Ketika zikir mulai ditinggalkan, hati mulai keras, maksiat mulai dianggap ringan, kita tidak segera mencari “charger” untuk mengisi kembali iman yang melemah.

Baca Juga :  STNK Sempat Disebut Jadi Syarat Beli BBM Subsidi, Ini Keputusan Pertamina

Padahal iman juga memiliki daya. Kadang naik, kadang turun. kadang “Fullbatt”, kadang “lowbatt”.

Jika HP membutuhkan listrik untuk mengisi daya, maka hati membutuhkan ibadah untuk mengisi iman.

Shalat adalah charger iman. Dzikir adalah charger iman. Membaca Al-Qur’an adalah charger iman. Majelis ilmu adalah charger iman. Bergaul dengan orang-orang saleh adalah charger iman.

Semakin jauh seseorang dari sumber-sumber itu, semakin lemah pula imannya.

Ada orang yang setiap malam mengecas HP hingga penuh 100%, tetapi sudah berhari-hari tidak mengecas imannya.

HP selalu diperiksa persentase baterainya. Namun kapan terakhir kali kita memeriksa persentase iman kita?

Baca Juga :  Wali Kota Solok Dukung Penerapan Pertanian Modern

Kalau baterai HP tinggal 2%, kita langsung panik. Tetapi ketika semangat shalat berjamaah tinggal 2%, semangat sedekah tinggal 2%, semangat membaca Al-Qur’an tinggal 2%, kita justru merasa biasa-biasa saja.

Jangan sampai kita lebih perhatian kepada baterai HP daripada baterai hati.

Karena HP yang mati paling jauh hanya membuat kita kehilangan komunikasi dengan manusia. Tetapi iman yang mati dapat memutus hubungan kita dengan Allah.

Allaahu A’lam
Wabarakallah

Penulis Instruktur Pendidikan  Agama Islam di Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Tuah Sakato Provinsi Sumatera Barat*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *