Oleh : Nurul Jannah*)
Enam Srikandi, Selembar Kain, dan Cerita yang Tak Selesai di Savoy Homann
Seharusnya, setelah acara luar biasa di Savoy Homann yang begitu cetar membahana, Sabtu, 5 September 2026, kami pulang.
Kaki sudah meminta istirahat.
Badan sudah mengirim sinyal untuk rebahan. Dan usia; baiklah, bagian ini tidak usah dibahas.
Tetapi rupanya para Srikandi NJD punya cara sendiri untuk mengakhiri hari.
Kami tidak pulang. Kami malah nyantri.
Bukan ke pesantren.
Kami melipir nyantri ke Sanggar Canting, milik bu Canting Pujeng, memenuhi sebuah janji yang sudah lama sekali direncanakan: belajar membatik bersama.
Dan percayalah, membuat motif batik ternyata jauh lebih mudah daripada mengumpulkan tujuh perempuan sibuk dalam satu waktu.
Agenda bergeser berkali-kali. Jadwal saling berkejaran. Ada pekerjaan, keluarga, perjalanan, dan berbagai urusan yang tidak bisa ditinggalkan.
Walhasil, dari tujuh Srikandi, enam berhasil hadir.
Satu menghilang dari radar.
Bu Maria.
Boloooos!
Baiklah, Bu Maria. Ketidakhadiran sudah dicatat dalam buku piket Srikandi. Untuk sanksi administratif berupa traktiran, nanti kita musyawarahkan, tanpa hak banding.
Bandung dan Godaan Foto
Perjalanan dari Savoy Homann menuju Sanggar Canting ternyata tidak bisa dilakukan dengan lurus dan khusyuk.
Sebab kami sedang berada di Bandung.
Dan melewati jalan Braga tanpa berhenti untuk berfoto rasanya seperti melewati gorengan panas ketika lapar, lalu hanya diperbolehkan mencium aromanya.
Sulit. Sangat sulit.
Maka berhentilah kami.
Foto.
Jalan sedikit.
Foto lagi.
Lalu singgah sejenak di Gedung Sate.
Foto lagi.
Karena kami memegang satu prinsip penting: umur boleh bertambah, tetapi dokumentasi jangan sampai kalah.
Perjalanan yang seharusnya sederhana akhirnya benar-benar membelah waktu.
Namun bukankah justru perjalanan yang sedikit melenceng sering menghadirkan cerita yang paling lama dikenang?
Ketika Canting Mulai Menguji Iman
Akhirnya sampailah kami di Sanggar Canting.
Di bawah bimbingan Bu Canting, sang suhu, lima Srikandi mendadak berubah menjadi santri batik.
Kain dibentangkan.
Pensil mulai menari.
Motif digambar.
Canting digenggam.
Malam dipanaskan.
Kami memperhatikan tangan Bu Canting Pujeng guru kami bergerak begitu tenang. Si Canting seperti patuh. Malam mengalir cantik mengikuti garis.
Kelihatannya mudah.
Sampai canting itu pindah ke tangan kami.
Nah.
Di sinilah ujian sesungguhnya dimulai.
Tangan ingin membuat garis ke kanan, malam rupanya punya pilihan hidup sendiri ke kiri.
Ingin tipis, jadinya tebal.
Ingin melengkung lembut, malah meluber penuh percaya diri.
Ketika ditanya,
“Ini motif apa?”
Jawab saja dengan tenang:
“Kontemporer.”
Kalau agak berantakan?
“Abstrak.”
Kalau semakin tidak jelas?
“Eksplorasi artistik.”
Selesai.
Ternyata dalam seni, kita selalu punya jalan untuk mempertahankan harga diri.
Satu yang Pantang Menyerah
Di antara segala tawa itu, ada satu Srikandi yang layak mendapatkan gelar pejuang canting hari itu: Jeng Shintalya.
Ketika sebagian sudah mulai menghitung waktu pulang, Jeng Syinta masih khusyuk melanjutkan perjuangan.
Targetnya tidak main-main: dua meter batik harus ditaklukkan!
Canting boleh panas.
Pinggang boleh mulai bernegosiasi.
Mata boleh lelah.
Tetapi target tetap target.
Semangat, Jeng!
Kalau dua meter itu akhirnya selesai, sepertinya bukan hanya kain batik yang perlu dipajang.
Perjuangannya juga. 😄
Makan, Tertawa, dan Forum Bebas Merdeka
Di sela-sela membatik, kami makan bersama.
Dan seperti biasa, makanan mempunyai kemampuan luar biasa untuk mengembalikan energi sekaligus menaikkan volume percakapan.
Cerita bersambung.
Tawa pecah.
Saling ledek mulai berjalan.
Tidak ada rundown yang membingkai
Tidak ada batas waktu bicara.
Nah, justru forum seperti inilah yang paling sulit dikendalikan.
Setelah itu, jalan kami kembali berpisah.
Bu Munasri dan Bu Minarni kembali berkumpul dengan keluarga yang kebetulan menginap di Bandung.
Bu Shintalya masih melanjutkan perjuangan bersama canting dan target dua meter kainnya.
Sementara Bu Fetty dan aku memutuskan pulang by Whoose malam itu juga.
Dan tentu saja, tidak sah perjalanan para Srikandi kalau pulangnya tidak dibumbui sedikit drama.
Drama kecil itu akhirnya menjadi bonus perjalanan kami.
Detailnya?
Biarlah menjadi rahasia negara Kesultanan Srikandi NJD.
Yang penting kami akhirnya pulang dengan selamat, masih bisa tertawa, masih bisa saling meledek, dan yang paling penting, mendapat stok cerita baru untuk dibicarakan pada pertemuan berikutnya.
Ternyata Kami Tidak Hanya Belajar Membatik
Di balik seluruh kelucuan hari itu, ada satu bagian yang diam-diam tinggal lebih lama di hati.
Saat canting menyentuh kain, aku baru memahami: membatik ternyata sangat mirip dengan menjalani kehidupan.
Kita boleh mempunyai pola.
Boleh menggambar rencana seindah mungkin.
Tetapi ketika canting mulai berjalan, tidak semua garis akan mengikuti keinginan kita.
Ada yang melebar.
Ada yang melenceng.
Ada yang menetes di tempat yang tidak direncanakan.
Ada yang membuat kita ingin mengulang dari awal.
Tetapi seorang pembatik tidak serta-merta membuang kainnya.
Ia belajar menerima garis yang telanjur ada, lalu meneruskannya menjadi bagian dari keindahan.
Bukankah hidup juga demikian?
Tidak semua perjalanan berjalan sesuai gambar yang pernah kita buat.
Ada rencana yang berubah.
Ada pertemuan yang tertunda.
Ada orang yang datang.
Ada yang harus pergi.
Ada tawa.
Ada drama.
Ada garis-garis kehidupan yang sama sekali tidak pernah kita rencanakan.
Dan, tugas kita bukan membuat semuanya sempurna.
Tugas kita adalah terus menyambung garisnya dengan sebaik-baiknya.
Sampai suatu hari, ketika kita melihatnya dari kejauhan, kita baru memahami: rupanya bagian yang dahulu kita anggap salah pun ikut membentuk motif kehidupan kita.
Yang Sesungguhnya Sedang Kami Rawat
Sore itu kami datang untuk belajar membatik.
Tetapi rasanya, yang sesungguhnya sedang kami rawat bukan hanya kain. Melainkan persahabatan.
Iya, kami sedang merawat persahabatan.
Semakin bertambah usia, kita semakin memahami bahwa bertemu sahabat ternyata bukan lagi perkara: “Yuk, ketemu.”
Lalu semua datang.
Ada pekerjaan.
Ada keluarga.
Ada tanggung jawab.
Ada jarak.
Ada kehidupan masing-masing yang harus dijalani.
Itulah mengapa mengumpulkan tujuh orang saja bisa menjadi proyek jangka panjang.
Dan justru karena itulah, kehadiran menjadi semakin berharga.
Dari tujuh, hanya enam yang bisa datang.
Tidak sempurna.
Tetapi tidak apa-apa.
Sebab enam orang yang benar-benar menyediakan waktu untuk hadir jauh lebih indah daripada tujuh nama yang terus menunggu hari sempurna untuk bertemu.
Kami menggambar.
Membatik.
Makan.
Tertawa.
Berfoto.
Saling meledek.
Lalu kembali ke kehidupan masing-masing.
Suatu hari nanti, mungkin kain batik itu tersimpan di lemari.
Foto-foto Braga dan Gedung Sate tenggelam di antara ribuan gambar di telepon genggam.
Guyonan sore itu mungkin tidak lagi kami ingat persis.
Namun ada satu hal yang tidak ikut hilang: ingatan bahwa di tengah kehidupan yang begitu sibuk, kami pernah sengaja menyediakan waktu untuk bisa saling bertemu satu sama lain.
Aku memahami betul bahwa persahabatan pun seperti membatik.
Ia tidak selesai dalam satu goresan.
Ada garis yang harus terus disambung.
Ada warna yang harus dijaga.
Ada kesalahan yang harus dimaafkan.
Ada ketidaksempurnaan yang harus diterima.
Dan yang paling penting, ada waktu yang harus sengaja diberikan.
Sampai akhirnya, dari garis-garis kecil yang kita buat sepanjang perjalanan, terbentuklah satu motif indah bernama: kenangan.
Terima kasih, Bu Canting, sang suhu, yang telah sabar menghadapi lima santri dadakan beserta segala bakat terpendam dan motif “kontemporernya”.
Terima kasih, para Srikandi NJD.
Dari gemerlap Savoy Homann, mencuri waktu di Braga dan Gedung Sate, hingga duduk bersama menghadapi selembar kain, hari itu kami kembali diingatkan: bahagia ternyata tidak selalu membutuhkan perjalanan yang jauh atau peristiwa yang besar.
Kadang ia hanya membutuhkan beberapa sahabat.
Selembar kain.
Canting yang panas.
Makanan di tengah meja.
Tawa yang pecah tak beraturan.
Dan waktu yang sengaja kita sisihkan untuk berkata: “Hari ini, aku memilih hadir untuk kalian.”
Sebab hidup terus berjalan.
Kesibukan tidak akan pernah benar-benar selesai.
Dan kita tidak pernah tahu berapa banyak kesempatan lagi yang Allah berikan untuk duduk bersama dengan orang-orang yang kita sayangi.
Maka kalau hari ini masih bisa bertemu, bertemulah.
Kalau masih bisa tertawa, tertawalah.
Kalau masih bisa membuat kenangan, buatlah.
Jangan menunggu semua jadwal kosong untuk bahagia. Bisa-bisa kita keburu tua.
Dan untuk Bu Maria,
Tenang.
Satu tempat tetap kami sisakan untuk pertemuan berikutnya.
Tetapi perkara traktiran?
Itu sudah menjadi keputusan inkracht. Tidak ada banding dan kasasi❤️.
Jakarta, 6 September 2026
Notes: bu Maria thanks a lot gift batik istimewanya buat kami berenam ya💞
Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan
