Udara yang Hilang

Oleh : Nurul Jannah*)

Ketika Bernapas Tak Lagi Sederhana

Pagi seharusnya dimulai dengan membuka jendela.

Membiarkan cahaya masuk. Menghirup udara pertama. Mendengar suara burung. Menikmati pagi dan menyambut hari dengan napas panjang.

Tetapi di beberapa tempat pagi ini, jendela justru harus ditutup rapat.

Seorang ibu mungkin sedang memasangkan masker pada wajah kecil anaknya sebelum berangkat sekolah. Di tempat lain, seorang ayah memandang langit yang tak lagi biru sambil bertanya dalam hati, apakah hari ini aman untuk bekerja di luar rumah?

Dan seorang anak mungkin belum memahami mengapa ibunya berkata, “Jangan lama-lama di luar, ya.”

Ia hanya tahu matanya perih.

Tenggorokannya tidak nyaman.

Langit berwarna asing.

Padahal ia tidak pernah membakar hutan.

Ia tidak pernah membuka lahan.

Ia bahkan belum cukup dewasa untuk memahami kata krisis lingkungan.

Namun paru-parunya ikut membayar akibatnya.

Itulah bagian paling menyedihkan dari kerusakan lingkungan: yang menanggung akibatnya tidak selalu mereka yang menyebabkan kerusakan.

Hari-hari ini, Indonesia kembali berhadapan dengan kebakaran hutan dan lahan. Asap bergerak tanpa mengenal pagar rumah, batas kebun, batas perusahaan, bahkan batas negara.

Ia masuk melalui celah jendela.

Baca Juga :  Sebelum Bandung Melepas Kami

Menempel pada pakaian.

Mengikuti anak-anak menuju sekolah.

Masuk ke rumah-rumah orang yang bahkan tidak tahu dari mana api bermula.

Dan akhirnya kita kembali belajar satu kenyataan yang sebenarnya sudah lama kita ketahui bahwa alam tidak mengenal istilah “bukan urusan saya”.

Api yang dinyalakan jauh dari rumah kita bisa mengubah udara yang kita hirup.

Hutan yang hilang ratusan kilometer dari tempat kita tinggal, dapat memengaruhi kehidupan orang yang bahkan tidak pernah melihat hutan itu.

Sungai yang kita kotori hari ini mungkin membawa akibat kepada kampung yang namanya pun tidak kita kenal.

Sebab bumi bekerja dalam keterhubungan.

Apa yang kita lakukan pada satu bagian, suatu hari dapat kembali kepada bagian yang lain.

Bisa jadi selama ini kita menganggap udara sebagai hal paling biasa.

Kita tidak pernah memasukkannya ke daftar belanja.

Tidak pernah menghitung berapa liter yang kita hirup setiap hari.

Tidak pernah menyimpannya karena takut kehabisan.

,Kita mendapatkannya gratis sejak tarikan napas pertama ketika lahir.

Karena biasa mendapatkannya tanpa membayar, kita lupa bahwa gratis tidak berarti tidak berharga.

Barulah ketika udara dipenuhi asap, kita mulai mencari masker.

Baca Juga :  Sebelum Bandung Melepas Kami

Membeli air purifier.

Menutup pintu.

Mengurangi aktivitas di luar.

Mencari ruangan yang lebih aman.

Dan tiba-tiba kita sadar, betapa mahalnya satu tarikan napas yang bersih.

Barangkali persoalan lingkungan memang selalu seperti itu.

Kita baru mencari pohon ketika udara terlalu panas.

Mencari sungai ketika sumur mengering.

Mencari hutan ketika banjir datang.

Mencari tanah yang sehat ketika panen gagal.

Dan mencari langit biru setelah asap menutupinya.

Padahal menjaga selalu lebih murah daripada memulihkan.

Mencegah selalu lebih manusiawi daripada menghitung korban.

Dan mencintai bumi seharusnya dilakukan sebelum kehilangan memaksa kita memahami nilainya.

Hari ini kita mungkin berada jauh dari titik api.

Rumah kita mungkin masih aman.

Pagi kita mungkin masih cerah.

Kita masih bisa membuka jendela dan menarik napas panjang tanpa rasa takut.

Jika demikian, jangan menganggapnya biasa.

Itu kemewahan.

Bahkan mungkin salah satu kemewahan terbesar yang diberikan bumi kepada manusia tanpa pernah mengirimkan tagihan.

Maka pagi ini, sebelum berbicara tentang menyelamatkan dunia, mari memulainya dari hal yang kecil.

Jangan membakar sampah.

Jangan membuang puntung rokok sembarangan.

Jangan membiarkan api kecil di lahan kering.

Baca Juga :  Sebelum Bandung Melepas Kami

Kurangi tindakan yang memperberat beban bumi.

Tanam dan rawat pohon yang kita mampu.

Dan ketika melihat kerusakan, jangan selalu berkata,

“Bukan urusan saya.”

Sebab udara yang kita hirup tidak pernah bertanya siapa kita.

Ia hanya bergerak.

Dari hutan menuju kota.

Dari desa menuju rumah.

Dari langit menuju paru-paru.

Kita boleh memiliki rumah masing-masing. Kita boleh tinggal berjauhan.

Tetapi kita bernapas dari langit yang sama.

Jangan menunggu suatu pagi ketika anak-anak bertanya,

“Dulu, langit memang pernah biru?”

lalu kita hanya mampu menjawabnya dengan sebuah foto.

Maka, jagalah bumi sebelum udara bersih hanya menjadi kemewahan yang pernah kita miliki.

Sebab ketika bernapas pun harus diperjuangkan, mungkin saat itulah kita semakin mengerti bahwa yang sedang terbakar bukan hanya hutan.

Yang perlahan hilang adalah hak manusia untuk menghirup udara bersih.

Dan tidak ada kehidupan yang bisa bertahan tanpa napas berikutnya.❤️

Jakarta, 11 September 2026

Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *