Sebelum Menghakimi

Oleh: Nurul Jannah*)

Kita Tidak Pernah Tahu Pertempuran Batin Apa yang Sedang Dihadapi Orang Lain

Pagi itu lampu lalu lintas baru saja berubah hijau. Mobil di depanku tidak segera bergerak.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Dari belakang, klakson mulai bersahutan.

Tiiin!

Aku ikut kesal.

“Jalan, dong….”

Terdengar teriakan menghardik.

Mobil itu akhirnya bergerak. Pelan sekali. Ketika posisi kami sejajar, aku sempat melihat pengemudinya.

Seorang laki-laki tua. Satu tangannya memegang kemudi. Tangan lainnya berkali-kali mengusap wajah. Ia nampak menangis.

Di kursi sebelahnya tergeletak sebuah map rumah sakit. Entah apa isinya. Aku tidak tahu.

Mendadak tiga detik yang tadi terasa begitu mengganggu, menjadi tidak berarti.

Klakson yang baru saja terdengar seperti tuntutan agar ia segera bergerak, kini terasa terlalu keras bagi orang yang mungkin sedang mengerahkan seluruh tenaganya agar tidak runtuh di balik kemudi.

Aku tidak tahu apa yang baru saja terjadi dalam hidupnya.

Apakah ia baru menerima hasil pemeriksaan dirinya sendiri?

Apakah orang yang dicintainya sedang terbaring di rumah sakit?

Atau mungkin ia baru saja mendengar kabar yang mengubah hidupnya untuk selamanya?

Aku tidak tahu.

Dan, justru karena aku tidak tahu, aku merasa malu telah begitu cepat menghakimi.


Siang harinya, aku makan di sebuah tempat sederhana. Seorang pelayan perempuan salah mengantarkan pesanan.

“Maaf, Bu.”

Ia segera mengambil kembali piring itu. Beberapa menit kemudian, minuman yang datang pun keliru. Seorang pelanggan di meja sebelah mulai meninggikan suara.

“Kerja yang benar, dong! Masa begini saja salah?”

Perempuan itu menunduk.

“Maaf, Pak.”

Hanya itu. Tidak membantah. Apalagi menjelaskan.

Ia membawa kembali minuman itu dengan langkah cepat. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia tetap berusaha tersenyum ketika melayani meja berikutnya.

Belakangan, ketika hendak membayar, aku mendengar percakapannya dengan seorang teman di dekat kasir.

“Anakmu bagaimana?”

“Masih panas. Tadi pagi aku titip sama tetangga. Aku enggak bisa izin lagi.”

Aku terdiam.

Tiba-tiba kesalahan kecil tadi, membuatnya terlihat sama sekali berbeda.

Perempuan yang dianggap tidak becus bekerja itu ternyata sedang membagi pikirannya menjadi dua: separuh berada di tempat kerja, separuh lainnya mungkin tertinggal di rumah; pada dahi kecil yang panas, pada seorang anak yang mungkin berkali-kali bertanya kapan ibunya pulang.

Mungkin setiap kali melihat jam, ia bukan sedang menunggu waktu kerjanya selesai.

Ia sedang menghitung berapa lama lagi sebelum bisa memeluk anaknya. Ia tetap bekerja bukan karena tidak peduli.

Baca Juga :  Udara yang Hilang

Boleh jadi justru karena anak itulah ia tidak punya pilihan untuk berhenti bekerja.


Sore hari, aku mengirim pesan WhatsApp kepada seorang teman.

Centang dua.

Tidak dibalas.

Satu jam.

Dua jam.

Sampai malam.

Dan, ketika kenyataan belum kita ketahui, pikiran sangat pandai menciptakan ceritanya sendiri.

Dia berubah.

Bisa jadi ia sedang marah.

Sekarang dia sudah sibuk.

Pesanku saja tidak dibalas.

Sedikit demi sedikit, prasangka mengambil tempat yang seharusnya diisi oleh satu pertanyaan sederhana: “Apakah dia baik-baik saja?”

Besok paginya, baru datang balasan.

“Maaf baru jawab. Semalam mendampingi Mama di IGD.”

Aku menatap layar lama sekali.

Hanya satu kalimat. Tidak panjang. Tidak dramatis.

Namun cukup untuk membuat seluruh prasangkaku terasa memalukan.

Semalaman aku sibuk memikirkan mengapa pesanku tidak dibalas.

Sementara ia mungkin sedang duduk di lorong rumah sakit, menunggu kabar tentang orang yang dicintainya.

Mungkin ia bahkan tidak sempat memikirkan ponselnya.

Mungkin tangannya sedang menggenggam tangan ibunya.

Mungkin bibirnya sibuk berdoa.

Dan aku?

Sibuk sendirian, merasa diabaikan.

Begitulah kita.

Kita sering melihat satu perilaku, lalu merasa telah mengenal seluruhnya.

Melihat orang terlambat, kita menyebutnya tidak disiplin.

Melihat orang diam, kita menganggapnya sombong.

Melihat teman menjauh, kita merasa tidak lagi dihargai.

Melihat pegawai melakukan kesalahan, kita menganggapnya tidak profesional.

Melihat orang mudah menangis, kita menyebutnya lemah.

Melihat orang tertawa keras, kita mengira hidupnya baik-baik saja.

Padahal yang kita saksikan mungkin hanya lima menit dari kehidupan yang telah ia perjuangkan selama bertahun-tahun.

Kita tidak melihat apa yang terjadi sebelum ia keluar rumah.

Tidak melihat tagihan yang baru diterimanya.

Tidak melihat hasil pemeriksaan dokter yang mungkin disembunyikannya dari keluarga.

Tidak melihat pertengkaran yang baru saja terjadi.

Tidak melihat anak yang sedang sakit.

Tidak melihat orang tua yang mulai kehilangan ingatan.

Tidak melihat berapa lama ia menatap langit-langit kamar tadi malam karena tidak tahu lagi harus bercerita kepada siapa.

Tidak melihat berapa kali ia menghapus air mata sebelum membuka pintu rumah.

Tidak melihat bagaimana ia berdiri di depan cermin pagi tadi, menarik napas panjang, lalu berkata kepada dirinya sendiri, “Aku harus kuat.”

Kita tidak melihat semua itu.

Kita hanya kebetulan bertemu dengannya pada satu halaman, lalu merasa sudah membaca seluruh bukunya.

Kita menyaksikan satu adegan, lalu merasa berhak memberikan vonis atas seluruh kehidupannya.

Mungkin itulah sebabnya dunia hari ini tidak hanya membutuhkan lebih banyak orang pintar.

Baca Juga :  PB Porprov Kebut Data Atlet hingga Kesiapan Venue

Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia berhenti beberapa detik sebelum menilai orang lain.

Sebelum membunyikan klakson panjang, tunggu sebentar.

Sebelum menulis komentar yang melukai, pikirkan sekali lagi.

Sebelum mengatakan,

“Dia memang begitu,”

tanyakan terlebih dahulu dalam hati, “Benarkah aku sudah mengetahui seluruh ceritanya?”

Atau mungkin pertanyaan yang lebih manusiawi, “Apa yang sedang ia perjuangkan hari ini?”

Kita memang tidak harus membenarkan setiap kesalahan.

Tanggung jawab tetap harus ditegakkan.

Kesalahan tetap dapat dikoreksi.

Tetapi ketegasan tidak pernah mensyaratkan hilangnya belas kasih.

Kita dapat menegur tanpa merendahkan.

Kita dapat berbeda tanpa menghina.

Kita dapat mengatakan seseorang salah tanpa menghancurkan harga dirinya.

Sebab ada perbedaan besar antara menilai sebuah tindakan dan menghukum seluruh diri manusia karena satu tindakan.

Hari ini, mungkin kita akan bertemu dengan orang yang menjengkelkan.

Kasir yang lambat.

Pengendara yang ragu-ragu.

Teman yang tidak membalas pesan.

Anak yang tiba-tiba murung.

Pasangan yang lebih banyak diam.

Rekan kerja yang kehilangan konsentrasi.

Atau mungkin orang asing yang hanya berpapasan beberapa menit dengan kita, lalu pergi dan tidak pernah kita temui lagi.

Sebelum marah, sisakan sedikit ruang di hati untuk satu kemungkinan: barangkali ia sedang mengerahkan seluruh kekuatannya agar tidak runtuh di depan kita.

Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan masalahnya.

Dan memang tidak selalu harus.

Kadang dunia menjadi sedikit lebih manusiawi hanya karena ada satu orang yang memilih tidak menambahkan luka pada hari yang sudah terlalu berat.

Maka, sebelum menghakimi,

Tahan satu kalimat.

Turunkan sedikit suara.

Lunakkan tatapan.

Berikan beberapa detik tambahan.

Jangan buru-buru memberi nama pada luka yang tidak pernah kita alami.

Jangan merasa mengetahui seluruh perjalanan hanya karena kebetulan melihat seseorang pada hari terburuknya.

Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang baru saja terjadi dalam kehidupan orang yang berdiri di hadapan kita.

Boleh jadi lelaki tua yang kita klakson sedang pulang membawa kabar yang belum sanggup ia ceritakan kepada keluarganya.

Boleh jadi pelayan yang kita bentak sedang menghitung berapa jam lagi sebelum dapat memeluk anaknya yang demam.

Boleh jadi teman yang kita anggap berubah sedang duduk di depan ruang IGD sambil berdoa agar orang yang dicintainya dapat pulang bersamanya.

Dan boleh jadi, suatu hari nanti,

akulah yang berada di balik kemudi itu.

Akulah yang melakukan kesalahan karena pikiranku sedang tercerai-berai.

Baca Juga :  Kebun Pangan Perempuan Disiapkan untuk Dukung Pemulihan Pascabencana di Padang Panjang

Akulah yang tidak sanggup membalas pesan karena hidup terasa begitu berat untuk dijelaskan.

Pada hari itu, mungkin aku tidak membutuhkan ceramah.

Aku tidak membutuhkan vonis.

Aku tidak membutuhkan orang yang berkata,

“Seharusnya kamu….”

Aku hanya membutuhkan satu orang yang memberiku sedikit ruang untuk bernapas.

Satu orang yang tidak buru-buru menyimpulkan.

Satu orang yang memilih bertanya sebelum menuduh.

Satu orang yang memilih memahami sebelum menghakimi.

Karena pada akhirnya, kita semua sedang berjalan membawa cerita yang tidak seluruhnya terlihat.

Ada yang tertawa sambil menyembunyikan luka.

Ada yang bekerja sambil menahan cemas.

Ada yang terlihat kuat karena tidak mempunyai pilihan selain bertahan.

Ada yang diam bukan karena tidak peduli, melainkan karena sudah terlalu lelah menjelaskan.

Dan ada yang hanya membutuhkan sedikit kebaikan agar mampu melewati hari itu.

Maka jika hari ini kita tidak mampu meringankan beban orang lain, setidaknya jangan menjadi alasan mengapa bebannya bertambah berat.

Sebab kita tidak pernah tahu.

Orang yang hari ini kita hakimi mungkin sedang menjalani hari paling berat dalam hidupnya.

Dan jika suatu hari kehidupan membawa kita ke titik ketika kita sendiri hampir runtuh, semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan manusia yang pernah belajar melakukan hal yang sama:

menahan satu kalimat,

melunakkan satu tatapan,

memberikan sedikit waktu,

dan membiarkan kita tetap memiliki harga diri meski sedang berada pada hari terburuk dalam hidup.

Sebab terkadang, yang menyelamatkan seseorang bukan nasihat panjang.

Bukan pula pertolongan besar.

Melainkan satu sosok manusia yang tidak ikut menambah sakit ketika hidup sedang menyakitinya.

Jadi, sebelum menunjuk kesalahan orang lain, ingatlah:

kita hanya melihat sikapnya. Kita tidak melihat apa yang baru saja menghancurkan hatinya.

Kita hanya mendengar jawabannya.

Kita tidak mendengar percakapan panjang yang sedang berlangsung di dalam kepalanya.

Kita hanya melihat bagaimana ia menjalani hari ini.

Kita tidak tahu seberapa keras ia berjuang agar masih mampu bangun esok pagi.

Maka, sebelum menghakimi, belajarlah memahami.

Karena kita tidak pernah tahu perjuangan apa yang sedang dimenangkan orang lain dalam diam.

Jakarta, 12 September 2026

Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *