Bencana Ekologis di Kanvas Maestro Hendra Buana

Catatan : Yurnaldi*)

Ketika Langit Memerah dan Alam Mulai bergerak.
Ada pula lukisan yang justru baru mulai berbicara ketika kenyataan datang menghampirinya.

Rajawali Sendiri di Lembah Sunyi, karya terbaru maestro Hendra Buana, bertanggal 20 September 2026, terasa berada di wilayah kedua itu.

Acrylic on canvas, 60 × 80 sentimeter. Di atas kanvas, Hendra menghadirkan sebuah lanskap yang tidak lazim disebut indah. Alam hadir dengan warna-warna muram. Pepohonan seperti menebal menjadi bayangan. Air mengalir di antara bebatuan. Burung-burung bertengger. Dan di kejauhan, sebuah matahari merah menggantung di langit yang pucat.

Tetapi yang paling menyita perhatian adalah rajawali yang sendirian.
Ia tidak sedang menukik.
Tidak sedang mengepakkan sayap dengan gagah.
Tidak pula sedang menguasai angkasa.
Ia hanya diam.
Sendiri.

Di sinilah judul karya Hendra Buana menjadi kunci pembacaan.
Rajawali adalah simbol kebebasan, kekuatan dan keluasan pandang.

Namun kali ini ia kehilangan langitnya. Ia berada di sebuah lembah yang sunyi, sementara dunia di sekelilingnya seperti kehilangan warna.

Bukankah ini gambaran yang terasa sangat dekat dengan Indonesia hari ini?

Langit memutih. Matahari tampak merah. Jarak pandang menyusut. Udara yang seharusnya menjadi milik bersama berubah menjadi sesuatu yang harus diwaspadai.

Karhutla memang bukan semata-mata persoalan cuaca. BMKG mencatat kondisi kering yang diperkuat El Niño sangat kuat meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan serta meluasnya kabut asap.

Baca Juga :  Obituari: Sjamsul Kahar, Senior yang Menjaga Api Pers Aceh

Di sejumlah daerah, dampaknya sudah masuk ke kehidupan sehari-hari. Sekolah bahkan harus kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh akibat kabut asap.

Di Padang, pelaksanaan car free day pada 20 September juga ditiadakan karena kualitas udara belum sehat.

Tetapi Hendra tidak melukis statistik.
Ia melukis suasana batin sebuah alam.
Itulah yang membuat karya ini menarik.

Matahari yang tidak lagi memberi harapan
Dalam tradisi visual, matahari lazimnya membawa terang.
Tetapi matahari Hendra Buana justru berwarna merah.

Ia seperti bola api yang menggantung di balik kabut.

Merah yang biasanya kita baca sebagai kehidupan, keberanian, atau energi, di sini dapat berubah menjadi tanda bahaya.

Matahari masih ada, tetapi cahayanya tidak lagi sampai kepada kita sebagaimana mestinya.
Langit masih ada, tetapi warnanya hilang.
Hutan masih ada, tetapi kesunyian di dalamnya terasa berbeda.
Air masih mengalir, tetapi alam di sekitarnya seperti sedang menahan napas.

Di sinilah lukisan berubah menjadi peringatan ekologis.

Bukan poster kampanye lingkungan.
Bukan ilustrasi berita.
Melainkan semacam alarm yang dibunyikan melalui bahasa seni.

Rajawali yang kehilangan langit

Ada ironi besar dalam karya ini.
Rajawali adalah penguasa langit.
Tetapi bagaimana jika langit itu sendiri menjadi tidak sehat?
Ke mana rajawali terbang?

Pertanyaan itu membawa kita lebih jauh dari sekadar burung dalam lukisan.
Manusia juga selama berabad-abad merasa dirinya penguasa alam. Hutan ditebang, tanah dibuka, gambut dikeringkan, lahan dibakar, sungai diperlakukan sebagai saluran pembuangan.

Baca Juga :  Wakil Walikota Mulyadi Buka Festival Literasi Budaya 2026

Kemudian ketika asap memenuhi udara, kita mencari siapa yang harus disalahkan.

Padahal alam tidak pernah benar-benar diam.
Ia mencatat.
Ia mengembalikan.
Kadang dalam bentuk banjir.
Kadang kekeringan.
Kadang kebakaran.
Kadang udara yang membuat manusia sendiri kesulitan bernapas.

Karena itu, “lembah sunyi” Hendra Buana dapat dibaca sebagai metafora tentang alam yang mulai kehilangan suara.
Dan justru ketika alam kehilangan suara, manusia seharusnya semakin mendengarkan.

Seni tidak memadamkan api, tetapi dapat menyalakan kesadaran
Di sinilah pentingnya seorang maestro.

Seniman tidak harus menjadi pejabat lingkungan untuk berbicara tentang lingkungan.
Ia cukup menjadi seniman yang peka terhadap zamannya.

Hendra Buana tidak sedang memberi kita laporan tentang jumlah titik panas. Ia memberikan sesuatu yang tidak dapat diberikan tabel statistik:
rasa.

Kita melihat seekor rajawali.
Kita melihat matahari merah.
Kita melihat lembah yang muram.
Lalu perlahan kita bertanya kepada diri sendiri:
Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada rumah kita?

Itulah fungsi penting seni pada zaman krisis ekologis.

Ketika angka sudah terlalu banyak, seni mengembalikan persoalan kepada perasaan manusia.
Ketika berita datang silih berganti, lukisan memberi kita kesempatan untuk berhenti.
Melihat.
Merenung.
Dan mungkin merasa bersalah.

Sebuah lukisan yang datang tepat waktu

Menariknya, Rajawali Sendiri di Lembah Sunyi selesai pada 20 September 2026—tepat ketika Indonesia sedang menghadapi episode karhutla dan kabut asap yang serius.

Baca Juga :  Ketika Warga Sikilang Lagi Mencari Lokan, Tiba-tiba Diserang Buaya

Karena itu, saya tidak akan buru-buru menyebut Hendra sedang melukis “kabut asap”.

Lebih menarik mengatakan bahwa kenyataan hari ini telah membuka pintu tafsir baru terhadap lukisan itu.
Seni yang baik memang tidak selalu menjelaskan zamannya.

Kadang ia justru mendahului kesadaran kita tentang zaman.
Dan ketika kenyataan menyusul, tiba-tiba kita sadar: lukisan itu ternyata sedang berbicara tentang kita.

Rajawali itu mungkin bukan sekadar rajawali.
Lembah itu mungkin bukan sekadar lembah.
Matahari merah itu mungkin bukan sekadar matahari.

Semuanya bisa menjadi cermin.
Cermin bagi sebuah negeri yang memiliki hutan luas, sungai panjang, gambut yang menyimpan kehidupan, tetapi berulang kali berhadapan dengan kebakaran dan asap.

Dan akhirnya, pertanyaan terbesar lukisan ini mungkin bukan:
“Apa yang terjadi pada rajawali?”

Melainkan: “Apa yang akan terjadi kepada kita apabila suatu hari nanti rajawali benar-benar tidak memiliki langit untuk terbang?”

Di titik itulah karya Hendra Buana berhenti menjadi sekadar lukisan.
Ia menjadi kesaksian zaman.

Dan mungkin, lebih dari itu: sebuah teguran yang disampaikan dengan cara paling sunyi—melalui seekor rajawali yang sendirian.

Yurnaldi adalah Wartawan Utama, Pelukis, dan Sastrawan*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *