Jangan Lepaskan

Oleh: Nurul Jannah Alhasymy*)

(Episode 1)

Ketika Tangan Ayah Mulai Gemetar

Anakku sayang,

Suatu hari nanti, Ayah akan menjadi tua.

Rambut yang dahulu hitam pekat akan memutih. Punggung yang dahulu kokoh perkasa menggendongmu akan membungkuk. Langkah yang dahulu kau kejar-kejar akan melambat.

Dan tangan yang dahulu demikian kuat dan erat menggenggam tangan kecilmu, suatu hari akan gemetar hanya untuk memegang sebuah sendok.

Jika hari itu datang, jangan kehilangan kesabaran.

Berilah Ayah waktu.

Sebab usia perlahan telah mengambil kemampuan yang dahulu Ayah gunakan untuk menjagamu.

Jika makanan jatuh ke baju Ayah, jangan membentak.

Jangan menatap Ayah seolah ia telah menjadi beban.

Ingatlah ketika bubur belepotan di pipimu, makanan tumpah, dan kau menolak membuka mulut. Ayah tetap membujuk dan membersihkan pipimu dengan penuh kasih sayang.

Bukan karena Ayah tidak lelah. Cintanya selalu lebih besar daripada lelahnya.

Kelak, ketika Ayah kesulitan mengenakan pakaian, bantulah perlahan.

Jangan berkata,

“Ayah, begitu saja kok tidak bisa?”

Dahulu kau pun tidak bisa.

Ayahlah yang memakaikan bajumu, mengancingkannya, merapikan kerahmu, lalu tersenyum bangga melihatmu tumbuh besar.

Anakku,

Jika Ayah mengulang cerita yang sama, jangan memotongnya,

“Ayah sudah cerita berkali-kali.”

Dahulu, kau juga meminta cerita yang sama, berulang-ulang.

“Lagi, Yah… lagi…”

Baca Juga :  Ketua KONI Padang Erianto Optimis Cabor Bola Tangan Mampu Penuhi Target Rebut Tujuh Medali Emas

Dan Ayah mengulangnya dengan sabar.

Lagi. Dan lagi.

Bukan karena ceritanya istimewa. Senyummulah yang membuat Ayah tak pernah keberatan mengulangnya.

Maka ketika cerita Ayah mulai berputar pada kenangan yang sama, dengarkanlah.

Boleh jadi, itulah satu-satunya jalan yang masih Ayah ingat untuk pulang ke masa ketika kau masih kecil.

Jika Ayah terdiam karena lupa apa yang hendak dikatakan, jangan buru-buru menyelesaikan kalimatnya.

Tunggulah. Tatap wajah Ayah.

Ayah tidak sedang mencari jawaban. Ia hanya ingin tahu bahwa anaknya masih punya waktu untuk mendengarkan.

Jika Ayah kebingungan menggunakan telepon genggam atau teknologi yang begitu mudah bagimu, jangan menertawakannya.

Beritahu Ayah perlahan caranya.

Dahulu Ayah dengan sabar mengajarimu memegang sendok, mengikat tali sepatu, mengendarai sepeda, menyeberang jalan, bahkan bangkit ketika lutut kecilmu berdarah karena terjatuh.

Jadi ketika Ayah bertanya,

“Yang ini ditekan yang mana, Nak?”

Jawablah juga dengan sabar.

Jangan membuat Ayah merasa tak berguna hanya karena dunia bergerak lebih cepat daripada langkah tuanya.

Anakku sayang,

Akan tiba hari ketika tangga terasa tinggi dan jalan yang dahulu dekat menjadi jauh.

Kaki yang bertahun-tahun berjalan mencari nafkah untukmu akhirnya hanya sanggup melangkah perlahan.

Ketika itu terjadi, jangan tinggalkan Ayah hanya karena kakimu masih kuat.

Ulurkan tanganmu. Lihat baik-baik tangan tua itu.

Baca Juga :  Porprov XVI Sumbar Dibuka, Erianto Kawal 1.132 Atlet Tampil Maksimal untuk Pertahankan Juara Umum

Tangan itulah yang dahulu menangkapmu ketika terhuyung, mengangkatmu ketika jatuh, lalu menunggumu mencoba berjalan lagi.

Tak sekali pun Ayah berkata,

“Cepatlah, Ayah lelah menunggumu.”

Maka ketika langkah Ayah terasa lambat untuk duniamu, tolong, tunggulah.

Genggam tangannya.

Sebab waktu sedang menukar peran. Dahulu Ayah menggenggam tanganmu agar kau tidak jatuh.

Kelak, tanganmulah yang menjaga Ayah agar tidak takut melangkah.

Dan ketika hari itu datang, jangan melihat Ayah sebagai beban.

Lihat wajah tuanya.

Di balik keriput itu pernah ada lelaki yang menyembunyikan lelah agar anaknya merasa aman.

Di balik tubuh rapuh itu pernah ada bahu tempatmu tertidur.

Di balik langkah goyah itu pernah ada kaki yang bergegas mendengar tangismu.

Dan ketika ingatan Ayah mulai memudar, ada satu nama yang akan diperjuangkannya untuk tetap tinggal, yaitu namamu.

Usia boleh mengambil kekuatannya.

Memperlambat langkahnya.

Mengaburkan pandangannya.

Mengambil sebagian ingatannya.

Tetapi cinta seorang ayah tidak tinggal di kepala saja. Ia telah berakar kuat di dalam hati.

Wahai, Anakku…

Jika tangan Ayah gemetar, jangan lepaskan.

Jika langkahnya melambat, jangan tinggalkan.

Jika ceritanya berulang, dengarkan.

Jika pertanyaannya sama, jawablah sekali lagi.

Dan jika Ayah hanya ingin duduk di dekatmu, jangan selalu berkata, “Aku sibuk.”

Baca Juga :  Sulit Tembus Lapangan Kerja Formal, Ojol Jadi Pilihan 73,8 Persen Pengemudi

Sebab suatu hari, ketika kesibukanmu selesai.

Kau punya waktu. Kau pulang. Kau duduk.

Tetapi kursi Ayah telah kosong.

Tak ada lagi cerita yang berulang. Tak ada lagi pertanyaan yang sama. Tak ada lagi suara yang memanggil namamu.

Saat itulah kau akan mengerti; yang dahulu terasa biasa ternyata adalah hal yang paling ingin kau ulang.

Kau bahkan rela mendengar cerita yang sama seribu kali. Menjawab pertanyaan yang sama seribu kali. Menggenggam tangan gemetar itu lebih lama. Asal diberi satu kesempatan untuk berkata, “Ayah… ceritakan lagi. Aku masih ingin mendengarnya.”

Tetapi waktu tidak selalu memberi kesempatan kedua. Maka jangan menunggu kursinya kosong untuk merindukannya.

Pulanglah ketika Ayah masih bisa menyambutmu.

Dengarkan ketika suaranya masih bisa memanggilmu. Peluk ketika tubuhnya masih bisa membalas pelukanmu. _Dan selagi tangan tua itu masih mampu menggenggam tanganmu,jangan lepaskan.❤️

Jakarta, 3 Oktober 2026

Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *