Oleh: Prof. Asasriwarni*)
Dalam menjalani kehidupan, setiap manusia tentu berlomba-lomba melakukan kebaikan. Namun, dalam pandangan hikmah para ulama, ada kebaikan yang memiliki nilai lebih tinggi ketika dilakukan oleh orang dalam keadaan atau posisi tertentu.
Sebagian ulama ahli hikmah menyampaikan empat nasihat yang patut menjadi bahan renungan bagi setiap Muslim.
Pertama, sifat malu pada laki-laki adalah baik, tetapi sifat malu pada perempuan jauh lebih baik.
Malu merupakan bagian dari iman. Sifat haya’ (malu) menjadi benteng yang menjaga seseorang dari perbuatan tercela dan kemaksiatan.
Laki-laki yang memiliki rasa malu akan lebih mampu menjaga kehormatan dirinya. Namun, bagi perempuan, sifat malu menjadi salah satu perhiasan akhlak yang menjaga kehormatan, kesopanan, dan kemuliaan dirinya.
Malu bukan berarti tidak berani tampil atau menyampaikan kebenaran. Malu yang dimaksud adalah rasa takut kepada Allah SWT ketika hendak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran-Nya.
Kedua, berlaku adil kepada setiap orang adalah baik, tetapi keadilan seorang penguasa jauh lebih baik.
Keadilan merupakan fondasi kehidupan yang damai. Setiap orang dituntut untuk bersikap adil, baik dalam keluarga, lingkungan masyarakat, maupun dalam menjalankan amanah.
Namun, keadilan seorang pemimpin memiliki dampak yang jauh lebih luas. Keputusan seorang penguasa dapat menentukan nasib banyak orang. Ketika pemimpin berlaku adil, masyarakat akan merasakan ketenteraman. Sebaliknya, ketika kekuasaan digunakan untuk kepentingan pribadi dan kelompok, ketidakadilan akan melahirkan penderitaan.
Karena itu, jabatan dan kekuasaan bukanlah keistimewaan untuk mendapatkan penghormatan semata, melainkan amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Ketiga, tobat orang yang sudah lanjut usia adalah baik, tetapi tobat anak muda jauh lebih baik.
Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan dan dosa. Namun, sebaik-baik orang yang berdosa adalah mereka yang segera menyadari kesalahannya dan kembali kepada Allah SWT.
Tobat pada usia lanjut tentu merupakan kemuliaan. Akan tetapi, ketika seorang anak muda memilih bertobat, meninggalkan kemaksiatan, dan memperbaiki kehidupannya, itu merupakan kebaikan yang luar biasa.
Masa muda adalah masa ketika kesempatan, tenaga, dan keinginan sering kali begitu kuat. Jika pada usia tersebut seseorang mampu mengendalikan hawa nafsu dan memilih jalan ketaatan, maka ia sedang menyiapkan masa depan yang lebih baik, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.
Jangan menunggu tua untuk bertobat. Sebab, tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan menjemput.
Keempat, orang kaya yang bermurah hati adalah baik, tetapi orang fakir yang bermurah hati jauh lebih baik.
Memberi ketika memiliki harta berlimpah merupakan perbuatan terpuji. Namun, memberikan sesuatu ketika diri sendiri berada dalam keterbatasan membutuhkan keikhlasan dan kelapangan hati yang luar biasa.
Kemurahan hati tidak selalu diukur dari banyaknya harta yang diberikan, tetapi dari ketulusan dan pengorbanan di balik pemberian tersebut.
Orang miskin yang tetap mau berbagi, meskipun hidupnya sederhana, menunjukkan bahwa kekayaan sejati tidak hanya terletak pada banyaknya harta, melainkan pada luasnya hati dan kuatnya kepedulian terhadap sesama.
Allah SWT tidak hanya melihat seberapa besar pemberian seseorang, tetapi juga keikhlasan di balik amal perbuatannya.
MENJADI LEBIH BAIK ADALAH PERJUANGAN SEUMUR HIDUP
Empat nasihat tersebut mengajarkan kepada kita bahwa kebaikan bukan sekadar tentang apa yang dilakukan, tetapi juga tentang ketulusan, tanggung jawab, pengorbanan, dan kesungguhan dalam menjalankannya.
Ada pelajaran penting yang dapat kita petik: jangan pernah merasa cukup dengan kebaikan yang sudah kita lakukan. Teruslah berusaha meningkatkan kualitas iman, memperbaiki akhlak, menegakkan keadilan, menyegerakan tobat, serta membiasakan diri untuk berbagi.
Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu tua untuk bertobat. Jangan menunggu memiliki jabatan untuk berlaku adil. Dan jangan menunggu orang lain berbuat baik kepada kita untuk memulai kebaikan.
Sebab, kesempatan untuk berbuat baik adalah karunia Allah SWT yang tidak selalu datang dua kali.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita, melembutkan hati kita, memperbaiki akhlak kita, serta memberikan kekuatan untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada-Nya.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. []
Penulis adalah Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Sumbar, Anggota Wantim MUI Pusat, A’wan PB NU Pusat*
