Oleh: Hendri Parjiga*)
PADANG — Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-43, 9 September 2026, seharusnya menjadi momentum untuk bertanya lebih keras: ke mana arah olahraga Sumatera Barat?
Pertanyaan ini bukan tanpa alasan.
Ketika slogan tentang masyarakat aktif dan bugar digaungkan, olahraga prestasi Sumbar justru masih dibayangi persoalan klasik: kepastian kompetisi dan keberlanjutan pembinaan.
Porprov Sumbar telah vakum sekitar delapan tahun.
Rentang waktu sepanjang itu tidak boleh dianggap sebagai angka biasa. Bagi birokrasi, delapan tahun mungkin hanya deretan periode anggaran dan pergantian program. Bagi atlet, delapan tahun bisa berarti hilangnya masa emas.
Di sinilah Haornas 2026 harus berbicara lebih keras.
Atlet tidak punya waktu untuk menunggu tanpa kepastian.
Delapan Tahun Bukan Waktu yang Pendek
Ada generasi yang tumbuh selama Porprov tidak berjalan.
Anak yang delapan tahun lalu masih berada di bangku sekolah dasar kini mungkin sudah menjadi atlet remaja.
Sebagian menemukan jalannya sendiri. Sebagian lainnya mungkin meninggalkan olahraga karena tidak melihat kompetisi sebagai tujuan yang jelas.
Inilah biaya yang tidak pernah tercatat dalam laporan anggaran.
Tidak ada angka rupiah untuk menghitung berapa talenta yang hilang karena kompetisi tidak berjalan. Tidak ada tabel yang bisa menunjukkan berapa banyak pelatih kehilangan kesempatan menguji anak didiknya. Tidak ada laporan yang mampu menghitung berapa banyak atlet potensial yang akhirnya memilih jalan lain.
Karena itu, persoalan Porprov tidak boleh dipandang sebatas persoalan kalender pertandingan.
Ini menyangkut masa depan atlet.
Jangan Lagi Menunda dengan Alasan yang Berulang
Sumbar tidak kekurangan rapat, gagasan, rencana maupun target.
Yang dibutuhkan sekarang adalah keputusan yang konsisten dan pelaksanaan yang pasti.
Penjadwalan Porprov yang terus berubah hanya akan menambah ketidakpastian di tengah atlet dan cabang olahraga.
Olahraga tidak bisa dikelola seperti agenda yang dapat digeser sesuka waktu.
Atlet membutuhkan jadwal latihan. Pelatih membutuhkan target. Pengurus cabang olahraga membutuhkan kalender kompetisi. Kabupaten dan kota membutuhkan kepastian untuk menyiapkan kontingen.
Jika jadwal kembali berubah, yang harus dipikirkan bukan hanya soal kesiapan panitia atau teknis penyelenggaraan.
Pertanyaan paling mendasar adalah: bagaimana dengan atlet yang sudah mempersiapkan diri?
Mereka telah berlatih. Mereka telah mengorbankan waktu. Mereka telah menjaga kondisi. Sebagian bahkan mungkin menata pendidikan dan pekerjaan dengan mempertimbangkan agenda olahraga.
Jangan sampai mereka kembali diminta bersabar.
Kesabaran atlet juga memiliki batas.
Porprov Jangan Dijadikan Sekadar Panggung Seremonial
Ketika Porprov akhirnya terlaksana, pekerjaan olahraga Sumbar belum selesai. Justru sebaliknya.
Porprov harus menjadi alat untuk menemukan dan menyaring atlet potensial. Prestasi mereka harus dicatat dan dipantau. Atlet yang memiliki prospek nasional harus mendapatkan program lanjutan.
Jangan sampai seorang atlet menjadi juara Porprov hari ini, kemudian namanya hilang dari radar pembinaan beberapa bulan kemudian. Pola seperti itu harus dihentikan.
Kalau Porprov hanya menghasilkan daftar juara, perolehan medali dan seremoni penutupan, maka kita belum memanfaatkan momentum tersebut secara maksimal.
Porprov harus menghasilkan database atlet, peta kekuatan cabang olahraga, evaluasi pelatih dan arah pembinaan berikutnya.
Dengan sistem seperti itu, uang yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan tidak berhenti menjadi biaya pertandingan. Ia berubah menjadi investasi pembinaan.
Jangan Bicara PON Jika Fondasi di Daerah Rapuh
Kita sering berbicara tentang target PON.
Kita ingin Sumbar memperbaiki prestasi. Kita ingin lebih banyak atlet Sumbar masuk pelatnas. Kita ingin medali bertambah.
Semua itu sah.
Tetapi target besar membutuhkan fondasi yang kuat.
Bagaimana mungkin mengejar prestasi PON jika kompetisi di tingkat provinsi saja tidak memiliki kepastian? Bagaimana menemukan atlet potensial jika panggung kompetisi tidak berjalan teratur?
PON bukan tempat untuk mencari atlet.
PON adalah tempat mempertontonkan hasil pembinaan yang sudah dilakukan jauh sebelumnya.
Karena itu, pembinaan menuju PON 2028 dan PON-PON berikutnya harus dimulai dari sekarang. Bahkan pembinaan untuk generasi setelah itu harus sudah dipikirkan.
Jangan memakai pola lama: atlet dicari ketika PON sudah dekat, kemudian digenjot dalam waktu singkat.
Prestasi tidak lahir dari kepanikan. Prestasi lahir dari proses yang panjang.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Ini bukan semata-mata pekerjaan KONI.
Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab kebijakan dan dukungan anggaran. KONI memiliki tugas pembinaan prestasi. Pengurus cabang olahraga memiliki tanggung jawab teknis. Kabupaten dan kota menjadi bagian penting dari mata rantai pembinaan.
Sekolah dan klub juga memiliki ruang yang tidak kalah besar dalam melahirkan atlet.
Karena itu, tidak boleh ada sikap saling menunggu.
Pemprov menunggu kesiapan KONI. KONI menunggu cabang olahraga. Cabang olahraga menunggu anggaran. Daerah menunggu jadwal. Atlet menunggu semuanya.
Kalau semua menunggu, olahraga tidak akan bergerak.
Harus ada satu pihak yang mengambil kendali koordinasi dan memastikan setiap tahapan berjalan.
Haornas Harus Mengubah Cara Berpikir
Tema “Menuju Masyarakat Aktif dan Bugar!” jangan berhenti menjadi kalimat penghias spanduk.
Untuk olahraga prestasi, pesan itu harus diterjemahkan menjadi ekosistem yang aktif sepanjang tahun.
Lapangan hidup. Klub hidup. Kompetisi hidup. Pembinaan usia dini hidup. Atlet terus berlatih dan bertanding.
Itulah olahraga yang sehat.
Bukan olahraga yang ramai hanya ketika Porprov digelar atau ketika PON sudah mendekat.
Haornas 2026 seharusnya menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan olahraga Sumbar.
Bukan lagi waktunya memperdebatkan siapa yang paling berhak mendapatkan pujian.
Yang dibutuhkan adalah siapa yang bersedia memastikan sistem berjalan.
Atlet Jangan Kembali Menjadi Korban Ketidakpastian
Delapan tahun sudah cukup.
Sumbar tidak boleh kehilangan satu generasi lagi hanya karena kompetisi dan pembinaan tidak memiliki kesinambungan.
Porprov harus diselenggarakan dengan kepastian. Namun lebih dari itu, harus ada program yang jelas setelah Porprov berakhir.
Atlet terbaik jangan dibiarkan kembali ke titik nol.
Pelatih jangan kehilangan arah.
Cabang olahraga jangan kembali menunggu.
Dan masyarakat jangan hanya dilibatkan ketika seremoni berlangsung.
Jika Sumbar ingin berbicara tentang olahraga berprestasi, maka keberanian pertama yang harus dimiliki adalah berani memastikan prosesnya berjalan.
Haornas bukan sekadar hari untuk mengucapkan selamat.
Haornas adalah kesempatan untuk melihat apakah kerja olahraga kita sudah benar-benar bergerak.
Setelah delapan tahun Porprov vakum, jawabannya tidak boleh lagi berupa rencana yang berubah-ubah.
Atlet sudah terlalu lama menunggu. Sekarang waktunya sistem yang bekerja.
Porprov harus berjalan. Pembinaan harus berlanjut. Kompetisi harus hidup. Dan atlet Sumbar harus memiliki kepastian bahwa kerja keras mereka tidak akan kembali berhadapan dengan penundaan.
Selamat Haornas ke-43.
Semoga tahun ini bukan hanya menjadi peringatan tentang olahraga, tetapi menjadi titik balik bagi olahraga Sumatera Barat. []
Penulis adalah Wartawan Utama, Pemimpin Redaksi FokusSumbar.Com, FokusRiau.Com, dan Kabid Humas KONI Sumbar.
