Puisi Cinta untuk Bumi
Oleh : Nurul Jannah*)
Bumi tak pernah bertanya
siapa yang pantas menghirup udaranya.
Ia memberi.
Air untuk dahaga,
tanah untuk berpijak,
pohon untuk berteduh,
dan kehidupan untuk kita lanjutkan.
Ironisnya,
kita hanya pandai menghitung
berapa banyak yang bisa diambil,
tetapi sering lupa menghitung
berapa banyak yang harus dikembalikan.
Suatu hari,
anak-anak akan bertanya,
“Dulu sungai benar-benar jernih?”
“Dulu hutan masih luas?”
“Dulu udara masih bersih?”
Kita mengangguk.
Lalu mereka bertanya:
“Kalau begitu,
mengapa Bumi tidak dijaga dengan baik?”
Dan,
itulah pertanyaan
yang paling sulit kita jawab.
Mencintai bumi
tidak selalu membutuhkan
tindakan besar.
Tutup satu keran.
Kurangi satu plastik.
Habiskan makanan.
Pungut satu sampah.
Tanam satu pohon.
Kecil?
Laut pun bermula
dari tetes-tetes air.
Jangan menunggu menjadi aktivis
untuk peduli.
Jangan menunggu menjadi pejabat
untuk bergerak.
Jadilah perubahan
dari tempat kaki kita berpijak.
Sebab bumi tidak membutuhkan
seribu janji cinta.
Bumi membutuhkan tangan
yang benar-benar bekerja.
Dan kelak,
setelah kita pergi,
biarkan jejak kita berkata:
Aku pernah hidup di bumi ini.
Aku pernah mengambil darinya.
Tetapi aku tidak lupa
mengembalikan cinta kepadanya.
Sebab cinta paling indah
bukan tentang memiliki.
Cinta adalah memastikan
yang kita cintai tetap hidup,
bahkan setelah kita pergi.
Bogor, 2 September 2026
Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan
